7 Hal Ini Cerminkan Cara Anda Menghabiskan Waktu Kerja

stress-540820_640

Ketika Anda merasa bahwa Anda hampir gagal mengerjakan tugas-tugas di kantor atau pekerjaan yang berhubungan dengan kelangsungan karir Anda, biasanya Anda akan mengerahkan segala cara dan mayoritas waktu Anda untuk memperbaiki hal itu. Deadline dan berbagai kebutuhan datang bertubi-tubi dan harus segera dipenuhi.

Hal itu membuat Anda melewatkan beberapa acara yang mungkin Anda anggap kurang penting seperti bertemu dengan teman, berkumpul dengan keluarga dan bahkan kegiatan-kegiatan menyenangkan lainnya.Kebiasaan seperti itu mungkin memang tepat untuk dilakukan jika Anda dalam keadaan darurat atau memang ada suatu acara yang harus dipersiapkan dalam waktu dekat.

stress-540820_640

(Sumber image: pixabaycom)

Baca juga: Karyawan Membuang Waktu 3 Jam dari 8 Jam Kerja Setiap Hari

Akan tetapi, tidak jarang kita melakukan hal tersebut hanya karena kita tidak tahu cara bekerja atau mengelola waktu dengan lebih cerdas. Tak terhindarkan, waktu yang Anda miliki pun terbuang sia-sia untuk mengerjakan hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Agar tidak menyesal di masa depan, penting bagi kita memang untuk kembali berpikir apakah kita telah memanfaatkan waktu sebaik mungkin atau belum.

Lalu, apakah Anda termasuk orang yang sering kali menyia-nyiakan waktu?

Berikut adalah beberapa hal yang dapat dijadikan tolok ukur bahwa kita masih belum bisa mengelola waktu secara optimal, seperti dikutip dari hbr.org.

1. Kurang Perhatian.

Jika di suatu titik Anda merasa tidak tahu tentang apa yang harus Anda lakukan di satu waktu, mungkin itu artinya Anda gagal mengindentifikasi prioritas hidup Anda. Apabila dibiarkan, di masa depan Anda akan merasakan kehilangan yang sangat besar, yakni tahun-tahun berlalu tanpa sedikit pun hasil nyata yang bisa dibanggakan . Untuk menghindari hal tersebut, mulailah untuk merekam aktivitas Anda sehari-hari misalnya dengan mencatatnya sehingga Anda dapat melihat bagian mana yang harus dikurangi atau ditambah.

2. Membiarkan orang lain mencuri waktu Anda.

Seorang marketer, berusaha keras untuk dapat berbicara dan mengambil waktu Anda sebanyak-banyaknya. Demikian juga orang-orang di sekitar Anda, ada saatnya mereka memiliki keinginan yang sama. Teman-teman kantor bisa saja mengajak hang out selepas kerja, teman-teman komunitas menawari kita dengan kegiatan sukarelawan yang menarik untuk diikuti, dan sebagainya.

Hal ini tidak hanya terjadi secara offline, social media adalah contoh yang nyata bahwa waktu kita sering kali banyak tercuri. Untuk mengantisipasi banyaknya waktu kita yang dicuri orang lain, mulai sekarang, kita harus berani untuk berkata “tidak” pada setiap tawaran orang lain, terutama jika kegiatan yang ditawarkan tidak memberikan kontribusi positif terhadap target hidup yang ingin kita capai.

Baca juga: Cara Menghindari Si Pencuri Waktu

3. Mengesampingkan Teman dan Keluarga.

Di tengah deadline dan kebutuhan yang datang bertubi-tubi, sering kali kita mengesampingkan kegiatan yang berhubungan dengan keluarga atau teman. Meskipun tampak tidak mendesak, sebetulnya kegiatan keluarga bisa menjadi sangat penting. Kualitas waktu bersama keluarga dan teman-teman, seperti makan malam bersama, menonton konser atau sekedar mengobrol di kafe dengan teman lama, tidak terjadi setiap saat.

