Belahan Jiwa CEO, Inilah Peran Anyar Praktisi SDM

SEIRING DENGAN PERKEMBANGAN praktik-praktik yang ada di organisasi sekarang ini, area sumber daya manusia mulai mendapat sorotan. Ini pula yang menjadi alasan kenapa kemudian banyak yang mengaitkan kesuksesan sebuah organisasi dengan saat di mana Chief Executive Officer (CEO) berhasil mengelola bisnisnya dengan moncer, pada saat yang bersamaan Chief Human Resources (CHR) juga unggul dalam mengelola SDM di organisasi tersebut.

Duet CEO dan CHR lantas memunculkan istilah-istilah baru yang menandai revolusi peran praktisi HR, dari sebelumnya di jaman dulu hanya ada di wilayah administratif, kini mendapatkan tempat sejajar dengan level ‘C’ lainnya di organisasi sebagai business partner.

Membaca buku yang ada ‘ruh’nya memang sangat berbeda dengan membaca buku yang hanya dilandasi pada teori saja. Membaca buku yang ada ‘ruh’nya itu, biasanya muncul dari tulisan tangan yang berangkatnya melalui pengalaman panjang si penulis itu sendiri. Inilah yang dirasakan ketika membaca buku berjudul “As CEO’s Soulmate, Peran Baru Praktisi SDM di Landskap Baru Bisnis Global” yang ditulis oleh Paulus Bambang WS, salah satu Direktur di PT Astra International Tbk.

Tentu patut mendapatkan apresiasi tersendiri, di tengah kesibukannya sebagai top level manajemen, Paulus masih menyempatkan diri berbagi pengalamannya bagaimana mengelola people dari sebuah organisasi yang memiliki ratusan ribu karyawan.

Buku “As CEO’s Soulmate” sendiri, sebenarnya hanya memuat 4 Bab saja. Namun jika ditelaah, materi yang ada di dalamnya adalah ‘daging’ semua yang akan memberikan energi bagi para praktisi HR, membuka hati dan pikiran untuk memandang bahwa perannya saat ini begitu penting di organisasi.

Buku inipun memberikan banyak insight bagaimana menyelaraskan sudut pandang antara CEO dan CHR agar bisa berjalan seiring, bisa menggerakkan segala daya yang ada di organisasi untuk mencapai ‘goal’ perusahaan.

Di Bab I, Paulus menyajikan “Sepuluh Tantangan CEO dalam Landskap Baru Pengelolaan SDM” di mana 10 tantangan tersebut sudah diluluhlantakkan oleh perubahan zaman yang harus disikapi secara positif dan proaktif oleh duet CEO-CHR. Titik tekan di sini adalah kecepatan dari para pemikir dan praktisi SDM yang meskipun sekarang mendapat angin segar, nyatanya masih banyak yang terkungkung dengan praktik SDM masa lalu dan ini tentu saja sangat disayangkan kalau perubahan nama dari Personalia beralih ke Sumber Daya Manusia, Human Resources dan kini akrab di telinga dengan sebutan Human Capital, hanyalah jargon belaka, tapi pola pikir, paradigma dan praktiknya tidak berubah sama sekali.

Highlight dari buku ini tampaknya memang ada di Bab 2 yang mengupas topik “Menjadi CEO’s Soulmate Sejati,” di mana Paulus menulis bahwa CEO dan CHR harus menjadi kesatuan yang solid, yang kemudian diistilahkan sebagai ‘garwa’ yang dalam Bahasa Jawa bermakna ‘sigaraning nyowo’ dan oleh penulis disederhanakan dalam konsep “A Soulmate” bukan sekadar atasan dan bawahan biasa. Buku ini makin menarik ketika penulis kembali mengingatkan untuk berpijak pada kenyataan dengan beberapa pertanyaan penting, seperti misalnya, “Bagaimana menghadapi CEO yang tak bisa dijadikan Soulmate?”, “Bagaimana bila CEO Anda salah prioritas?”, atau “Bagaimana bila ternyata kacamata CEO dan CHR ternyata berbeda?”

Di Bab 3, Paulus lagi-lagi membuka mata bagi para praktisi HR dengan melontarkan ide “Mengelola Talent dengan Format 4.0” yang ini saja tentu memunculkan rasa penasaran. Salah satunya tentu muncul pertanyaan memangnya mengelola ‘talent’ itu ada format dan versinya? Kalau ada Format 4.0, berarti ada format-format sebelumnya mulai dari Format 1.0, Format 2.0, dan Format 3.0 dong? Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Mengelola Talent dengan Format 4.0 itu? Nah kalau Anda penasaran, beruntung penulis telah menuliskannya pemikirannya secara panjang lebar sebanyak 78 halaman sendiri. Di Bab ini, seolah Anda akan menemukan buku petunjuk yang cukup lengkap bagaimana menghadapi perubahan talent di organisasi.

Di Bab 4 sebagai bab terakhir, Paulus menuliskan “Sepuluh Isu Praktis dalam Pengelolaan SDM di Landskap Baru” yang harus menjadi perhatian khusus. Di antara 10 isu praktis itu adalah; 1) Krisis bisnis yang dihadapi perusahaan, 2) Kelesuan bisnis: Kontribusi team HR dan SP dalam menjaga kelangsungan bisnis, 3) Menghadapi Krisis dengan membentuk: Gugus “Black Swan”, 4) Menghadapi Krisis dengan Menyiapkan ‘The TIGERS Team’, dan 5) Melawan Inertia: Penyakit Kronis Organisasi di samping ada 5 isu praktis penting lainnya yang sudah dituliskan oleh penulis. Jika Anda penasaran dengan apa itu 5 isu praktis lainnya, ada baiknya buku ini Anda pertimbangkan untuk menjadi panduan atau minimal menjadi ‘amunisi’ untuk mengambil langkah-langkah kebijakan di organisasi. (*/@erkoes)

Tags: , ,