Menciptakan Smart Knowledge Worker

Ada cerita menarik yang menjadi catatan penting bagi Matsushita Electric, perusahaan asal Jepang, bermula ketika salah seorang karyawannya berhasil menciptakan sebuah mesin pembuat roti. Kejadian ini terjadi pada 1985 yang sekaligus menjadi ending dari perjuangan keras perusahaan tersebut, melalui divisi pengembangan produknya yang cukup lama merasa kesulitan dalam menciptakan mesin pembuat roti model terbaru.

Perusahaan yang bermarkas di Osaka, Jepang ini selalu saja tidak berhasil memformulasikan bagaimana mesin roti bisa bekerja dengan baik dan bisa membuat adonan roti secara tepat. Kegagalan demi kegagalan terus dialami. Segala upaya sudah dilakukan, tapi tak kunjung membawa hasil. Seringkali ketika bahan membuat roti dipanggang, bagian luar sudah agak hangus sementara bagian dalamnya justru belum matang.

Kegagalan ini pun dianalisa secara cermat, bahkan menggunakan perbandingan dengan sinar X antara adonan roti yang dihasilkan mesin dan adonan roti yang dibuat oleh pembuat roti profesional. Lagi-lagi hasilnya nihil.

Hingga suatu ketika, ada pengembang perangkat lunak yang bernama Ikuko Tanaka melontarkan ide yang brilian. Di Osaka ada sebuah hotel yang memiliki reputasi bagus dalam hal pembuatan roti, yakni Osaka Internasional Hotel. Di sinilah Ikuko Tanaka ceritanya ‘berguru’ ke chef hotel tersebut. Selama kurang lebih setahun, akhirnya Ikuko Tanaka berhasil memformulasikan keahlian chef yang kemudian dituangkan menjadi sebuah karya mesin pembuat roti yang hasilnya hampir sama persis kualitas rasanya dengan racikan dan keahlian tangan sang koki. Atas temuan ini, Matsushita Electric mencatat penjualan terbaiknya untuk kategori mesin pembuat roti.

Sekelumit cerita di atas, dicuplik dari buku “Smart Knowledge Worker” yang ditulis seorang jurnalis Firdanianty dan Alvin Sholeh yang juga berprofesi sebagai konsultan dan pembicara publik yang kini mendalami Knowledge Management (KM). Pesannya, apa yang dikerjakan oleh Ikuko Tanaka adalah upaya untuk mengalirkan dua pengetahuan yang awalnya disebut sebagai ‘tacit’ atau pengetahuan personal yang dimiliki oleh sang koki, menjadi sebuah pengetahuan ‘eksplisit’ yang sudah diformulakan menjadi sebuah produk yang spesifik, yakni mesin pembuat roti.

Dalam organisasi manapun di era sekarang ini, terutama yang memang berfokus pada pengetahuan, mendapatkan ilmu baru bukan melulu tanggung jawab bagian research and development (R&D), tetapi sudah bergeser dengan menempatkan masing-masing individu adalah ‘knowledge worker’. Alhasil, menciptakan dan mengelola pengetahuan menjadi peran dan tanggung jawab setiap individu dalam organisasi. Ketika sesorang meningkatkan pengetahuannya, sejatinya di saat yang sama dia juga telah meningkatkan pengetahuan orang lain maupun organisasi tempat ia bekerja.

Di buku ini, Alvin menuliskan bahwa setiap pengetahuan baru atau pun setiap inovasi produk yang muncul, selalu dimulai dari individu. Keberhasilan perusahaan dalam meluncurkan produk yang diminati banyak orang, lahir dari kejelian individu-individu kreatif di perusahaan tersebut.

Persoalannya, pengetahuan yang sangat beragam yang dimiliki oleh masing-masing individu di organisasi atau perusahaan bisa jadi belum dikelola dengan baik. Hal ini tentu rentan ketika key person itu keluar dari tempat kerja, sejatinya ia tidak hanya keluar membawa badannya saja, akan tetapi juga keluar dengan membawa seluruh pengetahuannya. Alfin menegaskan, bahwa mengalirkan pengetahuan seseorang agar dimanfaatkan oleh orang lain, merupakan aktivitas utama dari sebuah organisasi yang sedang menerapkan KM.

KM di Indonesia terhitung masih relatif baru. Referensi tentang KM, terlebih yang merupakan hasil karya anak bangsa sendiri belumlah banyak. Kehadiran buku ini tentu saja mengisi kekosongan tersebut, sekaligus menjadi referensi yang sangat dibutuhkan bagi masyarakat luas, akademisi, pemerintahan maupun swasta yang berkepentingan dalam mengelola SDM dan pengetahuan.

KM sendiri memiliki unsur penting dalam implementasinya mulai dari proses, teknologi dan sumber daya manusia. Alvin Sholeh, yang banyak disebut sebagai ikon KM di Indonesia sangat mengusai komponen-komponen KM, dan pengalaman menangani banyak perusahaan yang ingin menerapkan KM tentu menjadi sumber inspirasi yang tak akan habis digali.

Sementara Firdanianty, melalui pengalaman panjangnya di dunia jurnalistik berperan dalam mengurai ‘ilmu baru’ KM dan menjadikan buku ini tidak hanya sarat dengan pengetahuan tapi juga sebuah bacaan yang tidak membosankan. Kini, keduanya berpadu dan dengan kelebihan masing-masing, maka lahirlah buku ini. Bagi Anda yang ‘haus’ dengan ilmu pengetahuan, serta penasaran bagaimana inspirasi mengelola pengetahuan di perusahaan bisa diterapkan, tentunya masih banyak hal tentang KM yang bisa didapatkan dalam buku ini. Selamat membaca. (rudi@portalhr.com)