Mengelola Perubahan, Mengelola Manusia

Sejak zaman dahulu hingga era digital saat ini, perubahan selalu hadir di setiap elemen kehidupan. Sosoknya hinggap di jiwa seseorang yang ingin bertransformasi ke arah yang lebih baik atau lebih baik lagi. Tidak jarang juga perubahan menjadi tolak ukur keberhasilan atau pencapaian seseorang dalam hidupnya.

Bila berbicara perubahan yang terjadi di lingkungan kita, setiap orang pasti mempunyai tujuan masing-masing. Namun bila perubahan itu terjadi di tubuh organisasi maka peran pemimpin pasti ada di dalamnya. Tentu semua setuju bahwa kejayaan Apple berkat kepiawaian Steve Jobs di belakangnya. Begitu juga dengan game komputer Nintendo. Selama 6 tahun terpuruk, akhirnya duet tokoh Nintendo, Satoru Iwata sang CEO dan Shigeru Miyamoto sang perancang game berhasil mengembalikan masa kejayaannya. Nintendo dengan produk terbarunya, Nintendo Wii kembali merajai penjualan perangkat permainan game dan tidak lagi berada di bawah bayang-bayang Sony dan Microsoft.

Sepenggal cerita perubahan dan pemimpin tadi diulas dalam buku yang berjudul “Pemimpin dan Perubahan, Langgam Terobosan Profesional Bisnis Indonesia.” Buku ini merupakan kerja keras trio penulis melalui wawancara mendalam dengan 20 pemimpin perusahaan multinasional dan nasional papan atas di Indonesia. Ketiga penulis tersebut adalah Prof. Dr. Hora Tjitra, Dr. Hana Panggabean, dan Dr. Phil. Juliana Murniati, M.Si yang berhasil menggali pengalaman berharga para C-level dan top manajemen di dalam memimpin armada mereka.

Memang sudah banyak buku yang menulis tentang teori kepemimpinan yang biasanya dihubungkan dengan pengalaman pemimpin terkemuka. Yang berbeda dari buku ini, kita tidak hanya akan mengetahui langsung pengalaman para CEO, namun juga mendapatkan insight dan lesson learned dari kisah para pemimpin di Indonesia.

Mungkin Anda baru pertama kali mendengar bahwa mantan Presiden Direktur PT Astra Internasional, TBK yang sukses membesarkan kelompok usaha Triputra Group dalam kesehariannya ‘cerewet’ mencecar mengenai masalah pegawai. Dalam suatu pengakuan eksekutifnya dalam buku ini, ia menceritakan bahwa pertanyaan favorit T.P. Rahmat kepada mereka adalah, “si Anu bagaimana? Sudah lebih baikkah kerjanya? atau “bagaimana, Anda sudah punya pengganti buat si Anu nggak?”

Menurut bawahannya, T.P Rahmat lebih sering mengajukan pertanyaan seputar manusia ketimbang profit bisnis. Dari situ, lambat laun para eksekutif perusahaanya mengerti apa yang menjadi prioritas sang bos dan prestasi apa yang diharapkan dari mereka.

Jika T.P Rahmat menyadari pentingnya manusia dalam mengelola perubahan, Erwin Tenggono, Presiden Direktur Anugrah Argon Medica (AAM) memilih komunikasi untuk mengatasi konflik perubahan. Pada saat memimpin transformasi bisnis, perusahaannya menerima resistensi yang kuat dari anak cabang yang menjadi target roll out project-nya, ia menerima penolakan karena alasan anak cabangnya tidak berani mengambil resiko. Apa yang ia lakukan? Akhirnya Erwin memutuskan untuk datang secara pribadi ke cabang perusahaan, bukan mengikuti saran yang diberikan anak buahnya untuk memanggil orang cabang ke kantor pusat. Erwin menyampaikan secara terbuka bagaimana kondisi yang dihadapinya.

“Kita ada program dan shut down, kita gagal. Saya tidak mungkin tunggu tiga bulan roll out dari kalian, karena saya akan kena pecat duluan. Ayo tolong bantu saya find a way. Bagaimana caranya agar kita bisa meminimalkan risiko? Tak dinyana, setelah mengemukakan kalimat itu, sambutan baik diterima Erwin. Ide-ide solusi bermunculan, setiap cabang mengirimkan orang terbaiknya untuk membantu dalam tim. Erwin yang awal bergabung ke AAM menjabat sebagai staf gudang pada tahun 1986, kini sukses memimpin AAM sebagai perusahaan distribusi farmasi dengan pertumbuhan bisnis rata-rata 25-30% (data di tahun 2005).

Erwin Tenggono percaya bahwa jika pemimpin bicara dari hati yang jujur dan karyawan paham manfaat perubahan untuk organisasi, bukan untuk menyakiti mereka, maka karyawan akan mendukung perubahan tersebut.

Dari perbincangan penulis dengan 21 C-level Executives terungkap bahwa ada 2 komponen dalam model pengelolaan perubahan, yaitu dinamika proses perubahan (stages of change) dan peran kepemimpinan perubahan (change leadership). Faktor kedua menjadi sisi menarik dari buku ini. Seni kepemimpinan seorang leader akan terlihat pada saat ia mengalami tekanan dan tantangan. Penulis mengakui bahwa keberhasilan perubahan lebih ditentukan oleh seni memimpin daripada ketajaman strategi perubahan. Dan kembali terugkap, sisi dominan dari pemimpin Indonesia adalah interpersonal relationship. Keterampilan dalam mengelola relasi sosial adalah keterampilan strategis sekaligus kekuatan bagi pemimpin Indonesia.

Yang menjadi concern dalam buku ini adalah cukupkah kekuatan khas tersebut membawa pemimpin Indonesia pada keunggulan global? Seperti kita ketahui ada aturan main, tantangan dan parameter ketika harus bersaing dengan perubahan global. Pertanyaan menarik selanjutnya adalah apakah gaya khas itu akan hilang atau tetap bertahan.

Walaupun merupakan hasil studi, temuan dalam buku ini tetap enak dibaca dan sangat berstruktur. Sekiranya pengalaman yang sudah diimplementasikan dengan baik oleh para pemimpin di buku ini dapat menjadi inspirasi bagi calon-calon pemimpin bangsa. Selamat kepada penulis telah mengilhami banyak orang akibat membaca buku ini. Selamat berubah!

Tags: ,