Employer Branding: When HR is the New Marketing

Buku Employer Branding_When HR is the New Marketing

Buku “Employer Branding: When HR is the New Marketing” adalah debut dari penulis muda berbakat Agnes Amelia, yang telah memiliki banyak pengalaman manajemen dan praktisi di berbagai industri. Penulis mulai bersentuhan dengan tema employer branding saat ia berkarier di perusahaan global dan berkantor pusat di Swedia. Melalui buku ini, kita kecipratan imu dan pengalaman berharga tersebut.

Membaca buku ‘Employer Branding’ ini, serasa lahir dari kegundahan penulis yang notabene kini adalah konsultan yang dalam kesehariannya bersentuhan dengan para user yang mengeluh bagaimana sulitnya mencari talent yang tepat. Memang sedikit ironi manakala mendiskusikan apakah betul mencari kandidat terbaik di pasar itu adalah problem yang sangat serius. Karena secara kasat mata sama-sama kita lihat, pasar tenaga kerja di tanah air, ibarat kata tak pernah ada istilah kekurangan dalam hal jumlah. Tiap tahun, selalu ada saja lulusan sarjana dari beragam disiplin ilmu.

Buku Employer Branding_When HR is the New Marketing

Nyatanya, penulis berhasil meyakinkan data dan fakta yang cukup mengejutkan. Analogi tentang sulitnya mendapatkan talent di pasar, digambarkan dengan pas bahwa semisal ada 100 target talent yang tersedia, kalau saja itu dibedah, akan didapatkan detil sebagai berikut; 10 orang mengaku akan melanjutkan studi S2, 5 orang suka menjadi blogger/vlogger/media online lainnya, 2 orang akan menjalankan online shop yang sudah dirintis semasa kuliah, 3 orang ingin jadi motivator atau penggagas gerakan sosial, 2 orang memulai bisnis pribadi, dan 3 orang meneruskan usaha keluarga. Praktis, kini tinggal 70 orang, dan ini juga tidak sepenuhnya utuh 70 orang, karena 20 orang ternyata sangat ingin menjadi PNS, 15 orang berambisi masuk di jalur karir internasional, 15 orang ngebet ingin kerja di BUMN, 5 orang idealis akan masuk dunia start-up, dan 15 orang memilih perusahaan swasta.

Sehingga kalau Anda berprofesi sebagai manager yang mengurusi rekrutmen di salah satu BUMN, dari 100 total target yang ada di pasar, sekilas hanya ada 15%-nya saja. Yakin 15% ini jatah Anda? Tentu saja tidak, karena kue 15% ini pun harus rela dibagi-bagi lagi, karena toh BUMN tidak hanya satu. Inilah barangkali, ilustrasi bahwa mendapatkan talent di pasaran ternyata tak semudah membalikkan tangan.

Bahkan setelah Anda selamat dan sukses merekrut ‘the best talent’ di tahap awal, Anda masih harus bisa ‘menundukkan’ talent yang sekarang ini mayoritas berasal dari generasi milenial. Sama-sama kita mafhum, ‘menundukkan’ mereka ini cukuplah menantang, tak lain karena pola pikir mereka terhadap dunia kerja yang sangat berbeda dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Alih-alih Anda bisa mendominasi pada saat sesi interview, yang ada justru mereka akan memborbardir dengan pertanyaan-pertanyaan yang dulunya tabu untuk disampaikan oleh kandidat, semisal; berapa gaji yang didapat, ada tidaknya fasilitas mobil, atau apakah ada WiFi di kantor, sampai pertanyaan… bisa nggak saya ngantor dengan jam kerja yang fleksibel.

Generasi milenial memang ‘dunia’ tersendiri yang penuh warna dan unik. Pernah dengar cerita, salah satu perusahaan yang memaksakan aturan kepada talent yang ingin mundur dari kesepakatan kerja dan diharuskan membayar ganti rugi yang nominalnya tidak sedikit? Cerita itu ada, dan itulah milenial.

Lantas, apa hubungannya dengan buku ini. Sedikit bocorannya, dilihat dari daftar isinya, maka buku ini membahas tentang 2 (dua) hal besar; bagian pertama, “Human Age, When The Era Changes” yang di dalamnya, pembaca akan diajak berdikusi mengenai topik; “Talent Vs Employer, Talent Surplus dan Talent Shortage, (The Right) Human is the Capital, War for Talent, HR is the New Marketing”; dan bagian kedua, “Employer Branding: Ide, Konsep dan Implementasi” di mana di bagian kedua ini dipecah menjadi sub judul: “Ide dan Konsep Employer Brand, Akar dari Employer Branding, Employer Branding, Sebuah Keharusan?, Keterkaitan Employer Brand – Corporate Brand dan Consumer Brand, Employer Branding Journey, dan Langkah Strategis”.

