Susanna S Hartawan, Primadona Assessment

Lupakan peramal nasib, pembaca kartu tarot, bahkan psikolog. Masa depan Anda kini berada di tangan para konsultan yang menggerakkan bisnis assessment center. Jika Anda ingin tahu, apakah Anda cocok bekerja di bagian sales, misalnya, datanglah ke Susanna S Hartawan. Managing Director PT NBO Indonesia ini sejak akhir 2004 lalu berpartner dengan Nelson Buchanan & Oostergard memegang lisensi ekslusif Thomas International Management System dari Inggris.

Thomas Internasional adalah perusahaan yang mengembangkan assessment center berbasis oral system digunakan Test for Selection and Training (TST). Menurut Susanna, dibandingkan dengan alat assessmen lain, TSmiliki validitas hingga 94% –dibandingkan dengan, misalnya sistem wawancara yang hanya 40-60%. “Jadi, TST sekarang dianggap primadonanya assessment karena validita paling tinggi,” ujar dia.

Jangan keburu membayangkan tes yang seram dan berlangsung berhari-hari. Dalam prakteknya, TST pada dasarnya merupakan tes biasa. Peserta tes menghadapi kertas dan pensil, dan ada formIisi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab. “Tes ini merupakan general training questions (GTQ) untuk mengukur liquid intelligence seorang. Kalau sebelumnya orang mengenal IQ, EQ, ESQ, maka kini ada GTQ,” papar Susanna.

Dengan kata lain, Susanna bermaksud menegaskan bahwa TST merupakan sebuah tes hasilnya bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Dan, sampai di sini, keunggulan yang ditawarkan alat tersebut belum berhenti. “Kalau selama ini orang mengeluh assessment center itu lama, maka dengan TST, hanya dalam waktu kurang dari setengah jam hasilnya sudah keluar, nggak perlu menunggu sampai seorang psikolog menganalisis orang itu gimana-gimana.”

***

Sebelum bergabung dengan NBO Thomas, Ibu Susan –demikian sapaan akrab peraih Best Indonesia Top Eksekutif Award 2003 ini- merupakan salah satu direktur Compaq Indonesia. Di perusahaan tersebut, ia bertanggung jawab untuk kualitas dan kepuasan pelanggan. Dengan jabatan itu, Susan sempat mengantarkan Indonesia menjadi nomor satu di bidang Kepuasan Pelanggan se-Asia Pacific selama dua tahun berturut-turut.

Berbekal antara lain International Certified Consultant for Thomas International Behavioral System, ditambah Certified Pritchett Rumbler Blache dari Dallas, AS dalam bidang Cycle of Leadership dan Change Management, kini Susan memimpin 15 orang konsultan di kantornya di Wisma Kyoei Prince, kawasan Sudirman, Jakarta. Semua konsultan yang dibawahinya juga mengantongi sertifikat secara internasional.

Meskipun kini sudah banyak perusahaan yang menggunakan assessment untuk berbagai kebutuhan pengembangan SDM, Susan melihat secara umum Indonesia masih ketinggalan. Ia membandingkan dengan Afrika Selatan, di mana pemerintahnya mengeluarkan regulasi yang mengharuskan semua perusahaan melakukan assessment saat rekrutmen atau promosi. Dengan perbandingan itu, Susan tak hanya hendak menunjukkan bahwa bisnis assessment di negeri itu kemudian meningkat 500 kali lipat. Lebih dari itu, “Peraturan tersebut terbukti efektif menghapus diskriminasi sosial.”

“Semua orang jadi bisa berpikir secara objektif ketika dirinya tidak diterima kerja, karena memang berdasarkan hasil yang scientific, dan Thomas sangat jaya di situ, karena bisa memutuskan dengan cepat,” sambung Susan.

Susan yakin, dalam paradigma HR yang berubah, assessment akan semakin berkembang pesat di masa depan. “Sekarang perusahaan makin banyak yang menggunakan bukan personalia lagi, tapi human capital bahwa yang namanya manusia, employee-nya benar-benar assetnya, kapitalnya, jadi harus direkrut dengan benar, dilatih dengan baik dan dipertahankan serta dikembangkan lebih baik, dan untuk itu dibutuhkan assessment-assessment ini.”

Dengan assessment, lanjut Susan, perusahaan jadi memiliki peta yang jelas, misalnya, mengenai karyawan yang harus dikembangkan. Sehingga, investasi untuk training tidak sia-sia. “Tidak semua orang dipukul rata dengan investasi training yang sama, atau dengan kata lain perusahaan investasi ke orang yang tepat,” tukas dia.

Dan, untuk kesadaran yang mulai tumbuh di kalangan bisnis akan pentingnya assessment itu, Susan boleh dibilang termasuk dalam barisan terdepan pembuka jalan. Ia mengalami masa ketika orang-orang masih merasa asing dan penuh praduga pada kata assessment. “Waktu pertama menawarkan ini, orang bertanya, apa itu, dan langsung melihatnya sebagai sesuatu yang mahal,” kenang penggemar traveling dan nonton film itu.

Kini, Susan telah memetik buahnya. “Sekarang setelah orang tahu, dengan harga, misalnya 600 ribu rupiah kita bisa melihat kekuatan seseorang untuk diberi posisi yang tepat di perusahaan kita, rasanya 600 ribu itu nggak ada artinya,” kata dia seraya menyitir sebuah peribahasa,you hire them because of their knowledge, you fire them because of their behavior, untuk melukiskan betapa pentingnya memperhatikan segi behavior pelamar dalam proses rekrutmen.