Apa!?? Di Swedia Sekarang Ngantor Cuma 6 Jam/Hari?

6 hour work day

Mana yang menurut Anda lebih efektif: bekerja 8 jam sehari atau waktu kerja yang fleksibel? Jika jawaban Anda adalah salah satu dari kedua jawaban tersebut, maka Anda harus mendengar jawaban dari perusahaan Swedia. Tidak ada yang efektif dari kedua jam tersebut, yang efektif adalah bekerja selama enam jam sehari. Hal ini diungkapkan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh University College London.

6 hour work day

Berdasarkan 25 studi yang melibatkan 600.000 pekerja pria dan wanita, sebanyak 33% pekerja yang bekerja lebih dari 55 jam per minggunya memiliki resiko terkena stroke lebih tinggi dibandingkan mereka yang bekerja 35-40 jam per minggunya.

Baca juga: Tips Atur Waktu Bila 6 Jam Kerja Masih Dirasa Kurang

Bekerja 8 jam per hari dianggap sudah tidak efektif. Kebijakan bekerja 6 jam per hari pun diberlakukan oleh perusahaan-perusahaan di Swedia. Pemotongan jam kerja ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dan membuat pekerjanya lebih bahagia. Menurut website Science Alert, tujuan lain dari kebijakan tersebut yaitu untuk menyelesaikan pekerjaan lebih banyak dalam waktu yang lebih singkat dan membuat pekerja memiliki waktu untuk menikmati hidup mereka.

Sebelum kebijakan ini diberlakukan, ternyata pabrik Toyota di Gothenburg, kota kedua terbesar di Swedia, sudah mengaplikasikannya sejak 13 tahun yang lalu. Kebijakan ini menghasilkan pekerja yang lebih bahagia, tingkat turnover yang rendah dan meningkatkan profit perusahaan.

Baca juga: Adakah Manfaat Jam Kerja Fleksibel untuk Kepentingan Bisnis

Selain Toyota, perusahaan pengembang aplikasi Filimundus, juga mulai mengenalkan kebijakan bekerja 6 jam pada akhir tahun 2015. Menurut Linus Feldt, selaku CEO Filimundus, bekerja 8 jam sehari tidak lagi seefektif yang dibayangkan orang-orang. “Untuk tetap fokus menyelesaikan satu pekerjaan selama 8 jam adalah tantangan yang besar. Untuk menghadapinya, kita cenderung untuk melakukan hal lain dan beristirahat agar dapat tetap bekerja. Namun pada saat yang sama kita pun kesulitan untuk mengatur hidup di luar pekerjaan,” ungkap Feldt.

Feldt mengungkapkan bahwa pekerjanya tidak diperbolehkan bermain media sosial selama bekerja, meminimalisir meeting, dan gangguan lain selama bekerja. Tujuannya, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk membuat pekerjanya lebih fokus saat bekerja. “Dengan kebijakan ini diharapkan para pekerja memiliki tenaga yang cukup untuk melangsungkan kehidupan pribadi mereka setelah pulang kerja. Suatu hal yang sulit untuk dilakukan ketika bekerja delapan jam per hari,” ungkap Feldt. (*)