Hubungan Karyawan adalah “kontrak psikologis”, tips & tricks engage karyawan

“Employees who believe that management is concerned about them as a whole person —not just an employee—are more productive, more satisfied, more fulfilled. Satisfied employees mean satisfied customers, which lead to profitability.”

Quote dari Anne M. Mulcahy, mantan CEO Xerox di atas membuka buku Tips & Tricks Engaging Talents. Buku terbaru dari Michael Adryanto ini merupakan rangkaian Seri Manajemen Sumber Daya Manusia, setelah sebelumnya Managing Director Strategic & Human Resources Director Sinarmas Agribusiness & Food ini menulis “Tips & Trick on Getting the Right Talents” dan “Tips & Tricks for Driving Productivity.”

Engagement karyawan seringkali merupakan tujuan dari berbagai kegiatan manajemen SDM. Mendapatkan karyawan yang unggul sekaligus engaged, sangatlah bernilai bagi perusahaan, dan akan menjadi competitive edge perusahaan yang tidak mudah ditiru.

Engagement didefinisikan sebagai tingkat komitmen karyawan terhadap sesuatu atau seseorang di dalam organisasi mereka, yang menunjukkan sejauh mana mereka mau bekerja keras serta seberapa lama mereka mau tetap bergabung dengan organisasi mereka sebagai konsekuensi dari komitmen tersebut.

Menurut Michael, si penggerak utama untuk menciptakan engagement, adalah motivasi. Selain motivasi, faktor lingkungan juga mempengaruhi. Ada 4 elemen pokok yang menentukan, yaitu pekerjaan itu sendiri, kompensasi dan fasilitas, lingkungan fisik dan sosial, serta atasan.

Apabila Anda mengira motivasi utama adalah uang, simak dulu cerita berikut ini:

Di sebuah penitipan anak di Haifa, Israel, seringkali orang tua terlambat menjemput anaknya. Padahal setiap kali orang tua terlambat menjemput anak, itu berarti salah seorang guru harus bekerja lebih lama karena menunggu si anak.

Karena itu, penitipan anak itu pun kemudian memberlakukan denda untuk keterlambatan penjemputan. Herannya, setelah peraturan itu diberlakukan, bukannya berkurang keterlambatan, malah bertambah!

Peneliti  Uri Gneezy dan Aldo Rustichini (2000) lalu menyimpulkan dari penelitian tersebut bahwa uang bukanlah satu-satunya perangkat yang bisa memotivasi. Malah, pelibatan uang bisa mengubah intensi awal. Dalam kasus di atas, denda yang dimaksudkan untuk meningkatkan motivasi agar orang tua melakukan tindakan yang diharapkan, justru membuat sebagian besar di antara mereka mengurungkan niat awal mereka untuk selalu berusaha menjemput tepat waktu.

Jika tadinya mereka termotivasi untuk menjemput karena alasan tanggung jawab moral (“Saya perlu bersikap adil terhadap guru anak saya”), denda yang diterapkan malah mengubah filosofi mereka menjadi transaksional murni (“Saya bisa membeli tambahan waktu”).

Cerita di atas menunjukkan, bagaimana penggunaan uang sebagai faktor motivasi harus hati-hati. Salah-salah malah menghasilkan hasil yang sebaliknya. Apalagi, seperti dilukiskan oleh Michael, hubungan kekaryawanan pada dasarnya seperti keramik antik. Jika dirawat, tampak cantik menarik, bersih mengkilap dan anggun menggoda. Tetapi juga rawan pecah jika kurang hati-hati memegangnya.

Michael menambahkan, karena berbagai karakteristik hubungan kekaryawanan ini lebih bernuansa psikologis daripada legal formal. Denise M. Rousseau mengemukakan, hubungan kekaryawanan memang lebih menyerupai “kontrak psikologis.”

Karena itu pahamilah psikologi karyawan, apa saja yang membuat seseorang termotivasi. Selain menjelaskan teori motivasi, buku ini juga memberikan tips & trick untuk menciptakan faktor lingkungan yang mendukung meningkatnya engagement karyawan. Buku yang cukup lengkap mengupas berbagai aspek dalam meningkatkan engagement karyawan, serta disajikan dengan banyak cerita dan contoh kasus.

Tags: