Silverius Y. Soeharso: Manajemen SDM Intinya Penguatan Karakter

Jangan bayangkan sosok tipikal “orang kampus” yang kaku, sangar dan njlimet dengan teori-teori. Sebagai psikolog yang menjabat dekan, Dr. Silverius Y. Soeharso, S.E, M.M, Psi merupakan praktisi SDM yang sudah “tercerahkan” dengan pemikiran bisnis. Pengalamannya bukan hanya di ranah akademis, tapi juga kenyang asam-garam di lapangan praktis. “Saya bukan akademisi murni, tapi juga bukan praktisi murni,” ujar Dekan Fakultas Psikologi Universitas Pancasila itu saat ditemui PortalHR.com di ruang kerjanya di bilangan Lenteng Agung, Jakarta Selatan.
Mengaku merasa nikmat dengan posisinya yang unik itu, Sonny, demikian sapaan akrabnya, barangkali merupakan personifikasi konkret dari harapan ideal hubungan antara dunia pendidikan dan dunia usaha. Keluhan yang selama ini terdengar, lulusan universitas umumnya tidak siap ketika terjun ke dunia kerja. Pada Sonny, dua wilayah itu telah menyatu dan itu menguntungkan dirinya sebagai dekan. “Kalau hari ini orang bicara bahwa HR harus mengerti bisnis, maka di sini kami mengantisipasinya dengan kurikulum, dengan memasukkan mata kuliah Stategic Management, Kewirausahaan hingga Business Simulation.”
Secara personal, kesadaran akan pentingnya pemahaman bisnis bagi praktisi SDM sudah ada pada diri Sonny sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di dunia kerja setelah lulus S-1 Fakultas Psikologi UI pada 1988. Kala itu, Sonny bekerja sebagai recruitment officer di salah satu anak perusahaan grup United Tractor. “Saya pikir-pikir, kalau hanya memakai ilmu psikologi saja dan tidak tahu bisnis, percuma, hanya jadi supporting saja,” renung Soni waktu itu, yang kemudian mendorongnya untuk kuliah lagi, mengambil program ekstensi sambil bekerja, pada jurusan Ekonomi UI.
Setelah mengantongi gelar sarjana, Sonny menjajal ilmu barunya dengan bekerja sebagai credit officer, bertahan selama 8 tahun (1990-1998), dari Bank Danamon ke Bank PSP. Setelah sempat menimba pengalaman di perusahaan konsultan manajemen ARC Worldwide, Sonny pun mencoba mendirikan perusahaan konsultan sendiri, bernama Solusi Jalan Strategi (SJS) Consulting. Belum puas dengan dua gelar S-1 yang melekatinya, Sonny pun mengambil program S-2 jurusan Corporate Finance and Banking di Universitas Atmajaya, Jakarta, yang dilanjutkan dengan program studi doktoral bidang Manajemen Hubungan Industrial dan Psikologi Sosial di almamater pertamanya.
Dengan perjalanan akademis dan profesionalnya yang cukup berliku seperti itu, tak heran jika kemudian Sonny memiliki concern yang tinggi untuk menjembatani dunia akademis dengan dunia praktis. Dan, seiring dengan tuntutan kemandirian universitas, Sonny pun mendirikan Pusat Konsultasi Psikologi Terapan sebagai profit center bagi fakultas yang dipimpinnya. “Lewat lembaga ini, kami menawarkan jasa kepada masyarakat, khususnya dunia usaha, di bidang pengembangan SDM, dari assessment, konsultasi, riset, pelatihan hingga penyelenggaraan seminar,” jelas dia.
***
Bagi Sonny, bicara tentang SDM bukan hanya menyentuh kepentingan dalam lingkup organisasi melainkan tak bisa lepas dari isu-isu besar pada tingkat nasional. Segaris dengan ini pula, Sonny dengan jujur mengakui bahwa selama ini Psikologi sebagai wilayah akademik yang paling dekat dengan persoalan SDM, masih sibuk di level individu. “Orang Psikologi tahunya ngetes, padahal harus tahu juga masalah bangsa ini apa, sebelum kemudian terjun ke masalah bisnis dan lain-lain,” ujar dia.
Diingatkan bahwa pada setiap individu, ‘self’ tidaklah berdiri sendiri, tapi diselubungi oleh lapisan-lapisan lain, dari family, social group, etnic, nation hingga global. “Kalau hanya fokus di self saja mungkin memang tidak ada masalah, tapi ingat bahwa variabel-variabel lainnya begitu kencang, misalnya desakan arus globalisasi, kapitalisme, gaya hidup materialistik,” papar dia seraya menambahkan, itulah sebabnya orang seperti Ryan yang katanya guru ngaji bisa melakukan pembunuhan keji. Dengan pemahaman yang sama, apa yang diungkapkan Sonny juga menjelaskan mengapa banyak pejabat level tinggi negara melakukan korupsi.
Oleh karenanya, jika dewasa ini ada kecenderungan yang mengarah pada mulai ditinggalkannya tes psikologi dalam proses rekrutmen tenaga kerja, Sonny tak bisa menutupi keheranannya. “Lalu mau pakai apa?” tanyanya retoris. Kendati demikian Wakil Sekjen Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) ini tidak menutup mata bahwa memang ada persoalan seputa praktik-praktik psikotes. “Harus diakui test develepment di Indonesia kurang berkembang karena persoalan dana. Akhirnya cari jalan pintas, mengadopsi tes dari luar, memang praktis tapi kemudian banyak yang kadaluarsa. Jadi, ada problem dalam riset untuk mengembangkan alat tes.”
Problem lainnya menyangkut sisi test deliverer-nya. “Jangan-jangan orang yang baru kursus dua jam, dapat sertifikat lalu mengaku tester, padahal ngerti latar belakang filosofinya saja enggak, apalagi basis teorinya.” Ditambah dengan adanya test abusen dan tes mis-use, faktor-faktor tersebut menjadikan tes psikologi kian hari kian kehilangan kekuatannya, sehingga orang pun kehilangan kepercayaan pada efektivitasnya. “Tapi, bukan berarti dengan adanya persoalan-persoalan itu, tes psikologi lantas ditinggalkan begitu saja. Sampai kapan pun tes ini tetap perlu,” tandas Sonny.
***
Pada dasarnya, demikian hemat Sonny, mengelola dan mengembangkan SDM adalah persoalan penguatan karakter. “Dan, itu nggak usah nyari teori macem-macem, ya artinya boleh-boleh saja teori apa pun sebagai referensi, tapi sebenarnya cukup dengan kembali ke nilai-nilai budaya bangsa sendiri.” Dikatakan, perlu ada gerakan bersama dalam usaha penguatan karakter individu, dan itu harus dipelopori oleh top management negara, dalam hal ini presiden secara langsung.
“Kita ini bangsa yang jumlah penduduknya banyak, tapi ironisnya, SDM belum menjadi keunggulan kompetitif bangsa ini. Di sinilah, psikologi berperan membantu meningkatkan terutama kompetensi soft skill bangsa ini,” ujar Sonny. Dia tidak menampik kenyataan bahwa di luar sana masih ada salah persepsi masyarakat terhadap psikologi sebagai salah satu alat tes dalam rangkaian proses rekrutmen tenaga kerja. “Ada mitos, tes psikologi itu berat, menjebak dan menjegal, padahal tes ini sama sekali tidak men-judge orang melainkan menemukan kecocokan seseorang dengan pekerjaan,” jelas dia.
Yang perlu ditingkatkan oleh para pencari kerja, pesan Sonny, bukanlah mempelajari tes psikologi, melainkan memperbaiki sikap dan mentalitasnya. Diingatkan, seseorang yang diterima kerja karena keberhasilannya memanipulasi diri dalam proses rekrutmen, kelak tidak akan bisa berkembang. Dicontohkan pula, biasanya calon karyawan ketika ditanya apakah bersedia ditempatkan di mana saja, menjawab ya agar diterima, tapi ketika tiba saatnya penempatan, mereka menggerutu dan ogah-ogahan. “Itu persoalan bangsa ini, mentalitas dan karakter. Jadi, sekali lagi, masalah SDM itu tak lain penguatan karakter.”
Secara umum, Sonny melihat gambaran SDM kita saat ini seperti piramida. Pada bagian dasar, yang paling banyak, adalah karyawan tingkat bawah. Tengahnya banyak diisi oleh tenaga berpendidikan tinggi, tak jarang lulusan luar negeri hingga anak dari pemilik perusahaan. Sedangkan puncaknya adalah para pemimpin dan pemilik perusahaan. “Yang di dasar tadi, jujur saja, masih banyak manajemen yang memperlakukan mereka sebatas angka statistik sehingga sepanjang upah sudah di atas UMP, ya sudah. Level tengah sudah cukup baik. Yang di atas, karena kurangnya latar belakang pengetahuan SDM, jadi orientasinya hanya bisnis, gimana nyari untung.”
Dengan kondisi seperti itu, menurut Sonny, manajemen harus mengubah paradigma mereka atas SDM. “Kasarannya, kalau mesin rusak besok langsung ada ahli dari luar negeri yang datang untuk memperbaiki, nah kalau ada karyawan sakit apakah didatangkan dokter atau dibiarkan saja tiduran di masjid?” Dalam konteks ini, Sonny melihat, perubahan istilah-istilah dalam manajemen SDM, dari personalia ke HR ke HR ke talent management, sering tak lebih dari jargon-jargon semata.
“Dalam Psikologi, (istilah-istilah) itu tak mengubah apa pun, dan justru menunjukkan, secara filosofi semuanya gagal. Konsep HR misalnya melihat tidak semua manusia adalah sumber daya dan talent management hanya yang bagus-bagus saja yang di-pool. Padahal, secara filosofi, tugas kita sebagai orang HR mengembangkan semua SDM. Tapi kita nggak sabar karena materialistik. Kita lupa tugas utama manajemen SDM menggosok setiap individu untuk tumbuh dan berkembang dalam organisasi.”