Sony Kisyono: Di Mana Ada Minat, Di Situ Ada Semangat

Sony Kisyono_Wajah HR_Antam

DI MANA ada minat, di situ ada semangat. Ya, itulah gambaran perjalanan seorang Sony Kisyono yang saat ini mengabdikan karya dan passion-nya sebagai Organization Effectiveness & Development Specialist di PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam). Latar belakang pendidikan teknik tak menghalangi minatnya kepada bidang Human Resources. Minat itu mulai tersalurkan ketika ada kesempatan untuk melakukan Kerja Praktek dari kampus tempat ia menimba ilmu di STT Telkom Bandung (sekarang menjadi IT Telkom).

“Saya tak ragu-ragu untuk mengajukan permohonan Kerja Praktek di bagian SDM PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. Saat itu saya seperti merasa mendapat kebahagiaan berlipat, karena bisa Kerja Praktek pada bidang yang sesuai minat saya sekaligus bisa Kerja Praktek di kantor Telkom Divre IV Jateng-DIY yang dekat rumah orang tua saya di Semarang,” begitu tutur Sony kepada PortalHR.

Karena minatnya yang tinggi, Kerja Praktek yang ia lakukan tak hanya sekedar untuk mengenal dunia kerja. Pembimbing dari Telkom yang melihat rasa penasaran Sony dengan dunia HR akhirnya menawari sebuah “kesepakatan”. “Beliau meminta dibuatkan database sederhana untuk membantu merapikan data penawaran program dari provider training eksternal. Sebagai imbalannya, dia mau meluangkan waktu untuk menjelaskan tentang sistem pengelolaan SDM di Telkom. Sebuah kesempatan langka yang tidak saya sia-siakan,” kenangnya.

Ketika ditanya kenapa bisa tertarik dengan dunia HR, Sony menjawab, “Mungkin karena background pendidikan Teknik Industri telah membentuk pemahaman saya bahwa fungsi people adalah fungsi yang paling krusial dari sistem pengelolaan sebuah industri. Menurut saya, people-lah yang berperan mengoptimalkan fungsi-fungsi lain seperti keuangan, marketing, produksi, distribusi, dan lain-lain.”

Ia melanjutkan, jika fungsi-fungsi tersebut diibaratkan banyak mobil yang sedang touring bersama menuju sebuah tujuan, maka fungsi people adalah driver yang mengendarai mobil-mobil tersebut. “Selain sebagai driver, people juga bisa berperan menjadi teknisi jika mobil mengalami kerusakan. Sebagus apapun mobilnya, jika tak disertai dengan driver dan teknisi yang handal maka perjalanan bisa terganggu, bahkan bisa terancam gagal mencapai tujuan,” terang Sony.

Selain itu, dari awal Sony mengaku merasa bahwa bidang HR adalah bidang yang bisa membawa pencapaian visi dalam hidupnya, yaitu menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Ia meyakini bidang HR memberi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan orang, maupun terlibat dalam pemecahan masalah yang terkait dengan orang. “Bidang HR juga memberikan challenge yang menurut saya sangat kompleks, karena orang diciptakan unik, berbeda satu dengan yang lainnya, dan dinamis atau bisa berubah seiring waktu. Berbeda dengan mesin atau komputer yang cenderung lebih seragam dan statis. Hal itulah yang memperkuat passion saya untuk berkecimpung di dunia HR lebih dalam,” akunya.

Setelah menyelesaikan sidang tugas akhir, Sony pun langsung bersemangat berburu pekerjaan khususnya di bidang HR. Ia sempat gamang karena dari banyak lowongan HR yang ada, kebanyakan membutuhkan lulusan Psikologi, Hukum dan Manajemen. Akhirnya gayung bersambut pasca wisuda. Bermula dari PT Voksel Electric, Tbk (VOKS), sebuah perusahaan manufaktur kabel terkemuka yang membutuhkan seorang engineer untuk mengisi posisi HR Development.

“Di perusahaan tersebut, saya belajar banyak hal mulai dari recruitment, personal administration, training & development, job analysis, sampai performance management. Saya beruntung bisa ditempa oleh bos seorang mantan senior manager Astra yang saat itu diamanahi untuk melakukan transformasi. Pengalaman di perusahaan yang sahamnya sebagian dimiliki oleh investor Jepang itulah yang membuat saya belajar untuk bisa menghayati peran HR sebagai administrative expert dan agent of change,” jelas Sony.

