Wiwik Wahyuni: Wanita "Rebel" yang Senang Membantu Orang Lain

Wiwik Wahyuni

Titik balik perjalanan karir seseorang bisa tidak diduga-duga datangnya. Siapa sangka anak ke sembilan dari 10 bersaudara yang terbiasa mengemban tata krama kedaerahan itu kemudian menjadi akrab dengan atmosfer di negeri orang, berkarir antar negara dan uniknya itu karena sifat bawaan dari ayahnya.

“Saya tipe orang yang tidak suka diancam,” kalimat itu meluncur lugas dari wanita bernama lengkap Wiwik Wahyuni yang anggun mengenakan batik bermotif bunga saat wawancara bersama PortalHR di Hotel Dharmawangsa beberapa waktu yang lalu.

HR Director PT Arnott’s Indonesia ini menyadari bahwa sifat ‘pemberontak’ nya memberikan manfaat tersendiri bagi karirnya selama ini. Setelah lulus kuliah dari Fakultas Hukum Universitas Airlangga pada tahun 1991, Wiwik memulai karirnya di manajemen sumber daya manusia di salah satu perusahaan manufaktur di Surabaya. Dari sana lah ia terampil menghadapi ribuan karyawan yang mempunyai latar belakang yang berbeda-beda.

“Pernah saya disamperi sama seorang karyawan, katanya dia mau panggil bapaknya karena saya berhentikan dia. Saya bilang panggil saja bapak dan semua pasukan-pasukannya, saya bisa hadapi,” terang Wiwik. Kira-kira cerita itu menggambarkan bahwa dirinya terbiasa dididik dengan penuh kedisiplinan dan ketegasan oleh Ayahnya.

“Kita ber-10 saudara, saya kesembilan. Dari kecil, kita memang sudah dididik disiplin oleh keluarga. Saya tahu technical skill itu bisa didapat di bangku sekolah dan kuliah. Tapi soft skill itu kita dapatkan dari di mana kita dibesarkan,” terang Wiwik.

Menurutnya untuk berhadapan dengan manusia, seorang praktisi HR mesti pandai mengolah interpersonal skills dengan baik, bahkan lulusan psikologi sekalipun tidak menjamin handal akan hal itu.

“Meskipun saya belum pernah secara resmi belajar psikologi, saya belajar setiap hari bagaimana menghadapi orang dan masalah-masalah mereka. Saya mengembangkan keterampilan yang kuat dalam pengelolaan employee relation. Hal itu membantu saya berani menghadapi tantangan yang lebih besar,” ujar Wiwik.

Menurut Wiwik mengapa HR harus mempunyai soft skill yang kuat karena kita dituntut untuk memperlakukan orang dengan baik namun tegas. “HR itu akan berhadapan pada keadaan yang kurang enak, bagaimana kita bisa bilang ‘I’m sorry i cannot, but the way you say it tetap bikin orang feel good, itu tantangannya,” jelas Wiwik.

Kesabaran Wiwik menghadapi ribuan karyawan membuat perusahaan menyambut baik usahanya. Di usia yang baru beranjak 25 tahun dan baru berpengalaman 2 tahun di dunia HR, Wiwik diminta menggantikan HR Managernya kala itu. Sambutan itu ia terima baik setelah konsultasi dengan partner dan atasannya. “Mereka bilang kepada saya kalau opportunity never come twice, kita ada di belakang kamu. Jadilah, saya ambil posisi itu dengan penuh gairah untuk terus belajar,” jelas Wiwik.

Pada akhirnya saya ingin dekat dengan Keluarga

Yang menambah keyakinan Wiwik untuk maju adalah kesenangannya bisa membantu orang-orang untuk sukses. “I love to influence and help people to succeed and be better on what they do and who they are. I feel so energize and alive for even only to think of it,” tutur Wiwik.

Wanita kelahiran Tulungagung ini tidak main-main dengan ucapannya, berbekal naluri itu ia terjun ke Jakarta untuk meneruskan karirnya di DuPont, perusahaan internasional di bidang produk ilmiah. Iklim kerja yang berbeda dari perusahaan sebelumnya, dimana ia mempunyai partner yang didominasi oleh tenaga kerja asing, Wiwik tetap memilih untuk menghadapi tantangan barunya.

