Kiat Menjadi HR yang Membawa Perubahan di Organisasi

Satu-satunya yang berjalan konstan di dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Dunia mengalami perubahan dalam berbagai hal, teknologi, globalisasi, demografi, dan juga situasi ekonomi. Globaliasi yang paling umum ditandai oleh perdagangan yang tidak lagi terbatas satu negara, tetapi mencangkup belahan dunia manapun. Indonesia yang kini menjadi negara dengan GDP nomor 17 terbesar di dunia (G20), diprediksi akan menempati posisi ketujuh pada tahun 2030. Peningkatan tersebut tentunya diikuti oleh beberapa hal yakni meningkatnya jumlah konsumsi Indonesia.

PPM

(Achmad Fahrozi, Koordinator dari PPM Center of Human Capital Development, sharing di event “Revamping Your Organization Trough Human Capital Strategic Actions” PPM Manajemen/dok.PPM)

Salah satu perubahan yang memberikan dampak cukup signifikan di berbagai aspek di Indonesia adalah demografi. Diperkirakan pada tahun 2020, jumlah penduduk Indonesia usia produktif akan mencapai jumlah yang cukup fantastis yakni 132 juta jiwa atau sekitar 52% dari total keseluruhan jumlah penduduk di Indonesia. Yang layak menjadi perhatian khusus, tentunya generasi muda Indonesia. Pasalnya, peningkatan jumlah usia produktif tersebut dipengaruhi oleh bertambahnya generasi muda atau yang kita sebut dengan generasi milenial. Hal ini juga berarti bahwa generasi inilah yang nantinya akan menjadi pemimpin-pemimpin di organisasi atau perusahaan. Lalu, siapkah departemen HRD menyiapkan hal tersebut?

Dengan adanya perubahan ini, paling tidak ada sepuluh tantangan yang harus dihadapi oleh praktisi Sumber Daya Manusia (SDM). Kesepuluh tantangan tersebut antara lain, adaptasi terhadap perubahan, loyalitas konsumen, produktifitas karyawan, persaingan secara global dan pemanfaatan teknologi. Selain itu, departemen HRD juga harus memikirkan ketersediaan pemimpin masa depan, adanya generation gap, dan juga tuntutan pertumbuhan bisnis perusahaan. Dua hal terakhir yang menjadi tantangan HRD adalah perang memperebutkan talent terbaik (talent war) serta loyalitas karyawan.

Menurut Achmad Fahrozi, Koordinator dari PPM Center of Human Capital Development, ketika memberikan materi dalam acara seminar “Revamping Your Organization Trough Human Capital Strategic Actions”, ada dua hal yang dapat dilakukan oleh HRD untuk dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengelola bonus demografi. Yang pertama adalah dengan melakukan HC unit role repositioning atau memikirkan kembali peranan HR di perusahaan dan merancang strategi HR yang dapat diimplementasikan sesuai peran yang sudah ditetapkan. Peran HRD di perusahaan, sejatinya adalah menjadi agen perubahan, membentuk karyawan yang juara, menjadi ahli dalam hal administrasi dan partner yang strategis untuk divisi lainnya.

Agar HRD tetap berada di jalur tersebut dan tetap memberikan kontribusi signifikan sesuai perannya, ada beberapa langkah yang harus dilakukan. Pertama, kita harus tahu konteks bisnis dari perusahaan kita. Setelah itu, barulah kita tahu bagaimana cara melayani seluruh karyawan dan siapapun yang berkepentingan dengan perusahaan. Selanjutnya HRD juga perlu mewujudkan program-programnya menjadi sesuatu yang nyata. Langkah keempat adalah pentingnya memiliki kemampuan untuk menyusun strategi sesuai konteks bisnis tersebut dan yang terakhir adalah persisten dalam mengimplementasikan strategi tersebut.

Selain melakukan role prepositioning, HRD selanjutnya dituntut untuk bisa melakukan aksi strategis yang seiring dengan strategi perusahaan. Strategi-strategi besar tersebut misalnya saja engagement (membuat karyawan betah dan terlibat), development (mengembangkan talent), retention (meningkatkan loyalitas karyawan) dan yang tidak kalah pentingnya adalah adanya akuisisi, yakni mendapatkan talent terbaik dengan seleksi yang baik pula. (*)