Yodhia Antariksa: Saya Ingin Jadi “The Father of KPI”

Kelak, ketika orang bicara tentang Key Performance Indicator (KPI), orang hanya akan ingat satu nama yakni Yodhia Antariksa. Itulah harapan dan cita-cita yang kini tengah dirintis oleh Founder & Learning Facilitator PT Manajemen Kinerja Utama itu. “Saya ingin jadi the father of KPI,” kata dia.
Dengan suaranya yang nyaring dan logat Jawa yang kental, Yodhia yang pagi itu mengenakan baju batik sangat bersemangat menjelaskan bisnis yang ditekuninya dua tahun belakangan ini. Sesuai dengan nama perusahaan yang didirikannya, dia adalah seorang konsultan manajemen kinerja.
“Fokus saya di manajemen kinerja. Intinya bikin KPI untuk perusahaan atau divisi, bahkan level individu atau karyawan. Saya sudah bikin untuk banyak perusahaan. Posisi (perusahaan) saya di bidang ini termasuk cukup papan atas,” papar dia setengah berpromosi.
Diminta menjelaskan KPI dalam satu-dua kalimat yang sederhana, Yodhia menjawab, “Bagaimana mengukur karyawan dengan indikator-indikator yang lebih terukur dan objektif.” Menurut dia, salah satu penyakit manajemen di Indonesia adalah kecenderungannya untuk memakai bahasa kualitatif dan subjektif. Kabar baiknya, kini mulai banyak perusahaan yang mengkombinasikan antara aspek perilaku atau kompetensi dengan KPI.
Memang, ada industri tertentu yang KPI-nya unik, di luar standar yang baku, misalnya industri televisi yang tergantung pada sistem “rating”. Namun, secara umum, semua jabatan memiliki sisi universal meskipun industrinya spesifik.
Yodhia meyakinkan bahwa semua perusahaan perlu KPI, termasuk lembaga-lembaga pemerintahan. “Ini tidak ada kaitannya dengan besar-kecilnya organisasi, melainkan per posisi. Mungkin untuk perusahaan tertentu sampai level supervisor dulu, atau level manajer,” ujar dia.
Ditambahkan, dengan adanya KPI, atau dalam istilah Indonesianya Indikator Kinerja Utama (IKU), akuntabilitas karyawan jadi lebih jelas dan ketahuan nilainya. Dengan demikian, ujung-ujungnya, manajemen bisa lebih muda mengevaluasi. “Intinya mengelola kinerja jadi lebih mudah,” tegas dia.
“Kalau kita bilang fokus pada people tapi nggak bisa ngukur orang secara objektif, ya omong kosong itu.” tambah dia.
***
Punya perusahaan konsultan memang sudah menjadi visinya sejak kuliah di Jurusan Manajemen Universita Islam Indonesia Yogyakarta. Ketika memasuki dunia kerja, visi itu semakin mengkristal. “Ketika kerja sebagai trainer di Bogasari for Meal saya mulai menemukan bahwa bidang konsultan yang saya inginkan itu HR,” kenang ayah dari dua orang anak yang lahir di Pekalongan, 7 Februari 1971 itu.
Untuk memperdalam ilmu HR, Yodhia pun mengambil program master dalam bidang HR Management di Texas A&M University, AS atas beasiswa dari Fulbright. Kembali ke Tanah Air pada 2001, dia bekerja sebagai konsultanm SDM di Ernst&Young dan dua tahun kemudian pindah ke GML. “Semua itu dalam rangka untuk nyari pengalaman,” kata dia.
Setahun di GML, dan telah memiliki hubungan yang baik dengan sejumlah klien, Yodhia pun memberanikan diri untuk keluar dan mendirikan perusahaan yang dicita-citakannya itu. Dia menjalankan usahanya dengan sistem associate. “Saya punya empat orang partner yang on call,” ungkap dia.
Untuk mendukung pengembangan perusahanaannya, Yodhia yang tergolong generasi digital ini memanfaatkan kekuatan jejaring sosial di internet dan blog. Lewat situs strategimanajemen.net dan sebuah fan page di Facebook, dia mempromosikan jasa konsultasinya. “Cukup efektif, ada orang yang mengundang saya karena tahu saya lewat blog itu,” ujar dia.
Berkecimpung di dunia konsultan membuat Yodhia bertemu dengan tantangan yang berbeda-beda, dan itu menarik baginya. “Saya jadi tahu banyak tentang berbagai industri, dari properti sampai pelabuhan,” kata dia.
***
Sebagai orang yang mencintai dan percaya penuh pada bidang yang ditekuninya, Yodhia yakin bahwa KPI merupakan salah satu kunci jawaban untuk banyak problem HR saat ini. “Lihat saja, banyak karyawan yang kerjaannya keliatannya bertumpuk-tumpuk, tapi hasilnya nggak ada, terutama pegawai pemerintah itu,” kata dia.
Pada sisi lain, Yodhia melihat, orang HR sebagai pengelola karyawan masih banyak yang miskin kreativitas. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Yodhia menyebut antara kurangnya sumber daya dan kapabilitas yang memang tidak mencukupi.
“Banyak program HR yang mandek di tengah jalan, nggak ada monitoring, kurang tekun mengawal, mungkin waktunya nggak ada atau nggak mau keliling. Idealnya orang HR itu datang ke masing-masing departemen, bicara mengenai KPI,” saran dia.
Hobi membaca dan punya motto “happiness is small thing”, Yodhia masih menyimpan satu obsesi yang ingin segara diwujudkan. “Saya sedang menyusun buku dictionary KPI semua jabatan baik swasta maupun pemerintahan. Kalau jadi, dahsyat itu, pasti laku itu,” kata dia berapi-api.