Terkesan dengan sistem di Astra yang diserap dari sang bos, membuat Sony memutuskan untuk pindah ke PT United Tractors, Tbk (UNTR), salah satu anak perusahaan Astra. Di perusahaan yang merupakan distributor terbesar heavy equipment di Indonesia tersebut, ia masuk sebagai Management Trainee Human Capital dan akhirnya ditempatkan di bagian pengembangan organisasi.

Sebagai organization developer, Sony menilai HR dituntut harus selalu update dengan kondisi dan tantangan bisnis. “Banyak berdiskusi dengan bagian operation makin menyadarkan saya bahwa HR harus bisa menjadi operation partner yang baik. Selain itu, saya juga mulai mendalami pengembangan budaya perusahaan. Kebetulan saat itu saya diminta menjadi project leader program internalisasi nilai-nilai perusahaan. Program tersebut membuat saya bisa berkeliling ke beberapa daerah di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Alhamdulillah, kerja bisa sekalian sambil traveling,” ujarnya sambil tersenyum.

Dalam beberapa tahun belakangan, pengembangan budaya perusahaan memang menjadi topik hangat di banyak perusahaan. Tak terkecuali pada perusahaan milik pemerintah (BUMN) yang ramai-ramai bertransformasi menjadi entitas bisnis profesional, mencoba melepaskan stigma negatif yang telah terbentuk sebelumnya. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah Antam.

Ia rupanya kepincut dengan BUMN pertambangan yang mempunyai visi ingin menjadi sebuah korporasi global, di mana untuk mencapai visi tersebut, corporate value kemudian dipertajam dengan penekanan kepada value global mentality dengan tetap mempertahankan value lainnya yang masih relevan. “Hal tersebut menambah keyakinan saya untuk bergabung dengan Antam dan mengakhiri masa pengabdian di Astra,” begitu ia menyampaikan alasan kepindahannya.

Sony menambahkan, saat itu yang ada di dalam benaknya sederhana saja, jika Antam ingin menjadi perusahaan world class maka SDM Antam harus world class pula. Untuk membentuk SDM yang berkelas dunia, maka sistem pengelolaan SDM Antam juga harus berkelas dunia.

“Dalam hal ini, HR-lah yang sangat berperan menjadi talent transformer. Saat mulai bergabung di Antam, tepatnya sebagai specialist pada Organization Effectiveness & Development Division, perubahan mendasar sedang dilakukan oleh manajemen Antam, yaitu dengan menerapkan praktik pengelolaan SDM yang berbasis kompetensi dan kinerja. Manajemen juga menjalin hubungan kemitraan yang konstruktif dengan serikat pekerja agar proses change management bisa berjalan dengan baik,” imbuhnya.

Ketika bicara tentang pengelolaan SDM di era globalisasi saat ini, Sony berpandangan, tak bisa dilepaskan dari pengaruh pesatnya kecanggihan teknologi. Salah satu yang marak belakangan ini adalah penggunaan social media (socmed) yang sudah menjadi bagian dari gaya hidup.

“Sebaiknya perusahaan tidak meremehkan tren ini, karena socmed seperti pisau bermata dua. Jika tidak dikelola dengan baik akan membawa pengaruh negatif, sebaliknya jika dikelola dengan bijak niscaya akan berdampak positif bagi perusahaan. Oleh karena itu, saya menganggap perlunya policy atau kebijakan khusus tentang socmed, apalagi yang terkait dengan perusahaan. Lain halnya jika hanya bersifat personal, maka itu menjadi privacy masing-masing individu,” kata Sony lagi.

Tak lupa Sony mengajak kepada para praktisi HR untuk terus mengikuti berbagai perkembangan dan tantangan yang ada, karena fungsi HR memang banyak berkembang menjadi HC (Human Capital). Sebuah perkembangan yang merubah sudut pandang pengelolaan orang menjadi modal bagi perusahaan untuk mencapai sustainable growth. Ia pun berujar, perubahan sudut pandang tersebut tentunya harus ditindaklanjuti juga dengan perubahan sistem pengelolaannya. “Semoga “virus” perubahan ini tak hanya menjangkiti dalam hal bisnis saja, namun juga bisa menular juga ke dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga pengelolaan manusia Indonesia yang lebih baik bisa membawa bangsa ini bisa menjadi bangsa yang besar. Semoga!,” tukasnya sambil berharap. (*/@erkoes)

 

Tags: ,