Geser Teropong Anda, Kerja itu Ibadah

Tidak jarang sebagai karyawan kita menemukan kendala yang bisa mematahkan semangat bekerja. Kebutuhan hidup menuntut kita untuk terus bersaing dengan performa yang dibutuhkan perusahaan. Akibatnya banyak karyawan yang stress karena beban kerja di kantor.

Tetapi terkadang masalah Anda sebenarnya tidak seberat apa yang Anda sangka. Sebelum Anda memutuskan untuk stress, sudahkah Anda mengevaluasi terlebih dulu apa saja kontribusi yang Anda berikan sampai saat ini untuk menunjang keberhasilan tim.

Buku “Menjadi Bawahan Berpengaruh” mengajak kita untuk mengukur terlebih dulu tujuan hidup kita selama ini sehingga ‘bekerja’ akan menjadi hal yang menentramkan. Penulis di awal mengingatkan kita tentang esensi bekerja, menurutnya “ketika Anda bekerja, sebenarnya Anda sedang terlibat dalam sebuah proses untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Hasil akhir dari proses besar di perusahaan atau organisasi Anda adalah manfaat yang diberikan pada customer Anda. Untuk itulah Anda dibayar,” demikian seperti dikutip dari buku ini.

Bila boleh mengoreksi, kita sepertinya lebih sering menitikberatkan kepada keuntungan yang akan kita dapatkan bila kita bekerja. Tanpa menelaah apa saja yang sudah kita kerjakan. Sebaiknya “kerjakan PR Anda dulu: menjadi profesional yang bertanggung jawab atas hidupnya,” imbau penulis dalam buku ini.

Karena setiap bos pasti akan mengharapkan karyawannya mempunyai nilai lebih untuk perusahaan. Seperti ungkapan Direktur Utama PT. Medco Downsream Indonesia, Djatnika S. Puradinata ketika ditanya apa yang membuat bawahan mereka begitu penting, begini jawabnya: “Karena orang ini begitu semangat mengembangkan kemampuan dirinya, membantu rekan kerja, fokus mencari solusi, bukan berdebat. Dalam menjalankan tugas pribadinya, dia membuat perencanaan dengan strategi antisipasif, tidak takut gagal atau keliru dengan menyadari kekurangan diri, tetap rendah hati, bukan rendah diri, dan menjadi teman diskusi yang menyenangkan.” Pasti semua bos menginginkan hal yang sama, walau mungkin masih tersirat.

Sebagai karyawan yang mempunyai tujuan hidup yang mulia, kita tentunya dengan senang hati menjalankan kewajiban kita, salah satunya menjadi partner yang berbakat dan bertanggung jawab.

Penulis menyebutnya dengan “Bekerja Seutuhnya” yaitu bekerja total, bukan hanya bekerja keras tanpa arah dan strategi. Bekerja secara total berarti bekerja secara fisik, pikiran, emosional, dan spiritual. Bekerja total inilah yang membuat generasi ’45 berhasil membawa bangsa Indonesia merdeka. Dan kepuasaan dari bekerja total inilah yang membawa kenikmatan.

Agar Anda semakin jelas memahami Bekerja Total, penulis menjabarkannya menjadi 4 elemen:

1. Bekerja Ikhlas: Keihlasan membantu Anda menerima keadaan dan lepas (detach) dari situasi yang tidak Anda inginkan.

2. Bekerja Cerdas: Setelah Anda Ikhlas, Anda siap untuk bekerja secara cerdas. Jadilah orang yang berarti bagi atasan Anda.

3. Bekerja Keras: Bekerja keraslah memenuhi kebutuhannya, lakukan hal lebih dan antisipasi.

4. Bekerja Sehat: Sehat secara fisik dan emosional. Hubungan yang sehat saling menghormati dan bermanfaat.

Buku mungil ini tidak hanya memberikan motivasi untuk mengeluarkan emosi pembacanya saja, tetapi penulis juga menyampaikan cerita-cerita ringan dan menarik seputar hubungan atasan dan bawahan. Gambaran langsung dari studi kasus itu membuat kita lebih mudah menyerap solusinya.

Setelah membuka apa saja rahasia menjadi bawahan berpengaruh, buku ini juga menyertakan daftar tugas yang bisa kita praktekkan langsung dari pengalaman sang pembaca. Tidak berlebihan jika saya katakan buku ini cocok untuk Anda yang sedang dilanda pertentangan batin karena mengalami karir yang stagnan. Bukan untuk memojokkan, tetapi mengarahkan alur mana yang secepatnya Anda ambil. Selamat membaca kisah Anda untuk sukses Anda. (*/@nurulmelisa)

Tags: ,