Pekerja di Eropa Habiskan Waktu 19 Jam untuk Nge-print

Menciptakan ‘paperless office’ sepertinya adalah hal yang tidak mungkin. Hal ini diungkapkan oleh para pekerja di Eropa. Sebanyak 84% pekerja menyatakan bahwa ‘paperless office’ adalah hal yang tidak realistis. Secanggih-canggihnya gadget yang Anda miliki tidak akan membuat Anda mengurangi penggunaan kertas untuk mencetak dokumen.

laser printer

(Image:Pixabay)

Para pekerja di Eropa (64%) memilih untuk membaca laporan dan brosur dalam bentuk cetak. Indikatornya adalah agar lebih mudah untuk dibagi (53%), lebih mudah untuk dibaca (44%) dan lebih mudah untuk diedit (41%). Hasil ini dikemukakan berdasarkan polling yang dilakukan terhadap 3.600 pekerja di Eropa yang dilakukan oleh Epson Europe. Melihat indikator tersebut tidak heran jika setiap pekerja rela untuk bolak-balik ke tempat cetak hanya untuk mencetak dokumen yang mereka inginkan.

Namun pernahkah Anda bertanya-tanya berapa lama waktu yang dihabiskan setiap pekerjanya ‘hanya’ untuk mencetak? Ternyata setiap pekerja di Eropa menghabiskan waktu setidaknya 19 jam setiap tahunnya untuk mencetak. Bagi para pekerja di Inggris, jarak 13 meter yang harus mereka tempuh untuk mencetak tidaklah masalah. Padahal jika dikalikan selama 19 jam setara dengan baris berbaris sejauh 110 kilometer.

Baca juga: Bagi Pekerja di Inggris, WiFi Lebih Penting Ketimbang Kopi

Sebanyak 86% pekerja di Inggris menyatakan bahwa pelarangan untuk mencetak dokumen dapat membatasi produktivitas mereka. Menurut Rob Clark, selaku Vice President Epson Europe, sudah jelas bahwa meskipun teknologi sudah maju manusia tetap memilih untuk menggunakan kertas.

“Kenyatannya perusahaan butuh mesin pencetakan, tidak hanya untuk membuat pekerja bekerja lebih efektif namun juga untuk meningkatkan produktivitas. Meskipun banyak orang yang bisa bekerja sama secara digital, namun dokumen yang dicetak dan papan tulis masih tetap jadi primadona,” ujar Clark sambil meneruskan, “Perusahaan memang perlu untuk memfasilitasi pekerjanya dengan teknologi terbaru dalam setiap bidangnya. Salah satunya adalah dengan mengganti mesin cetak yang lama dengan mesin cetak yang lebih canggih.” (*)

Pekerja di Eropa Habiskan Waktu 19 Jam untuk Nge-print

laser printer

Menciptakan ‘paperless office’ sepertinya adalah hal yang tidak mungkin. Hal ini diungkapkan oleh para pekerja di Eropa. Sebanyak 84% pekerja menyatakan bahwa ‘paperless office’ adalah hal yang tidak realistis. Secanggih-canggihnya gadget yang Anda miliki tidak akan membuat Anda mengurangi penggunaan kertas untuk mencetak dokumen.

laser printer

(Image:Pixabay)

Para pekerja di Eropa (64%) memilih untuk membaca laporan dan brosur dalam bentuk cetak. Indikatornya adalah agar lebih mudah untuk dibagi (53%), lebih mudah untuk dibaca (44%) dan lebih mudah untuk diedit (41%). Hasil ini dikemukakan berdasarkan polling yang dilakukan terhadap 3.600 pekerja di Eropa yang dilakukan oleh Epson Europe. Melihat indikator tersebut tidak heran jika setiap pekerja rela untuk bolak-balik ke tempat cetak hanya untuk mencetak dokumen yang mereka inginkan.

Namun pernahkah Anda bertanya-tanya berapa lama waktu yang dihabiskan setiap pekerjanya ‘hanya’ untuk mencetak? Ternyata setiap pekerja di Eropa menghabiskan waktu setidaknya 19 jam setiap tahunnya untuk mencetak. Bagi para pekerja di Inggris, jarak 13 meter yang harus mereka tempuh untuk mencetak tidaklah masalah. Padahal jika dikalikan selama 19 jam setara dengan baris berbaris sejauh 110 kilometer.

Baca juga: Bagi Pekerja di Inggris, WiFi Lebih Penting Ketimbang Kopi

Sebanyak 86% pekerja di Inggris menyatakan bahwa pelarangan untuk mencetak dokumen dapat membatasi produktivitas mereka. Menurut Rob Clark, selaku Vice President Epson Europe, sudah jelas bahwa meskipun teknologi sudah maju manusia tetap memilih untuk menggunakan kertas.

“Kenyatannya perusahaan butuh mesin pencetakan, tidak hanya untuk membuat pekerja bekerja lebih efektif namun juga untuk meningkatkan produktivitas. Meskipun banyak orang yang bisa bekerja sama secara digital, namun dokumen yang dicetak dan papan tulis masih tetap jadi primadona,” ujar Clark sambil meneruskan, “Perusahaan memang perlu untuk memfasilitasi pekerjanya dengan teknologi terbaru dalam setiap bidangnya. Salah satunya adalah dengan mengganti mesin cetak yang lama dengan mesin cetak yang lebih canggih.” (*)