XL Lakukan Transformasi Agresif Untuk Gaet Lebih Banyak Pelanggan

hasnul suhaimi

hasnul suhaimi

Tidak ada sesuatu di dunia ini yang konstan, selain perubahan itu sendiri.

Mungkin, bukan kali pertama kita mendengar kata bijak tersebut. Namun, perkara apakah kita sudah benar-benar paham maksudnya, belum tentu. Sebuah inspirasi menarik datang dari pemaparan Hasnul Suhaimi, Chief Executive Officer (CEO) dari XL Axiata tentang bagaimana sebuah perusahaan telekomunikasi raksasa Indonesia dikelola untuk bisa terus berlari mengikuti perkembangan zaman.

XL adalah salah satu perusahaan yang giat untuk melakukan transformasi. Hasnul menyebut kebangkitan XL pada tahun 2007 hingga saat ini sebagai perubahan dari seekor kucing rumahan menjadi macan tutul yang garang. “Perubahan yang terjadi pelan-pelan dan tanpa kita sadari akan membunuh diri kita,” ungkap Hasnul. Itulah yang memicu XL untuk bergerak dengan sangat agresif hingga ditetapkanlah sebuah budaya perusahaan bertajuk “FEEL” yakni Fast, Eager & Lean.

Ketika masuk ke XL pada 2006, saat itu perusahaan tersebut baru mampu meraih 10% dari total pangsa pasar. Mereka bermain sangat aman dengan skema production cost yang tinggi dan volume penggunaan yang tidak cukup banyak. Hasnul mengumpamakan bisnisnya selayaknya maskapai kelas premium, mahal dan minim penumpang. Setelah menetapkan visi XL, “123” atau yang dijabarkan menjadi berkualitas nomer satu (1) terbesar kedua (2) di Indonesia dalam tiga (3) tahun, revolusi pun dimulai. Visi tersebut kemudian didefinisikan dalam sebuah strategi bisnis yang serba baru yakni low cost – high volume. XL berupaya menekan production cost dan di satu sisi menggaet konsumen sebanyak-banyaknya. Kondisi seperti ini berlangsung hingga tahun 2009.

Transformasi kembali dilakukan ketika pasar tiba-tiba berubah secara drastis. Perilaku konsumen berubah dari yang sebelumnya memakai sms dan telepon, menjadi pemakaian data berkat maraknya social media dan fasilitas instant messaging. Mau tak mau, XL yang tadinya memakai pendekatan sebagai minute company, harus berubah menjadi bit company pada tahun 2010-2011, dimana strategi bisnis yang dipakai pun berlainan. Salah satu langkah krusial yang diambil adalah perbaikan infrastruktur yang juga dibarengi oleh perubahan budaya baru. FEEL (fast, eager, lean) berubah menjadi FEEL 3.0, yakni Fierce, Excellent dan Leading.

Kompetitor pun semakin bertambah, XL dituntut untuk menjadi tegas dalam mendefinisikan siapa target pasar mereka. Ditambah lagi dengan menjamurnya smartphone yang sangat menentukan keputusan konsumen dalam membeli paket data. Sejak tahun 2011-sekarang, XL mengambil pendekatan customers centricity untuk lebih mengenal kebutuhan pelanggan dalam menjalankan bisnis. Pelanggan yang dibidik pun lebih difokuskan menjadi masyarakat menengah. Dengan perubahan-perubahan visi tersebut, maka budaya perusahaan pun tak boleh stagnan. Budaya terbaru yang dianut XL bertajuk TODE yang merupakan singkatan dari Take Ownership, Outside In, Demanding, dan End to End.

Salah satu contoh perusahaan yang gagal melakukan adaptasi terhadap perubahan adalah Kodak. Menurut Hasnul, Kodak gagal mengubah culture atau budaya yang telah lama ada di perusahaan, sementara telah terjadi banyak perubahan di dunia industri. Karena itu menurutnya, perubahan bukanlah suatu yang harus dihindari. Justru seorang entrepreneur harus mampu melihat peluang dalam setiap perubahan. (*/@yunitew)

Baca juga: Presdir XL: Untuk Strategi Kami Belajar Dari Ahlinya

Tags: , ,