“Saya menyukai tantangan dan saya sadar untuk meraih itu saya harus melakukan pekerjaan sebaik mungkin,” tutur Wiwik. Jadi saat diangkat sebagai HRD Manager Pertama di perusahaan itu, Wiwik menceritakan bahwa ia rela bekerja ekstra keras demi standard kualitasnya. “Saat saya diangkat saya sadar bahwa saya produk lokal, untuk menjadi setara dengan mereka, i need to deliver good job. Saya gak mau kalah, saya harus kerja 2-3 kali lipat, setengah 6 pagi saya sudah tinggalkan rumah, jam 8 – 10 malam baru pulang,” kenang Wiwik.

Belasan tahun bekerja di negara orang, Wiwik menyadari bahwa dirinya ingin kembali ke tanah air. “Sekian belas tahun saya hanya memberikan tenaga dan pikiran saya untuk corporate saja, sekian belas tahun saya tidak pernah melakukan sesuatu yang dekat dengan keluarga saya,” terang Wiwik. Dan akhirnya wanita yang menyukai fashion design ini memutuskan untuk kembali ke Indonesia agar  bisa dekat dengan orang tuanya.

“Macet yes, nyebelin yah, berantakan yah, tapi dari segi bisnis, dinamika Indonesia sangat hidup, dan terakhir saya lihat kalau di Amerika saya seperti garam di lautan, kalau disini saya bisa memberikan pikiran ke negara saya sendiri,” terang Wiwik.

Yang membuat ia kaget saat kembali ke Indonesia, ternyata perilaku SDM lokal telah mengalami banyak perubahan, terutama anak mudanya. “Mereka lebih confident, mereka gak worry untuk mengekspresikan apa yang mereka pikirkan, mereka gak takut untuk deal dengan orang-orang asing, berbeda dengan zaman kita dulu jadinya,” terang Wiwik.

Generasi-Y membuat Wiwik tertantang untuk menghadapi mereka dengan formula yang berbeda-beda. Menurutnya untuk berhadapan dengan Gen-Y tidak bisa dengan satu kebijakan, karena mereka unik dan susah diprediksi. “Sekarang kami tawarkan COP, mereka bilang sudah dibelikan ayahnya. Yah, mereka mendorong saya untuk sekolah lagi dan belajar memahami mereka lebih,” terang Wiwik.

Wanita mempunyai kekuatan alami yaitu Influence Skill yang tinggi

Saat ini Wiwik aktif memberikan bimbingan kepada para perempuan dalam forum Woman of Cambpell di Arnots. Wiwik percaya bahwa perempuan mempunyai kekuatan tersendiri dalam memimpin. “Sebagai perempuan kita beruntung, kita bisa menggunakan influencing skill instead of power. Naluri keibuan itu pasti ada di setiap wanita. Gunakan your nature talent untuk membuat tim bahkan atasan mau mendengarkan kita,” terang Wiwik.

Kesenjangan antara wanita dan laki-laki di lingkungan kerja kadang kita sering kita temukan di sebuah perusahaan. Dimana banyak anggapan bahwa kekuatan wanita masih di bawah laki-laki, karena wanita memilki keterbatasan karena keadaan biologisnya.

Untuk hal ini, Wiwik menceritakan pengalamannya sendiri. “Kita pernah meng-hire perempuan yang sedang hamil 5 bulan, menurut saya apa sih ruginya menunggu dia 3 bulan, if you know that the person is really talent. Perusahaan seharusnya memberikan apresiasi yang lebih untuk perempuan,” jelas Wiwik.

Di era globalisasi dan besarnya persaingan bisnis, wanita dituntut untuk konsisten terhadap perannya. Selama ia berkarir Wiwik menghargai apa yang diberikan oleh perusahaan untuknya. “Selama 22 tahun saya berkarir, saya selalu menerima apresiasi berdasarkan apa yang saya lakukan. Dan begitupun sebaliknya, saya selalu berusaha mengapresiasi perempuan equal dengan laki-laki. Everything is about skill yang dijalankan. Untuk itu saya beruntung menjadi perempuan. I am very blessed, ” tegas Wiwik menutup perbincangan kami siang itu. (*/@nurulmelisa)

zp8497586rq
Tags: ,