Itulah adanya jika Anda penasaran dengan isi buku ‘Employer Branding’ ini. Harus diakui bahwa istilah employer branding sendiri termasuk fenomena baru, khususnya di tanah air. Sehingga saat Anda memegang buku ini, wajar jika akan ada banyak pertanyaan yang muncul di kepala.

Mengusung kata ‘brand’ dan ‘branding’ di belakang ‘employer’, sehingga membentuk istilah ‘employer brand’ dan ‘employer branding’ memang berbeda dengan konsep branding seperti yang selama ini kita pahami pada umumnya. Beruntung, penulis mengutipkan ide Simon Barrow dan Richard Moslyey (2005) yang menyederhanakan konsep baru tersebut sehingga kita lebih mudah mencernanya. Melalui tulisan berjudul “The Employer Brand, Bringing the Best of Brand Management to People at Work”, Simon dan Richard mendefinisikan employer brand sebagai citra merek dan reputasi organisasi sebagai pihak pemberi kerja dan tempat bekerja, bukan reputasi dalam brand korporasi yang lebih luas dan umum. Di sini, titik tekannya lebih spesifik, dalam konteks ‘pemberi kerja’ dan ‘tempat bekerja’.

Sehingga, bisa ditarik benang merah bahwa kegiatan employer brand ini adalah upaya dari organisasi atau perusahan dalam memosisikan dirinya sebagai pemberi kerja dan tempat bekerja yang diidam-idamkan oleh para pencari kerja. Tujuannya, untuk memunculkan kesan impresif bahwa hanya di tempatnya-lah, para pencari kerja bisa mewujudkan mimpi-mimpinya, jauh lebih baik dibandingkan dengan kompetitornya. Hal inilah yang kemudian bisa dipahami, kegiatan employer branding ini agak sedikit ‘soft selling’ alias ‘menjual’, ‘mempromosikan’, ‘memberikan impian’, ‘menyuguhkan harapan’ kepada para pencari kerja yang sangat mengidolakan bisa bekerja di kantor yang ideal, keren dan bisa dibanggakan.

Dalam dokumen digital, penulis juga menunjukkan bahwa kini makin banyak artikel mengenai employer brand(-ing) baik dalam acuan bisnis maupun akademik, yang ini membuktikan perusahaan-perusahaan pun mulai aware dengan topik yang satu ini. Sebut saja perusahaan multinasional sekelas Google, General Electric, Danone, Nesle, L’Oreal, Unilever hingga perusahaan nasional seperti BCA, Bank Mandiri, Telkom, Indosat Ooredoo, Kompas Gramedia, Unilever Indonesia, dan perusahaan-perusahaan mapan lainnya.

Menjawab pertanyaan mengapa employer branding penting dilakukan, penulis memberikan ilustrasi angka didasarkan pada temuan LinkedIn yang dimuat di Harvard Business Review (2016), bahwa perusahaan dengan 10.000 karyawan lebih, menghabiskan Rp 100 miliar lebih banyak sebagai kompensasi tambahan atas lemahnya employer brand mereka. Melemahnya employer brand ini harus ditebus 10% lebih mahal dalam hal cost of hiring, hanya untuk meyakinkan kandidat agar mau bergabung dan menerima pekerjaan yang ditawarkan.

Data tersebut memang diambil dari responden di Amerika Serikat, setidaknya data ini bisa menjadi semacam alarm. Kalau sudah begini, apakah Anda masih berpikir employer branding ini hanyalah konsep ataupun program yang mengada-ada dan hanya membuang-buang duit? Anda tidak wajib dan tak harus buru-buru pula menjawabnya. Baca saja buku ini terlebih dahulu.

Menulis buku setebal 308 halaman sendiri, sudah menjadi point bagi penulis untuk diberikan dua jempol sebagai apresiasi, apalagi mengangkat topik tentang employer branding yang di tanah air masih sangat sedikit referensinya.

Harapannya, buku ini menjadi inspirasi dan memicu lahirnya buku lanjutan dari penulis serta ‘menyulut’ para praktisi dan expert di bidang employer branding lainnya untuk juga ‘unjuk gigi’, mengeluarkan tacit knowledge yang dimilikinya dan kemudian melakukan knowledge harvesting. Sehingga akan lebih banyak pengetahuan dan best practices dari beragam sudut pandang, yang pada akhirnya menjadi rujukan bagi organisasi, perusahaan, maupun institusi untuk lebih baik lagi di masa mendatang, khususnya dalam merancang dan menjalankan program employer branding ini. (*/@erkoes)

Tags: ,