5 Cara Tingkatkan Produktivitas Dengan Telecommuting

Hiruk pikuk permasalahan ibu kota masih belum usai, kemacetan lalu lintas dari hari ke hari semakin tak bersahabat. Sembari menunggu Bapak Gubernur berjibaku dengan proyek-proyeknya, mungkin perusahaan bisa menyodorkan alternatif telecommuting untuk menyiasati kemacetan agar produktivitas kerja karyawan tidak menurun.

Eric V. Holtzclaw, pendiri Laddering Works mewawancarai beberapa CEO baru-baru ini. Ia tercengang saat mengetahui masih banyak perusahaan yang tidak mengizinkan karyawannya untuk bekerja dari rumah. Menurutnya tekonologi telah memungkinkan karyawan untuk tetap produktif dari tempat mana pun. Karena itu menurutnya, menghindari kerja fleksibel adalah hal yang kuno.

Bahkan ia mengakui, beberapa dokumen penting dan tulisannya mengalir deras saat ia duduk di Starbucks atau di meja makan rumahnya. Dan sepanjang karirnya, penerapan telecommuting membuat sebagian karyawannya bekerja lebih bahagia bahkan semakin produktif.

Tetapi Eric menekankan, bahwa telecommuting bukan perkara ringan. Perusahaan harus melaksanakannya dengan benar untuk mendapatkan manfaat yang besar. Berikut adalah 5 syarat agar telecommuting atau kebijakan bekerja dari rumah berjalan dengan baik:

1. Tetapkan Aturan dan Tujuan

Para pebisnis sudah mulai menghindari peraturan yang kaku. Kini mereka menyadari bahwa menerapkan kelonggaran akan membuat perkembangan organisasi berjalan lebih sehat. Namun menurut Eric, keluwesan itu tidak berlaku di telecommuting. Perusahaan atau atasan seharusnya menjabarkan apa saja target dan aturan yang harus dipenuhi karyawan selama telecommuting.

Tetapkan sebuah pedoman mengenai bagaimana dan kapan telecommuting diperbolehkan. Seperti apakah mereka nyaman dengan bekerja dari rumah? Apakah mereka bisa tetap memenuhi target yang diberikan? Apakah jadwal fleksibel itu hanya berlaku di hari Jumat atau sekali dalam seminggu? Apakah Anda keberatan jika karyawan Anda bekerja dari rumah setelah mereka melakukan liburan? Penetapan kebijakan dan prioritas perusahaan tersebut akan membantu menyimpulkan apakah telecommuting itu bisa efektif atau malah berantakan.

2. Gunakan Telecommuting dengan Benar

Berikan perbedaan yang jelas antara bekerja dari rumah dengan hari liburan. Eric mengatakan bahwa ia memberikan izin telecommuting kepada karyawan yang telah memiliki janji untuk ke dokter atau mengecek kesehatannya. Karena menurut pengalamannya, karyawan yang keluar masuk kantor akan menganggu suasana kerja dan membuat dirinya kurang produktif. Dengan kerja fleksibel mereka tetap akan menyelesaikan tugasnya walau tidak datang ke kantor.

Di sisi lain, telecommuting tidak berlaku untuk karyawan yang terpaksa harus tinggal di rumah dikarenakan anaknya sakit. Anda akan sia-sia untuk memaksa mereka bekerja, karena fokus mereka tidak kepada pekerjaan mereka.

3. Percaya Tetapi Tetap Terkoneksi

Jika Anda mengkhawatirkan produktivitas karyawan Anda saat tidak bertemu mereka di kantor, maka gunakan teknologi untuk membuat Anda percaya. Sebagai contoh, bila Anda masih di luar kantor, Anda masih bisa melakukan komunikasi face to face dengan teleconference atau Skype dari mana saja. Mereka juga seharusnya masih bisa dihubungi via telepon dan menjawab email sama cepatnya jika mereka berada di kantor. Dengan alat komunikasi yang terus berada di tangan, maka Anda bisa memanfaatkan instant message untuk tetap terus terhubung dengan karyawan Anda kapan pun dan di mana pun.

4. Berikan Penilaian

Siapkan penilaian untuk pekerjaan mereka yang dilakukan selama telecommuting. Seperti, apakah customer mereka bertambah atau berkurang selama bekerja dari rumah?  Apakah laporan yang Anda minta selesai tepat deadline? Biasanya telecommuting bermanfaat saat karyawan sedang membuat laporan, mereka akan lebih tenang jika bekerja dari rumah atau kafe karena akan terhindar dari gangguan sekeliling.

5. Jangan Paksa Semua Karyawan

Tidak semua orang bisa melakukan telecommuting. Beberapa karyawan ada yang membutuhkan struktur dan literatur dalam bekerja, mereka terbiasa dengan pengawasan ketat. Buat sistem yang bisa mengukur produktivitas kerja karyawan Anda, apakah perusahaan rugi jika karyawan bekerja jarak jauh atau sebaliknya. Eric terkesan dengan salah seorang karyawannya yang mengakui bahwa dirinya tidak bisa fokus saat bekerja dari rumah. Karyawannya itu menyadari ketidakmampuannya dalam ber-telecommuting.

Dalam hal ini, manajer harus peka dengan karakter dan gaya masing-masing karyawan dalam bekerja. Jangan sampai kelonggaran kerja justru menurunkan performa karyawan terbaik Anda. Oleh sebab itu Eric menghimbau perlunya manajemen yang benar untuk penerapan teelcommuting di masing-masing perusahaan. Telecommuting dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan Anda, jika ditangani secara efektif. Selain meningkatkan produktivitas kerja, telecommuting bisa membuat perusahaan Anda lebih unggul dibandingkan pesaing Anda.

Tags: ,