5 Langkah Rekrutmen yang Menjauhkan Kandidat Berkualitas

p>Jumlah angkatan kerja terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Bahkan di Indonesia, berdasarkan laporan BPS bulan Agustus 2012, jumlah tenaga kerja meningkat sebanyak 670 ribu orang dari tahun sebelumnya. Namun, di tengah lonjakan tenaga kerja tersebut, perusahaan, terutama praktisi HR masih mengeluhkan masalah sulitnya mencari talent yang tepat sesuai kualifikasi yang diinginkan perusahaan.

Seperti dilansir dari businessweek.com, kebanyakan perusahaan lebih memilih kandidat yang bersedia mengikuti dan memenuhi persyaratan atau proses seleksi yang kompleks yang mereka susun. Padahal, tidak semua talent yang kompeten adalah compliant, yakni orang yang tekun mempersiapkan semua persayaratan yang diajukan perusahaan.

Berikut adalah lima cara perekrutan yang sering dilakukan perusahaan, yang ada kalanya justru dapat mengurangi potensi menjaring talent berkualitas:

1. Job description yang terlalu mendetail dan daftar kualifikasi lengkap

Dalam memasang iklan lowongan kerja, kadang perusahaan menyantumkan daftar job description atau kualifikasi dengan sangat mendetail. Seharusnya, perusahaan tidak perlu terburu-buru menyampaikan misi, tetapi lebih menggambarkan jobdesc sewajarnya tanpa tuntutan yang terlalu mendetail. Terlebih lagi jodesc yang bersifat “menyingkirkan” kandidat dari awal seperti, “ Hanya pelamar yang memiliki keterampilan ini itu yang diperbolehkan.”

2. Website perusahaan yang menyulitkan

Perusahaan mengharuskan kandidat untuk melakukan tahapan rekrutmen melalui website yang sulit diakses. Misalnya saja web yang kontennya terlalu berat. Pelamar yang tidak memiliki akses internet berkecepatan tinggi harus menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer untuk mengikuti proses rekrutmen.

3. Memberikan screening test dan requirement tambahan

Kandidat diminta melewati screening test tanpa mereka tahu apa yang dicari perusahaan. Perusahaan juga meminta persyaratan-persyaratan tambahan kepada karyawan selama mengikuti proses rekrutmen.

4. Pemanggilan interview yang terlalu lama

Pihak perusahaan memerlukan waktu yang terlalu lama dalam memproses aplikasi pelamar. Misalnya saja satu atau dua bulan kandidat baru dipanggil interview. Selanjutnya, pewawancara membuat para kandidat terlalu lama mengunggu di lobi dan marah jika pelamar menanyakan kondisi riil yang terjadi di perusahaan.

5. Memberikan penawaran yang bernada menyepelekan

Setelah proses rekrutmen selesai, pewawancara tidak memberikan jawaban yang tegas mengenai kapan hasil seleksi akan disampaikan. Lebih parah lagi, mereka lantas mengirim jawaban via email dengan mengatakan hal-hal yang bernada meremehkan seperti, “Jika kami belum menerima letter of acceptance dari Anda dalam waktu 1 x 24 jam maka Anda dianggap menolak tawaran kami.”

Intinya, perusahaan harus menyadari bahwa mereka berada di tengah persaingan untuk mendapatkan kandidat-kandidat terbaik. Untuk itu, departemen HRD harus melek informasi perkembangan tentang berbagai alternatif perekrutan yang dapat mengakomodasi kebutuhan perusahaan.

zp8497586rq
zp8497586rq
Tags: