Waduh, 58% Pekerja Mengaku Kurang Tidur Karena Memikirkan Pekerjaan

sleeping at office_tomohiro hayashi_flickr

Jika Anda sering merasa kurang tidur dan mengantuk saat bekerja, Anda tidak perlu khawatir karena ternyata banyak pekerja lainnya yang bernasib sama dengan Anda. Percaya atau tidak, 58% pekerja di Amerika Serikat  tidak mendapatkan tidur yang cukup setiap harinya.

sleeping at office_tomohiro hayashi_flickr

(Image: Tomohiro Hayashi_flickr)

Hal ini diungkapkan berdasarkan hasil survey  terbaru yang dilakukan oleh CareerBuilder. Selain mayoritas pekerja mengalami kurang tidur, 61% di antaranya mengakui bahwa hal tersebut memberikan dampak buruk bagi pekerjaan mereka.

Baca juga: Jika Anda Kurang Tidur, Coba Ikuti Panduan Kerja Ini

Beberapa di antaranya yaitu:

Tabel1_sleep

Padahal, percaya atau tidak, berpikir mengenai pekerjaan adalah hal yang membuat 44% pekerja mengalami kurang tidur. Bahkan 13% di antaranya mengakui bahwa mereka kerap kali memimpikan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan mereka.

Termasuk di dalamnya yaitu:

Tabel2_sleep

Tidur 8 jam sehari hanya dirasakan oleh 16% pekerja. Sedangkan 63% pekerja lainnya rata-rata tidur 6 sampai 7 jam setiap malamnya. Lebih parah lagi bahkwan 21% menyatakan bahwa mereka hanya tidur 5 jam atau kurang.

Menekan tombol snooze hanya membuat Anda menjadi semakin mengantuk. Satu dari lima pekerja mengakui bahwa mereka pernah izin tidak masuk hanya karena ingin tidur lebih lama. Menariknya ternyata banyak pekerja yang suka curi-curi waktu untuk tidur saat bekerja. Dua dari lima pekerja mengakui bahwa mereka pernah menangkap rekannya yang sedang tertidur saat bekerja. Sebanyak 39% pekerja menyatakan bahwa akan lebih baik jika kantor mereka memiliki ruang tidur.

Baca juga: Kurang Tidur Malah Tingkatkan Produktivitas, Kok Bisa?

Menurut Rosemary Haefner, selaku Chief HR Officer CareerBuilder, menyatakan bahwa tidur dianggap sebagai kebutuhan yang diremehkan oleh banyak orang. “Kami melihat bahwa banyak pekerja yang masih bekerja seharian bahkan hingga akhir minggu, tidak mengambil jatah cuti mereka, bahkan tetap bekerja di saat mereka sakit. Perlu diingat bahwa terus menerus bekerja akan membuat seseorang tidak produktif dan perusahaan sudah mulai memperhatikan hal tersebut.”

Haefner lantas melanjutkan, “Kami melihat bahwa perusahaan sudah mulai memperhatikan kesejahteraan pekerja dan work-life balance mereka. Entah itu dengan menyediakan ruangan untuk tidur, mendorong mereka untuk mengambil cuti atau sesederhana memberikan jam kerja yang lebih fleksibel.” (*)