Gawat! Pekerja di Indonesia 80% Not Engaged, Lantas Apa Solusinya?

NOTEngaged

Tahukah Anda bahwa menurut survei, kelompok terakhir yang membuat kita merasa paling tak nyaman ketika bersamanya adalah bos atau atasan? Menurut penelitian berjudul “Characterizing Daily Life” yang dihajat oleh Kahnemen (2004), sahabat adalah kelompok orang yang paling membuat para peserta survei nyaman untuk berada di dekatnya, tapi sebaliknya adalah dengan bos. Konsekuensi logis dari hasil penelitian tersebut adalah kurangnya engagement (keterlibatan) karyawan terhadap perusahaan.

PMSM HR Director

Di Indonesia sendiri, tingkat engagement ini sangat rendah. Hasil survei Gallup yang dipaparkan belum lama ini di HR Director Breakfast Meeting yang diselenggarakan PMSM Indonesia di Jakarta, menyebutkan bahwa 80% pekerja di Indonesia dikategorikan sebagai not engaged di tempat kerja. Rinciannya hanya 13% pekerja yang fully engaged, 76% not engaged, dan 11% actively disengaged. Dibandingkan dengan negara-negara lain di Asean, posisi Indonesia dalam hal pekerja yang engaged hanya lebih baik dari Vietnam, masih kalah dari Singapura, Thailand, Malaysia dan Filipina.

NOTEngaged

(Image: Gallup)

Bagaimana fenomena tersebut dapat berubah? Satu hal dasar yang harus dipahami adalah, siapa target yang ingin kita ubah. Angkatan kerja Indonesia, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Gallup 2016, sebanyak 49%nya adalah kaum milenial. Mereka adalah orang-orang yang lahir di antara tahun 1980-1996. Dan untuk dapat mengubahnya kita harus mengenali karakter mereka.

Generasi milenial dikenal sebagai generasi paling “radikal” dibandingkan generasi-genarasi sebelumnya. Mereka memiliki karakter kritis terhadap sebuah isu dan setia terhadap brand yang menurut mereka memiliki value tersendiri. Mereka memandang dunia dengan cara yang berbeda dengan generasi-generasi pendahulunya dan sebagian besar dari generasi ini berpendidikan tinggi.

Baca juga: Kenapa Talent Engagement Sangat Penting Bagi Organisasi Saat Ini

Dengan beberapa karakter tersebut, generasi milenial atau yang kerap disebut Gen Y ini memiliki beberapa kekuatan. Yang pertama, mereka adalah generasi yang haus akan pencapaian (achievement), kedua mereka memiliki empati yang tinggi, adalah generasi pembelajar, mudah beradaptasi dan yang terakhir, mereka juga memiliki tanggung jawab.

Mau tidak mau, suka atau tidak merekalah calon pemimpin di organisasi kita. Tugas HRD-lah untuk menyiapkan mereka. Lalu, sudah siapkah mereka?

Pada kenyataannya, hanya 3 dari 10 pekerja di Indonesia merasa bahwa perusahaan mereka memberikan andil bagi pengembangan keterampilan dan diri. Sebanyak 95% manager di Indonesia pun mengaku tidak puas dengan pekerjaan mereka. Dan bahkan, 90% praktisi HRD yakin bahwa mereka tidak mendapatkan informasi yang memadai tentang karyawan mereka.

Baca juga: Engagement Karyawan Bergantung pada Sikap Pimpinan

Fenomena tersebut memberikan sinyal kepada Departemen HR untuk mulai bebenah. Setidaknya ada 3 (tiga) pokok penting yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan generasi milenial untuk menjadi pemimpin yang hebat di masa depan. Seperti dirilis oleh Gallup 2016, berikut adalah beberapa cara tersebut.

1) Meningkatkan Engagement (keterlibatan) karyawan

Generasi milenial bukanlah tipe karyawan yang mendefinisikan loyalitas dengan kerja dalam kurun waktu yang sangat lama. Berdasarkan survei, ketika ditanya mengenai ekspektasi waktu kerja, mereka menjawab bahwa mereka akan tinggal selama 12 bulan saja di perusahaan tempat mereka bekerja.

Oleh karena itu, tugas HRD adalah membuat mereka merasa betah. Bagaimana caranya? Berhentilah untuk selalu berpatokan pada hasil survei dan jangan memuja angka-angka dari assesment yang Anda lakukan pada akhir tahun. Sebaliknya, cobalah untuk menyiapkan rencana program yang berjalan rutin sepanjang tahun. Selain itu, fokuslah pada perilaku karyawan yang diinginkan, serta lakukan pengukuran pada hal-hal yang dianggap penting.

2) Performance Management yang efektif

Ketika menghadapi generasi milenial, pemimpin atau atasan tidak cukup hanya berfungsi sebagai bos. Jangankan bos, menjadi pemimpin saja tidak cukup. Mereka harus menjadi coach yang mampu merangkul karyawan sambil terus memberikan bimbingan sepanjang perjalanan karir mereka.

3) Merekrut dan mencetak manajer yang hebat

Manajer memiliki peran penting di sebuah organisasi. Manajer yang hebat adalah faktor terpenting yang menciptakan engagement (keterlibatan) karyawan. Manager memiliki andil besar dalam menciptakan engagement sebesar 70%. (*)