Wah, 19% Pekerja Singapura Insecure Pekerjaannya Tergerus Teknologi

Screenshot_4

Tahukah Anda? Satu dari lima pekerja (17.3%) di Singapura, Hong Kong dan Malaysia merasa takut pekerjaan mereka akan digantikan oleh teknologi. Hal ini diungkapkan berdasarkan riset yang dilakukan oleh Randstad’s Employer Brand Research.

robot

Pekerja di Hong Kong (20%) dan Singapura (19%) menjadi pekerja yang paling merasa insecure akan kehilangan pekerjaan mereka yang dapat tergantikan oleh teknologi. Sedangkan pekerja Malaysia berada diperingkat ketiga dengan 13%.

Perasaan insecure para pekerja ini ternyata tidak membuat mereka merasa takut. Satu dari enam pekerja menyatakan bahwa mereka akan sangat menghargai jika perusahaan melatih mereka untuk posisi baru dengan bayaran yang sama ataupun lebih tinggi. Pekerja di Singapura (72%) dan Malaysia (70%) menjadi pekerja yang paling terbuka dengan posisi baru.

Screenshot_4

Sedangkan hanya 25% pekerja di Hong Kong yang merasa demikian. Satu dari 10 pekerja di Hong Kong mengungkapkan bahwa mereka lebih memilih untuk pindah ke perusahaan lain dibandingkan menerima posisi baru.

Meskipun merasa insecure, namun banyak pekerja yang menyadari bahwa teknologi membuat mereka melakukan pekerjaan mereka lebih baik. Namun mereka tetap berharap bahwa kemajuan teknologi tidak membuat mereka kehilangan pekerjaan mereka.

Michael Smith, selaku Managing Director Randstad Singapura, Hong Kong dan Malaysia, mengungkapkan bahwa melalui diskusi dengan para pemimpin senior dari berbagai industri, mereka melihat bahwa banyak organisasi yang mulai mengaplikasikan hal-hal digital dalam kegiatan bisnis sehari-hari mereka. Smith mengatakan, “Dengan banyaknya pekerja yang sudah merasakan teknologi yang memudahkan pekerjaan mereka, sudah jelas bahwa mengapa sebagian pekerja merasa bahwa teknologi bisa mempermudah pekerjaan mereka.”

Tidak bisa dipungkiri bahwa teknologi memang mempermudah pekerjaan. Namun alangkah baiknya jika organisasi juga mulai mengatur strategi bagaimana mengalokasikan pekerja yang posisinya dapat digantikan oleh teknologi. Hal ini bisa menjadi win-win solution bagi kedua belah pihak. (*)