Memacu Excellence Performance melalui Coaching

KARINA adalah seorang manajer restoran pada sebuah dinner house, telah mengamati salah satu karyawannya, Mirta, dengan teliti. Hasilnya, Mirta ini memiliki masalah dalam bekerja. “Dia tertinggal di belakang pelayan lain, dan beberapa pelanggan mulai mengeluhkannya,” ujar Karina ketia ia mengajak diskusi asisten manajernya.

Dalam sebuah sesi diskusi, Karina bicara empat mata dengan Mirta dan meminta umpan balik darinya. Nyatanya, Karina menyimpulkan bahwa masalah yang dihadapi Mirta ini sebenarnya tidak terkait dengan sikap maupun rasa percaya diri. Namun begitu, ia merasa bertanggungjawab untuk memperbaiki ketrampilan anak buahnya ini.

Mirta lantas mengaku kepada Karina, “di coffee shop tempat saya bekerja sebelumnya, saya menggunakan komputer yang berbeda dan tuntutannya juga tidak sama.” Atas fakta ini, Karina lantas menugaskan Hilmi, seorang pelayan lainnya untuk menjadi mentor dan instruktur Mirta. “Selain itu,” kata Karina kepada Mirta, “saya akan meminta Jimmy, si bartender, untuk menunjukkan kepada Anda bagaimana cara membuka botol anggur yang benar.”

Atas langkah yang diambil oleh Karina ini, Mirta merasa lega dan dihargai. “Terima kasih,” katanya tulus kepada Karina, sambil meneruskan, “manajer yang lain mungkin akan memecat saya, bukannya menyisihkan waktu untuk membantu saya agar sukses.”

Dari sekelumit cerita di atas, apakah Anda sudah mendapatkan insight? Nukilan ini adalah bagian dari beberapa kasus kecil yang mungkin saja bisa berdampak besar di organsiasi Anda. Cerita tersebut selengkapnya bisa digali di buku terbaru berjudul “Coaching for Excellence Performance.”

Selaras dengan judulnya, di dalam buku setebal 140 halaman ini memang membahas pentingnya peranan seorang coach dalam memicu dan memacu performance yang prima bagi para karyawan di sebuah perusahaan. Memahami peranan coach sendiri, secara gampang bisa kita lihat seperti analogi di balik suksesnya klub sepakbola. Kita bisa menyaksikan di FC Barcelona ada sosok Pepp Guardiola, yang menjadi sosok penting di belakang prestasi gemilang klub kaya asal kota Barcelona, Spanyol tersebut. Di Manchester United ada Sir Alex Ferguson, sedangkan di Real Madrid ada coach nyentrik namun berkarakter, yakni Jose Mourinho.

Di organisasi pun sebenarnya peranan coach juga sama pentingnya. Di bukunya ini, Bill Foster dan Karen R. Seeker seakan memberikan panduan kepada manajer semua lini untuk mendukung agar anak buahnya bisa mencapai prestasi puncak. Seperti diketahui, dalam upaya mencapai sasaran kinerja yang telah dicanangkan sejak awal, praktek di lapangan sering menunjukkan bahwa banyak karyawan yang menghadapi kendala.

Di dalam buku yang dicetak hard-cover ini, dipaparkan coaching model melalui empat langkah, yakni: memantau kinerja, menyampaikan umpan balik, mendiagnosis peluang peningkatan kinerja, serta menetapkan cara mendongkrak kinerja. Sebagai panduan praktis, buku ini pantas dimiliki karena telah dilengkapi dengan formulir dan template yang bisa langsung digunakan dalam penerapan di tempat kerja. Paling, hanya diperlukan penyesuaian di sana-sini, dicocokkan dengan kebutuhan di masing-masing organisasi.

Buku “Coaching for Excellence Performance” yang diterbitkan oleh Penerbit PPM Manajemen, adalah bagian dari “Performance Management Series”. Performance Management Series sendiri, terdiri dari 4 buku, yakni berjudul: 1) Planning for Excellence Performance, 2) Coaching for Excellence Performance (buku yang sedang diresensi ini, red), 3) Evaluating for Excellence Performance, dan 4) Measuring Organizational Performance.

Tujuan akhir dari buku ini tentu saja adalah bagaimana para manajer bisa memastikan sasaran kinerja karyawannya sesuai dengan apa yang sudah direncanakan (planning) sejak awal. Bukankah keberhasilan kinerja yang dicapai oleh karyawan, berdampak positif juga bagi kinerja manajer dan tentu saja secara tim? (rudi@portalhr.com)