Oleh karena itu, tidak ada salahnya kita justru memprioritaskan acara-acara tersebut. Perjumpaan dan aktivitas bersama keluarga justru dapat menjadi dukungan bagi Anda dalam mengerjakan tugas kantor. Mereka membuat Anda menjadi lebih mantap terhadap visi Anda dalam bekerja sehingga komitmen Anda pun bertambah.

4. Melewatkan Liburan.

Melakukan kegiatan menyenangkan di luar rutinitas, tidak hanya mempererat hubungan persaudaraan dengan teman atau keluarga, tetapi juga menambah pengalaman. Kegiatan ini pun mampu mereduksi stress yang kita alami sebagai dampak dari tekanan kerja sehari-hari.

Sebuah riset mengatakan bahwa kebiasaan melewatkan liburan dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit jantung dan darah tinggi. Penelitian selama sembilan tahun terhadap 1.200 pria dengan risiko tinggi terserang jantung koroner, memiliki kecenderungan 32% lebih tinggi meninggal karena serangan jantung jika mereka tidak melakukan liburan setidaknya satu tahun sekali.

Liburan adalah kebutuhan yang krusial. Jadilah proaktif dalam merencanakan liburan Anda. Jika Anda terus berkata “nanti saja”, suatu saat Anda akan mendapati diri Anda tidak pernah meninggalkan kantor karena merasa diburu oleh pekerjaan.

5. Tak Menghiraukan Kesehatan.

Tidur yang cukup, makan yang bergizi dan secara rutin berolahraga terbukti dapat meningkatkan kebahagiaan seseorang dalam hidupnya. Kerja keras dalam mengatur pola makan dan menjaga kesehatan ini akan lebih terasa 20 tahun kemudian dari umur Anda sekarang.

Di masa itu, Anda akan menjadi lebih bahagia dan bentuk badan pun lebih bagus dari mereka yang tidak menjaga badan. Keuntungan lain, Anda menjadi jarang berkunjung ke rumah sakit, meminum obat, dan menjalani treatmen kesehatan yang menyakitkan. Oleh karena itu, sedari sekarang, biasakan untuk berolah raga dan makan makanan bernutrisi.

6. Menghabiskan banyak waktu demi menghemat uang.

Menghemat uang memang baik. Hanya saja, menghemat uang tetapi harus menghabiskan lebih banyak waktu tidak selalu menjadi pilihan yang baik. Waktu yang hilang, yang seharusnya bisa kita selamatkan dengan uang tersebut bisa kita alokasikan kepada kegiatan yang sebetulnya jauh lebih berharga dari uang yang berhasil kita hemat.

Misalnya saja, ketika berangkat ke suatu tempat, daripada naik kereta, lebih baik naik taxi atau ojek karena naik kereta membutuhkan lebih banyak waktu untuk mencapai tujuan. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menghemat waktu misalnya menyewa cleaning service daripada harus membersihkan rumah sendirian, memperkerjakan asisten pribadi daripada kita juga harus melakukan kegiatan-kegiatan perintilan yang sebetulnya mudah dilakukan tetapi memakan banyak waktu. Dengan menghemat waktu, Anda memiliki kesempatan lebih banyak untuk mengembangkan diri Anda.

7. Tidak Mengenali Kemauan Diri Sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, sangat gampang bagi kita kehilangan arah tetang siapa diri sendiri, apa yang sebetulnya kita mau, apa yang disenangi, dan bahkan tujuan hidup kita sendiri jangka panjang. Hal tersebut akan dengan mudah terjadi apabila kita tidak menyempatkan waktu untuk melakukan refleksi terhadap keinginan diri sendiri.

Refleksi tersebut dapat kita lakukan dengan berbagai cara misalnya dengan melakukan perjalanan, mencatat keinginan-keinginan dan keseharian kita, berdo;a atau bermeditasi. Pada akhirnya, jika Anda tidak mengenal betul siapa Anda, Anda akan merasa kesulitan untuk menjadi nyaman dengan diri Anda sendiri. (*)

Tags: , , , , , ,