Memetik Matahari Bersama Agung Adiprasetyo

Sepuluh atau 15 tahun yang lalu dunia bisnis mungkin bisa dianalogikan seperti bermain baseball. Setiap pemukul bola mempunyai beberapa alternatif kemungkinan untuk memukul bola yang diumpan kepadanya. Kalau tinggi bola tidak pas dengan apa yang kita mau, kita bisa membiarkan bola itu berlalu, tak perlu dipukul, karena kita masih punya alternatif yang lain. Siapa tahu lemparan bola berikutnya sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Begitu ada bola yang pas dengan keinginan kita, maka kita akan memukul bola itu dengan keras. Setelah kita memukul bola dan berlari keliling lapangan, selesailah tugas kita satu putaran. Selanjutnya, kita boleh beristirahat untuk menunggu giliran memukul bola kembali.

Bisnis masa lalu seperti itu. Ada masa istirahat, ada jeda, ada waktu santai. Kompetisi bisnis beberapa tahun lalu tak sekuat hari ini. Perubahan teknologi, lingkungan sosial masyarakat juga tak berubah sepesat hari ini. Tetapi sayang, hari ini kemewahan seperti itu sudah punah.

Hari ini, tulis Agung Adiprasetyo di bukunya “Memetik Matahari”, bisnis serupa dengan balap mobil Nascar. Jangan dibayangkan berada dalam mobil balap ini merupakan kemewahan dan kenikmatan.

Suhu di dalam mobil bukan dingin seperti layaknya mobil mewah berpenyejuk udara. Mobil ini juga bukan mobil yang empuk. Peredam kejut pun dilepas supaya mobil tak banyak berayun dan bisa berlari lebih kencang. Di dalam balapan ini, seorang pebalap hanya berselisih beberapa detik di depan atau di belakang pebalap lain. Kalau dia kehilangan konsenstrasi sekian detik saja, dia berpotensi menabrak. Sebaliknya, jika pengemudi lain sembrono dalam sekian detik, mungkin dia akan menabrak mobil kita.

Seperti itulah bisnis hari ini. Selesai membaca itu kebetulan saya jalan-jalan ke mall, dan saya sendiri mengalami, sebagai konsumen betapa banyak pilihan yang disuguhkan kepada saya. Saya sendiri untuk membeli sebuah roti tawar saja, begitu banyak toko roti dalam satu mall yang bisa saya pilih dalam jarak demikian dekat. Betapa mudahnya konsumen beralih dari sebuah toko ke toko yang lain.

Pada saat yang sama saya mendengar teman saya menelepon sebuah operator telekomunikasi, untuk menyampaikan keluhan paket internet, yang dibelinya hanya dengan harga Rp 25.000 per bulan. Bayangkan, betapa kerasnya iklim bisnis hari ini!

Sehingga, Agung menulis, dalam kondisi tuntutan dunia bisnis yang seperti itu, apakah mungkin perusahaan masih membiarkan karyawannya bekerja seperlunya atau santai-santai saja? Apakah masuk akal karyawan tidak memiliki kompetensi dan performance dibiarkan “menumpang hidup” saja? Apakah karyawan masih boleh memilih untuk berkontribusi atau tidak? Sudah pasti tidak!

Karyawan bukan pengemis

Dalam buku yang sudah cetak ulang ketiga pada bulan Januari 2014 yang lalu sang CEO Kompas banyak memberikan inspirasi dari fenomena-fenomena dan kejadian yang terjadi di sekitar kita. Sebagai seorang CEO yang pernah terpilih menjadi CEO terbaik pada tahun 2009, ternyata Agung banyak juga memberikan inspirasi kepada karyawan di dunia kerja serta dalam hal pengelolaan SDM.

Salah satu cerita menarik lainnya adalah tentang Kambing dan Kayu Bakar. Agung menyindir karyawan yang meminta kenaikan gaji, “mengapa harus ada pertanyaan kapan naik gaji, dan mengapa karyawan harus minta kenaikan gaji?” Bukankah orang yang meminta-minta itu hanya layak disebut pengemis?

Menurut Agung, apabila kita mempunyai value dan memberikan kontribusi yang baik kepada perusahaan, otomatis kesejahteraan dan kenaikan gaji pasti akan didapat tanpa perlu meminta-minta.

Dalam tulisan tersebut Agung memberikan teori tentang 4 kelompok kotak matriks, untuk menunjukkan mana karyawan yang termasuk punya martabat, dan mana yang sama sekali tak ada value-nya. Kotak itu dimulai dari Tukang Batu di kiri atas, Kambing di kanan atas, Anak Asuh di kanan bawah, dan Kayu Bakar di kiri bawah. Untuk lebih afdolnya sebaiknya saya tidak membocorkan isi buku, namun saya sarankan untuk dapat dibaca langsung selengkapnya pada buku tersebut, yang disajikan dengan bahasa yang lincah dan renyah sehingga mudah dicerna.

Terdapat 17 esai yang merupakan inspirasi dari orang-orang yang telah melihat terang dalam hidupnya. Mungkin karena itu diberi judul “Memetik Matahari”. Saya juga terkesan dengan cerita tentang Nobita dan Doraemon. Apakah kita memilih menjadi Nobita yang pengeluh, atau menjadi Doraemon yang selalu datang dengan solusi?

Sebagai karyawan, apakah kita termasuk Tukang Batu, Kambing, Anak Asuh, atau Kayu Bakar? Temukan jawabannya di buku inspiratif tersebut. Mari kita memetik matahari bersama Agung Adiprasetyo.

Tags: ,