Perbanyak Teman Sejati untuk Meraih Kesuksesan

APA ARTI TEMAN SEJATI dalam hidup kita? Benarkah setiap orang yang kita kenal adalah teman sejati (soulmates)? Belum tentu. Bagaimana mungkin semua orang kita anggap sebagai teman sejati jika dalam keseharian kita tak pernah punya waktu untuk membina pertemanan? Kebanyakan orang beranggapan bahwa pertemanan bisa mengalir begitu saja. Kita lupa bahwa pertemanan yang sejati perlu dibangun dan diupayakan. Nah, bagaimana meningkatkan hubungan pertemanan agar teman kita yang semula biasa-biasa saja menjadi teman sejati?

Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat kita temukan dalam buku yang ditulis oleh konsultan brand dan ethnographer Amalia E. Maulana: Brandmate, Mengubah Just Friends Menjadi Soulmates. Amalia berpendapat bahwa kesuksesan pertemanan menggambarkan prestasi kehidupan sosial seseorang. Dengan kata lain, keberadaan teman sejati merupakan aset paling berharga dalam kehidupan seseorang. “Hidup kita baru berharga bila punya banyak sahabat, banyak teman baik, jauh di atas teman-teman biasa. Ini yang luput dari pengamatan,” tulis Amalia dalam buku ini.

Lebih jauh tentang buku ini, kita akan tahu bahwa Amalia menganalogikan branding dengan pertemanan. Menurutnya, mengurus brand sama peliknya seperti mengurus pertemanan. Brand yang sukses adalah brand yang diterima oleh konsumen, diminati dan menjadi teman sejati. Tentu hal ini tidak dapat ditangani secara sembarangan. Untuk mengelola sebuah brand agar menjadi teman sejati bagi konsumennya, dibutuhkan seorang manajer brand yang andal. Jika tidak, jangan harap brand Anda diakui sebagai teman sejati bagi orang lain.

Bagi Amalia, prestasi brand tidak cukup hanya diukur dari seberapa banyak yang kenal dan membeli brand tersebut. Kesuksesan meraih konsumen dalam tahap menghitung jumlah pemakai, baru menggambarkan kesuksesan transaksional, bukan relasional. Pada saat transaksi, yang terjadi adalah proses merekrut konsumen menjadi teman biasa saja, atau just friend. Masalahnya, berapa banyak yang akan bertahan untuk membelinya terus-menerus dan tidak berpindah ke brand lain?

Itulah yang dibahas lebih lanjut dalam buku yang dikemas dengan gaya penulisan yang renyah dan mudah dipahami ini. Membaca buku ini tidak akan membuat dahi kita berkerut dan kepala jadi pening. Namun demikian, bukan berarti buku ini terkesan ringan. Buku ini tetap memiliki kedalaman analisis dan sarat dengan berbagai contoh kasus. Saya kira, salah satu kelebihan Amalia – yang juga berprofesi sebagai pengajar di beberapa perguruan tinggi ini – adalah kemampuannya menerangkan (sekaligus menuliskan) sesuatu yang sulit, njelimet, menjadi bahasa yang lebih sederhana.

Empat Tahapan Branding

Dalam bahasa yang lebih popular, kita mengenal yang namanya konsumen loyal. Yaitu, konsumen yang terus-menerus menggunakan sebuah brand dan tak ingin pindah ke brand lain. Framework Customer-Based Brand Equity (CBBE) yang dikemukakan oleh Kevin Keller menerangkan proses terbentuknya pertemanan yang kuat. Konsumen yang loyal layak disebut soulmates. Tak berhenti sampai di situ, Amalia mencoba mengelaborasi konsep ini. Dalam CBBE yang dimaksud adalah bagaimana konsumen menjadi lebih loyal terhadap sebuah brand. Sementara Amalia mempersepsikan brand seperti pertemanan sehari-hari, sehingga yang perlu dilakukan adalah bagaimana mengonversi teman biasa menjadi teman sejati. Dengan cara begini, Amalia ingin mengajak para pemilik brand untuk memahami betapa pentingnya mengelola dan mempertahankan eksistensi brand di mata konsumen.

Dalam konteks branding, pendiri sekaligus direktur dari ETNOMARK Consulting, konsultan branding yang menangani brand audit dan knowledge building, ini berpendapat bahwa brand yang kuat telah mendapatkan posisi di mana cita-cita yang dicanangkannya sudah sama seperti yang dipikirkan konsumen terhadapnya. Brand yang kuat memiliki banyak teman sejati karena ia dikenal luas, dimengerti maknanya, disukai, selalu dipilih pada tiap kesempatan, dan direkomendasikan kepada konsumen lain. Untuk sampai ke tujuan itu tentu tidak sederhana. “Butuh waktu dan strategi pemasaran yang tepat,” kata Amalia. Lantas, apa yang harus dilakukan pemilik brand untuk mencapai cita-cita itu?

