4 Cara Mengubah Bad Mood menjadi Good Mood

day-960052_640

Dalam kehidupan sehari-hari, kita memang tidak bisa menghindari beberapa hal atau peristiwa yang menjadikan hari kita menjadi buruk, dan membuat mood kita menjadi berantakan. Misalnya saja pagi-pagi Anda sudah harus menghadapi partner kerja yang menyebalkan, baju putih tertumpah kopi dan sebagainya. Hal-hal semcam itu tentunya dapat menimbulkan emosi negatif dalam diri kita dan berdampak pada produktivitas kita.

day-960052_640

(Sumber image: pixabaycom)

Berita bagusnya, sebetulnya kita masih bisa mengubah rasa sedih dan kesal tersebut menjadi sebuah kebahagian. “Bahagia itu adalah sebuah pilihan,” ujar Shawn Achor, penulis buku ‘The Happiness Advantage’. Ia juga menjelaskan bahwa seburuk apapun kejadian yang menimpa, kita harus fokus pada sisi-sisi positif dari kejadian tersebut. Sebuah riset menunjukkan bahwa dengan berpikir positif, Anda menjadi 30% lebih produktif, 40% lebih mungkin mendapat peluang dan 23% lebih kecil kemungkinannya untuk mendapatkan masalah kesehatan yang berhubungan dengan stress.

Sedangkan Annie McKee, pengarang buku ‘Primal Leadership’ mengatakan bahwa emosi negatif itu seperti layaknya api yang liar, yang mudah sekali menyebar. Dampaknya tidak hanya mempengaruhi diri sendiri tetapi juga orang lain. Lalu, langkah apa yang harus kita lakukan jika kita sedang berada dalam situasi mood yang tidak baik dan ingin mengubah keadaan?

1. Mengidentifikasi Akar Permasalahannya

Semakin cepat Anda mengenali situasi mood Anda, akan semakin cepat penanganannya. Misalnya, Anda merasakan emosi Anda tidak sebahagia biasanya, segeralah mencari tahu apa penyebabnya. Salah satu contohnya adalah dengan mengatakan, “Saya bersedih karena berselisih dengan teman kerja.” Sangat penting untuk menyebutkan secara jelas penyebab kekesalan Anda agar lebih mudah mengatasinya.

Jadi, daripada kalimat sederhana seperti, “saya sedang bingung”, lebih baik diperjelas menjadi, “saya bingung karena tidak bisa mengerjakan tugas sesuai deadline”. Mengenali penyebab yang konkret dari kekesalan Anda membantu Anda untuk berbuat sesuatu untuk bangkit dari kekesalan tersebut.

Baca juga: Orang Hebat Menghilangkan 10 Kebiasaan Buruk Ini

2. Meluangkan sedikit waktu untuk bersyukur

Salah satu cara paling sederhana untuk terus fokus pada pemikiran positif adalah dengan selalu bersyukur mengenai aspek apapun dalam hidup kita. Bisa saja itu tentang keluarga, pekerjaan, pertemanan dan hal-hal lainnya. Sebuah studi tentang aktivitas neuron mengemukakan hasil bahwa hampir tidak mungkin seseorang merasakan depresi pada saat yang sama ia bersyukur atas apa yang sedang dialaminya.

Rasa syukur adalah penangkal dari rasa depresi dan tertekan yang Anda rasakan. Jadi ketika rasa sedih mendera, segeralah mengingat hal-hal menyenangkan yang dapat Anda syukuri. Karena seburuk apapun hari kita, biasanya masih ada sisi lain dalam kehidupan kita yang berjalan dengan lancar. Ungkapkan rasa syukur tersebut dalam bentuk pernyataan lisan atau bisa juga ditulis. Melakukan hal ini akan membantu Anda untuk mendapatkan perspektif baru dari kejadian kurang menyenangkan dalam kehidupan Anda.

3. Mengambil Tindakan

Jika Anda merasa sedang dihinggapi perasaan negatif, maka ambillah suatu tindakan nyata dan bukan hanya tenggelam dalam pikiran negatif tersebut. Misalnya saja Anda memiliki pekerjaan kecil yang tertunda, mengirim email ke klien misalnya, segera lakukan hal tersebut. Selain mengalihkan kita dari perasaan negatif, langkah konkret ini juga membuat kita lebih produktif. Tindakan yang kita ambil pun sebetulnya tidak harus sesuatu yang menyangkut pekerjaan. Bisa saja dengan makan buah-buahan untuk camilan atau hal-hal positif lainnya. Achor mengatakan bahwa otak kita didesain untuk bisa merekam sebuah kemenangan atau keberhasilan. Oleh karena itu, jika tindakan yang kita ambil memiliki dampak positif terhadap orang lain, efeknya pada diri sendiri akan lebih baik.

4. Mengubah Rutinitas

Jika Anda merasa kacau, jagan hanya berdiam diri di belakang meja di ruangan Anda. Sempatkan untuk keluar ruangan. Pemandangan baru akan memberikan sinyal ke otak bahwa mood yang Anda rasakan saat itu tidak perlu bertahan lama. Berjalanlah keluar jika memungkinkan atau jika tidak, Anda bisa sekedar pindah ruangan. Intinya adalah Anda mengalami perpindahan posisi secara fisik.

Selain berpindah tempat, kita juga bisa meredakan mood buruk dengan mendengarkan musik atau membaca berita. Namun, konten yang dibaca pun harus disaring. Jangan membaca berita-berita dengan konten negatif. Jika Anda membacanya satu baris, imbangi dengan berita positif sebanyak dua baris. Karena berita bernuansa negatif justru dapat merusak hari Anda.

Baca juga: Tulis Kebahagiaan Anda Sendiri

5. Buatlah Ekspektasi yang Realistis

Ekspektasi berpengaruh besar untuk situasi hati Anda. Contohnya adalah ketika ekspektasi Anda penerbangan Anda akan batal, tapi ternyata hanya delay 3 jam, Anda akan merasa senang. Sebaliknya, jika Anda berpikir akan tiba di kantor tepat waktu, sedangkan pada kenyataannya Anda telat, maka perasaan Anda menjadi kurang enak.

Banyak sekali kasus bahwa hari buruk timbul karena Anda gagal memenuhi ekspektasi Anda yang kurang realistis. Untuk mengatasinya, buatlah narasi baru tentang ekpekstasi dan susunlah serealistis mungkin. Tulislah pencapaian-pencapaian yang telah Anda lakukan kemudian tuliskan target Anda pada hari itu. Pastikan bahwa target tersebut realistis dan memungkinkan untuk diselesaikan di hari itu.

6. Belajar dari kejadian buruk yang Anda alami agar dapat menghindarinya di kemudian hari

Saat Anda berhadapan dengan hari buruk, langkah terbaik yang bisa Anda lakukan adalah belajar dari kejadian tersebut. Pelajari kesalahan apa yang telah Anda lakukan, apa yang salah kemudian tulis dan cari solusinya. Dengan pemahan tentang apa yang salah dan juga solusinya, Anda dapat menghindar dari kesalahan yang sama di masa depan. Selanjutnya, Anda juga perlu mencari tahu apakah pekerjaan Anda terlalu banyak ketika sedang mengalami hari buruk. Banyak sekali riset yang mengungkapkan bahwa ketika kita bekerja lebih dari 55 jam dalam satu minggu, level rasa bahagia dan engagement terhadap pekerjaan menjadi menurun. (*)