5 Cara Fun untuk Sukses

Kesuksesan menjadi tujuan hampir semua orang di dunia. Namun, sering kali ketika kita membaca artikel tentang kiat-kiat untuk sukses, itu selalu melibatkan cara-cara yang “menyakitkan” seolah sukses hanya milik mereka yang tahan tekanan. Lalu, bisakah sukses digapai dengan cara “menyenangkan”? Merujuk dari hasil riset yang dilakukan Shawn Anchor penulis buku The Happiness Advantage, jawabannya adalah bisa.

Dari hasil penelitiannya selama kuliah di Harvard, ia membuktikan bahwa salah satu faktor yang memicu kesuksesan adalah kebahagian (happiness). Dalam penelitiannya tersebut, alih-alih menghapus sampel orang-orang yang “aneh” dalam artian lain dari yang lain, ia justru mempelajari orang-orang tersebut. Mereka adalah responden yang berlaku anomali, misalnya di dalam kelas yang rata-rata siswanya nilainya buruk, mereka bisa punya nilai bagus. Atau di sebuah departemen sales yang rata-rata hasilnya mengecewakan, ia bisa dapat banyak. Orang-orang yang tidak biasa itulah yang diteliti. Dirangkum dari penelitiannya tersebut, berikut adalah beberapa hal yang disarankan oleh Shawn agar kita dapat meraih sukses dengan cara yang “fun”:

1. Sukses tidak membuat kita bahagia. Kebahagianlah yang membuat kita sukses

Sebagian orang ingin sukses dalam pekerjaannya dengan harapan bahwa ia akan bahagia. Misalnya seorang sales ingin mencapai penjualan yang tinggi atau mahasiswa menginginkan GPA yang bagus agar menjadi bahagia dengan pencapaiannya. Penelitian Shwan tidak berkata demikian. Kebahagianlah yang justru mendorong sukses itu terjadi. Suatu pencapaian hanya akan membuat kita lebih bahagia tetapi bukan penentu dari bahagia itu sendiri. Nyatanya, orang-orang yang bekerja dengan rasa optimis dan bahagia hasil kerjanya meingkat secara drastis

MET Life pun menyatakan hal yang sama berkaitan dengan optimisme ini. Dalam surveynya terhadap sekelompok awak penjualan, didapatkan hasil bahwa orang-orang dengan optimisme menjual 19% lebih banyak di tahun pertama dan 57% lebih banyak di tahun kedua dibandingkan dengan sales biasa.

Masih menurut Shawn, skill teknis dan kecerdasan kita hanya berkontribusi 25% dalam menentukan kesuksesan. Sisanya sebesar 75% ditentukan oleh optimisme, social connection, dan bagaimana kita mengelola stress atau tekanan.

Baca juga: Apa yang dilakukan orang sukses sebelum sarapan?

2. Melihat hambatan sebagai tantangan

Shawn melakukan riset pada para bankers pada masa-masa krisis untuk menyelidiki hal ini. Nyatanya, dalam masa sulit tersebut, tidak semua banker menjadi sedih, tetapi justru sebaliknya. Setelah diteliti, didapatkan hasil bahwa orang-orang tersebut melihat masalah atau hambatan yang mereka hadapi sebagai tantangan. Dan bagusnya, mindset positif ini bisa dipelajari. Hanya dengan memperlihatkan kepada banker biasa tentang video tentang cara melihat stress sebagai tantangan, para banker biasa tersebut dapat menjadi super beberapa minggu setelahnya.

3. Jika pekerjaan bertambah, tambah juga pertemanan Anda

Selama menyelesaikan program undergraduate di Harvard, Shawn mengamati bahwa biasanya, orang-orang yang merasa stress dengan tugas kampus, akan mengurung diri di perpustakaan atau membeli camilan yang banyak agar bisa belajar di kamar. Menurutnya, justru orang-orang inilah yang pada akhirnya harus ditransfer ke universitas lain karena tidak berhasil dengan studinya. Fenomena tersebut membuktikan bahwa ada cara yang lebih baik untuk mengelola stress daripada bekerja mati-matian. Cara tersebut adalah dengan mendapatkan “social support”.

Ketika menghadapi masalah, cobalah berinteraksi dengan orang lain. Sosial connection bisa menjadi penentu dari kesuksesan akademik seseorang. Namun, bagi kita yang sudah bekerja dan ingin mendapatkan promosi dan kenaikan produktivitas, membangun koneksi saja tidak cukup. Pastikan bahwa Anda membangun koneksi dan dalam waktu bersamaan juga memberikan sosial support pada orang lain. Hal ini ditegaskan oleh penelitian dari Adam Grant, professor di Wharton yang menyatakan bahwa orang yang mau menyediakan social support, biasanya akan mendapatkan benefit yang lebih besar dari situ.

4. Mengirimkan ucapan terima kasih setiap pagi

Adakalanya kita berpikir bahwa kebahagian muncul karena sebuah kemenangan besar atau pencapaian yang bagus. Padahal tidak selalu demikian. Kebahagian dapat kita ciptakan dari hal yang sangat kecil. Shawn menyarankan bahwa daripada kita berpikir tentang menaklukan hal-hal besar, akan lebih baik jika kita memikirkan hal-hal kecil tersebih dahulu, seperti gosok gigi misalnya.

Salah satu cara sederhana mendapatkan kebahagian adalah dengan mengucapkan terima kasih. Karena dengan begitu, kita bisa mengingat hal-hal apa saja yang bisa kita syukuri dalam hidup kita. Shawn memberikan tiga alternatif sederhana untuk meningkatkan kebahagiaan yakni dengan mendaftar hal-hal yang pantas kita syukuri, melakukan meditasi dan olahraga.

5. Aturan 20 detik

Ada satu hal yang menurut Shawn paling sering menggagalkan niat seseorang untuk berubah. Hal itu adalah “activation energy” atau energi yang kita gunakan untuk memulai sesuatu. Dengan kata lain, kita selalu merasa berat untuk memulai sesuatu.

Menyiasati hal tersebut, kita dapat menerapkan aturan 20 detik. Konsepnya adalah kita mereduksi waktu persiapan selama 20 detik. Misalnya ketika merencanakan untuk pergi ke gym di pagi hari, kita bisa mengurangi kemalasan dan waktu persiapan dengan tidur memakai baju gym dan meletakkan sepatu di samping tempat tidur. Shawn mengatakan bahwa dengan rutin mengurangi beban bersiapan ini sebesar 3 sampai 20 detik, maka produktivitas kita akan meningkat secara drastis.

Baca juga: Ingin Sukses? Bersikaplah seperti orang sukses 

Tags: ,