Setidaknya, ada empat tahapan proses yang harus dilakukan pemilik brand untuk mengonversi teman biasa menjadi teman sejati. Prosesnya dimulai dengan perkenalan, lalu pemahaman, diikuti dengan saling menyukai, dan berujung pada keterikatan secara emosi. Mari kita bahas empat tahapan ini satu demi satu.

Pertama, dalam proses perkenalan, setiap kata, sikap, dan tindakan kita akan dinilai oleh orang lain. Itu semua membentuk sebuah citra diri yang sangat awal dan bersifat permukaan. Memasuki tahap kedua, yang tercipta bukan lagi awareness, melainkan sudah terbentuk pemahaman mengenai siapa kita yang sebenarnya. Proses pemahaman ini bila tidak diantisipasi dengan baik, maka teman-teman baru tersebut bisa memiliki penilaian yang tidak sama dengan siapa diri kita yang sebenarnya.

Di tahap ketiga, dibutuhkan usaha dari kedua pihak untuk saling menyukai. Dari pihak kita, harus melakukan penyesuaian yang baik terhadap kebutuhan teman-teman baru. Tanpa proses penyesuaian ini, kita akan tetap menjadi sosok yang asing satu sama lain. Amalia mengakui, tidak semua orang dalam lingkungan baru itu bisa menjadi teman baik, karena mungkin minat dan pemikirannya berbeda, atau sebagian orang menyebutnya “chemistry-nya tidak cocok”.

Dan, tahap berikutnya adalah keterikatan secara emosi. “Ini adalah tahapan terberat,” Amalia menegaskan. Tahapan ini tidak dapat dilakukan setengah hati. Seorang teman sejati mengerti apa yang disenangi dan tidak disenangi oleh temannya. Dia juga seorang pendengar yang baik, dan selalu ada pada saat dibutuhkan. Tidak menyebarkan berita buruk tentang temannya, bahkan setiap ada kesempatan selalu menceritakan kebaikan-kebaikan temannya. Amalia menyimpulkan, pertemanan sejati didasari beberapa sikap berikut ini: tidak dibuat-buat (otentik), jujur, berempati, senang menolong, selalu berkomunikasi, dan menciptakan hal-hal baru yang menyenangkan.

Branding Pribadi Sama Pentingnya

Keempat tahapan proses di atas juga dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan pribadi, kita pun perlu membangun brand atau dikenal dengan sebutan I-brand. Ini tidak ada hubungannya dengan usia kita saat ini, posisi/jabatan yang kita sandang, maupun kekayaan dan bisnis yang kita miliki. Semua orang, sejatinya perlu menyadari pentingnya membangun I-brand. Dan, komunikasi mengenai siapa diri kita akan melekat bukan hanya dalam kehidupan nyata, tetapi juga menempel saat kita berada di dunia maya. Setiap kata yang kita tulis di media sosial, misalnya, jejaknya akan terekam di sana. Amalia menjelaskan, di media sosial I-brand dapat dianalisa dan dicitrakan. Istilah yang digunakan adalah Cyber Presence.

Bagaimanapun, media sosial bak pisau bermata dua. Jika kita dapat menggunakannya dengan baik dan bijaksana, maka dapat menjadi alat promosi yang efektif. Namun di sisi lain, jika kita kurang berhati-hati, media sosial merupakan ancaman yang berbahaya. Karena itu, tiap kali akan menulis status di Facebook atau melontarkan ocehan di Twitter, kita perlu memikirkannya secara bijak. Sering kali, karena emosi atau sedang tidak mood, seseorang menuliskan sesuatu yang menyinggung atau memicu kemarahan pihak lain. Misalnya, memposting kata-kata keluhan terhadap pekerjaan di kantor atau meluapkan kekesalan pada orang lain. Kesannya sepele, tetapi sudah banyak contoh, di mana postingan seperti itu kemudian menjadi bumerang bagi penulisnya. Sudah pasti, ini akan merugikan diri sendiri.

Sebagaimana kegiatan branding pada sebuah produk, keberhasilan I-brand – salah satunya – dapat diukur dari berapa banyak jumlah teman sejati yang dimiliki seseorang. Siapa yang tidak bahagia memiliki banyak teman sejati? Yuk, kita bangun I-brand sekarang juga! Ketahui caranya dengan membaca buku ini. (*)

Tags: , ,