Agar Karyawan Tetap Produktif Setelah Liburan, Ini Yang Harus Dilakukan Atasan

Setelah liburan panjang, biasanya kita akan menjumpai dua tipe karyawan. Yang pertama adalah mereka yang sudah cukup penyegaran tetapi tidak pergi ke kantor, dan yang kedua adalah karyawan yang benar-benar berharap agar liburan diperpanjang.

Kelompok pertama adalah orang yang sehari-hari bekerja dari rumah (work-from-home) dan yang satunya lagi adalah karyawan yang rutin datang ke kantor.

Karyawan tipe pertama ini memiliki waktu lebih untuk makan siang, untuk bepergian, menyusun “rencana hidup” mereka di masa depan dan melakukan banyak hal lain yang menghabiskan waktu dan uang. Pada dasarnya mereka telah mendapat liburan ekstra dari perusahaan mereka.

Itulah mengapa mereka lebih segar, meskipun modalnya juga tidak sedikit. Lalu ada juga tipe karyawan yang produktivitasnya menurun pada awal-awal masuk bekerja setelah liburan. Mereka masih belum bisa lepas dari suasana liburan yang menyenangkan. Mungkin mereka masih bersemangat melihat-lihat kembali foto perjalanan liburan mereka, mengedit dan kemudian berbagi pengalaman dengan kolega lain.

Menyikapi hal tersebut, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh perusahaan. Terutama melalui menajer atau supervisor yang berhubungan langsung dengan karyawan yang bersangkutan.

Dari smh.com, berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan oleh manajer untuk menyemangati pekerjanya yang kembali bekerja setelah lama berlibur:

– Menciptakan rasa kegentingan (sense of urgency)
Sebuah perusahaan yang hebat selalu punya cara untuk mengondisikan sebuah situasi emergency atau darurat di perusahaan baik itu situasi nyata atau hanya rekayasa. Mereka melakukan hal itu dengan selalu mengingatkan karyawan tentang kemungkinan adanya peluang maupun ancaman terhadap bisnis mereka. Adanya situasi genting — bukan panik– yang membuat peran mereka terasa sangat penting bagi perusahaan, terbukti dapat meningkatkan motivasi karyawan dari yang tadinya loyo setelah liburan.

– Menetapkan target yang sifatnya jangka pendek
Kadang-kadang deadline yang harus selesai selambatnya minggu pertama masuk kerja akan menjadi shocking-terapy yang bagus bagi karyawan. Masalahnya kita tidak mungkin berleha-leha ketika tahu bahwa ada tugas yang harus selesai dalam 5 hari ke depan. Dari yang awalnya liburan, mood karyawan mau tak mau aka berubah ke mood bekerja. Fenomena ini sebenarnya adalah peluang bagi para atasan untuk menggiatkan kembali karyawannya setelah liburan.

– Merayakan Keberhasilan yang terjadi di Awal (early wins)
Memberikan semangat untuk kembali bekerja dapat dilakukan dengan melakukan perayaan kecil akan keberhasilan suatu tugas atau proyek. Jika tadi kita telah menetapkan target yang sifatnya jangka pendek, maka jika target itu tercapai, akan sangat membantu jika kita melakukan sedikit selebrasi. Manajer yang baik tentunya akan menghargai keberhasilan kecil ini. Sebaliknya, manajer yang buruk akan membiarkan hal itu terlewat begitu saja karena ia sendiri masih terlena dengan nuansa liburan panjang.

– Membatasi Telecommuting
Kecuali jika perusahaan Anda adalah perusahaan yang memang mengharuskan karyawannya bekerja dari rumah, sebisa mungkin batasi “bekerja dari rumah”. Bekerja di rumah dalam suasana liburan memang sangat riskan. Kita akan kesulitan fokus karena bekerja setegah hati dan banyak terdistraksi oleh hal-hal menyenangkan yang dapat dilakukan di rumah. Skema telecommuting ini sebenarnya masih bisa dilakukan, hanya saja kita sebagai manajer harus pandai-pandai memilah. Misalnya saja bagi orang tua yang harus mengawasi anaknya ketika sekolah mereka libur. Pada dasarnya, berikan kemudahan bekerja dari rumah bagi karyawan yang benar-benar membutuhkan.

– Jangan terlalu banyak merancang rencana ke depan, perbanyaklah mereview kembali.
Sudah saatnya manajer berpikir ulang tentang agenda awal masuk kerja karyawan dalam tim-nya. Jika tadinya hari-hari awal bekerja digunakan untuk  sesi perencanaan target ke depan perusahaan atau rapat tanpa henti, maka pertimbangkan untuk menggantinya. Karyawan akan merasa jengah dengan hal-hal tersebut. Mereka akan menganggap bahwa masa awal kembali bekerja adalah hari dimana karyawan diajak untuk melakukan hal-hal yang ringan tanpa tekanan, bukan kegiatan yang krusial bagi perusahaan. Daripada menyusun perencanaan tersebut, akan lebih baik apabila Anda meminta karyawan untuk mengulas kembali proyek-proyek yang sudah kita lakukan dan menyelesaikan yang belum selesai. Dengan demikian, karyawan akan tetap berada pada lajur yang tepat.

– Berikan sedikit kejutan bagi karyawan.
Hari-hari awal masuk kerja adalah moment yang tepat untuk memberikan kejutan kepada karyawan. Misalnya saja memberikan promosi kepada karyawan, mengumumkan peraturan baru di perusahaan atau mengadakan kompetisi-kompetisi untuk melawan kemalasan bekerja. Kejutan ini akan memberikan terapi kejut yang membawa karyawan untuk kembali fokus pada pekerjaan dan merasa termotivasi untuk bekerja.

– Bertemu dengan klien
Masa awal kembali bekerja bisa saja menyenangkan jika diawali dengan bertemu dan mengobrol dengan klien, berbagi cerita tentang liburan masing-masing. Cara ini dianggap mampu untuk menaikkan kembali semangat “perjuangan” kita karena  inspirasi maupun peluang baru yang kita dengar dari klien itu.

– Jangan membahas tentang sulitnya kembali bekerja setelah liburan
Kadang-kadang kita terpancing untuk mengeluhkan atau sekedar membicarakan betapa beratnya meninggalkan kesenangan liburan untuk kembali bekerja. Tak perlu lagi mengenang enaknya besantai di pantai, berjalan-jalan bersama keluarga atau bahkan bisa bermalas-malasan seharian di rumah. Alasannya, apabila kita terus mengungkit tentang liburan, akan sulit bagi kita untuk move on dan kembali bekerja dengan penuh semangat.

Tags: