6 Hal ini Berpotensi Gagalkan Kita Dapat Pekerjaan

Kita tentu sering mendengar nasihat-nasihat agar terhindar dari kesalahan ketika melakukan interview. Hal tersebut mulai dari berpakaian yang kurang sesuai, kesalahaan ejaan dalam CV atau datang terlambat ketika interview. Pada dasarnya, lepas dari kesalahan fatal yang bisa dilihat secara kasat mata tersebut, ada beberapa hal yang juga perlu kita perhatikan menyangkut beberapa hal yaitu:

1. Membicarakan uang sebelum mendapatkan pekerjaan

Uang memang penting, semua orang membutuhkannya dan kita tidak akan senang mengerjakan tugas dengan bayaran yang tidak sesuai. Meskipun demikian, Lesley Mitler, president dari career coach service Priority Candidates, Inc mengungkapkan bahwa tidak seharusnya kita terlalu ngotot tentang gaji sebelum jelas akan mendapatkan pekerjaan yang kita lamar.

Pernyataan seperti, “Aku tidak akan mengambil pekerjaan ini jika tidak digaji sekian”, seharusnya dihindari . Selain terlalu awal untuk dibicarakan sebelum kita tahu tugas kita, hal itu juga mengesankan bahwa kita lebih peduli dengan uang daripada pekerjaan. Implikasinya bagi pemberi kerja, nantinya karyawan tersebut tidak akan bekerja secara bersungguh-sungguh.

Baca juga: Mencari Kerja Lewat Jejaring Sosial

2. Tidak professional di social media

Diinginkan atau tidak, adakalanya calon pemberi kerja mengintip karakter kandidatnya melalui social media yang dimiliki oleh kandidat tersebut. Oleh karena itu, kita harus bijak dalam mengelola social media.  Neal Schaffer, penulis buku Maximize Your Social, mengungkapkan, “you are what you tweet”. Tweet yang kita posting adalah cerminan dari kepribadian kita. Meskipun kita merasa bahwa kita memiliki kebebasan untuk berekspresi di social media asal tidak terlalu vulgar atau terang-terangan, calon pemberi kerja tak selalu berpikir demikian. Mereka melihat brand kita dari apa yang dia bisa temukan di social media tersebut. Contohnya saja ketika kita merasa frustasi kemudian mengeluh di social media, calon pemberi kerja akan menilai bahwa kita kurang dewasa dan tidak sabaran.

Oleh karena itu, ketika kita putus asa dan butuh meluapkan kekesalan, menurut Scaffer, tidak seharusnya diungkapkan di sosmed. Lebih baik kita bercerita dengan teman yang mungkin justru akan memberi kita masukan. Pun pemberi kerja tidak salah kaprah dengan branding yang kita ciptakan sendiri di sosial media. Pikirkan apa reaksi calon pemberi kerja ketika membaca tweet/status kita sebelum di-post.

Lepas dari kesalahan yang mungkin kita lakukan di social media, kita bisa memanfaatkannya untuk mendukung karir kita. Misalnya adalah dengan mem-follow perusahaan yang ingin kita masuki jauh sebelum kita melamar kerja. Sehingga ketika kita diinterview, kita lebih menguasai materi tentang perusahaan yang akan kita masuki.

3. Membawa dan membuat Catatan

Membawa catatan saat interview bukanlah ide yang bagus. Sementara kita membawa catatan karena ingin terlihat tekun dan terorganisir, kenyataannya justru pewawancara melihat sebaliknya. Kita berusaha membangun sebuah hubungan dengan pewawancara, di sisi lain kita menyuguhkan adegan seperti di perkuliahan.

Wawancara kerja, seperti halnya kita melakukan kencan dengan pasangan, dan itu artinya kita tidak perlu membawa atau membuat catatan. Kita seharusnya bisa memberikan perhatian penuh dan mengingat apa yang pewawancara katakana, jika tidak kita masih tetap boleh bertanya.

4. Memaparkan Kelebihan seolah-olah sebagai kelemahan kita

Terdorong oleh keinginan kita untuk diterima kerja di perusahaan yang kita inginkan, kadang kita menjadi selalu ingin tampil sempurna sehingga layak direkrut. Manifestasinya, ketika pewawancara menanyakan pertanyaan, “Apa kelemahan Anda?” kita cenderung mengungkapkan kelebihan kita dan berpura-pura bahwa itu adalah kekurangan.

Misalnya saja, “Saya adalah orang yang perfeksionis”. Pada dasarnya, perfeksionis bukanlah benar-benar sebuah kelemahan, bahkan bisa dikatakan kelebihan. Padahal, ketika bertanya tentang kelemahan kita, si pewawancara memang ingin tahu kelemahan kita yang sebenarnya, sama halnya seperti ketika ia bertanya tentang kelebihan.

Tipsnya, untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita boleh mengungkapkan apa sebenarnya yang menjadi kelemahan kita. Lalu, jabarkan pula bagimana kita berupaya men-training diri kita sendiri dan berubah untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

5. Selalu memiliki semua jawaban dari pertanyaan

Hal ini serupa dengan ketidakmampuan kita mengatakan, “saya tidak tahu”, meskipun kita sebenarnya memang tidak tahu jawabannya. Pewawancara akan melihat ini sebagai hal yang tidak mengesankan dari karakter kita. Oleh karena itu penting bagi kita untuk menjadi jujur ketika menghadapi wawancara. Jawaban ngawur hanya akan membuat kita terlihat berpotensi menutup-nutupi fakta ketika telah bekerja nanti.

Pewawancara bahkan akan dengan sengaja menanyakan pertanyaan yang dia tahu kita akan sulit menjawabnya, hanya untuk mendengar jawaban “saya tidak tahu” dari mulut kandidat. Setidaknya, jika kita mengakui keterbatasan kita, perusahaan dapat membantu kita jika kesulitan atau bisa melakukan sesuatu untuk mengoptimalkan kinerja kita.

6. Tidak Memiliki Akun LinkedIn

Memiliki akun linkedin dengan konten profile yang baik, adalah sebuah keunggulan. Di era yang serba digital ini, semua hal menjadi berkaitan erat dengan sosial media. LinkedIn membantu pemberi kerja melihat siapa oran-orang yang berada dalam networking kita dan siapa yang memberi rekomendasi.

Bayangkan saja jika kita harus bersaing dengan ribuan pelamar kerja, lalu perusahaan tertarik dengan kita. Selanjutnya, calon pemberi kerja tersebut menulis kata kunci tentang diri kita di google untuk melihat lebih jauh siapa kita sebenarnya. Dan ia pun harus kecewa karena tidak menemukan petunjuk apapun. Jadi, mulai sekarang, perbaikilah akun linkedIn yang kamu miliki.

Baca juga: Kesalahan Umum Fresh Graduate Ketika Mencari Kerja

Tags: ,