Santosa: Kuncinya di Leadership by Role Model

Karakternya yang lugas, tegas serta bicara blak-blakan memberikan kesan ia seorang pendobrak. Memang itulah yang dipraktikkan Santosa, Direktur baru PT Astra Agro Lestari Tbk, yang sebelumnya menduduki kursi direktur di perusahaan Astra Group lainnya seperti Asuransi Astra, Astratel dan SCS Astragraphia Technologies.

Bisnis perkebunan adalah sebuah usaha yang unik. Salah satu keunikan yang membedakannya dengan bidang-bidang usaha lainnya berkaitan dengan praktik Corporate Social Responsibility (CSR) yang belakangan makin populer. Bila dalam industri lain CSR boleh dianggap atau diperlakukan sebagai “tempelan”, maka dalam perkebunan, justru itulah core business-nya. Setidaknya, itulah yang dilakukan oleh PT Astra Agro Lestari (AAL) Tbk.

“CSR itu core business buat kita karena urusannya sama lahan, berkaitan dengan grass root,” ujar Direktur AAL Santosa. Ia menjelaskan, di bisnis lain, CSR belumlah dianggap sebagai kewajiban. Dilakukan, bagus. Tidak juga tidak apa-apa. Sebaliknya, di bidang perkebunan, tanpa CSR, maka bisnisnya bisa tamat. Maka, teori dan teknologi saja tidak cukup untuk menjalankan bisnis perkebunan. Orang asing boleh saja memiliki kedua hal tersebut untuk menggarap lahan perkebunan di Indonesia. Namun begitu masuk ke urusan tanam menanam dan mereka tak memahami kultur lokal, bakal tamat bisnis mereka.

“Untuk masuk ke bisnis perkebunan, orang harus tahu dan kenal persis lingkungan sekitarnya,” kata pria kelahiran 1 Juni 1966 ini. “Bisnisnya benar-benar mengakar di masyarakat setempat. Community development is business it self. Di seluruh perusahaan Astra pun, yang terkenal CSR-nya bagus dan selalu mendapat penghargaan, yang CSR-nya real dan integral dengan bisnis ya hanya di AAL. Kalau pemiliknya bukan benar-benar dermawan, mau sharing, nggak akan berhasil di bisnis ini.”

Santosa memberi contoh dalam soal plasma. Pengusaha yang jiwa dan pikirannya semata bisnis, pasti tidak akan cukup sabar dengan konsep tersebut. “Konsepnya bagus, tapi sebenarnya merugikan (perusahaan),” kata dia. Ide dasar plasma, menurut mantan Direktur Asuransi Astra tersebut, memberi kesempatan dan membantu penduduk lokak yang mau berusaha. Penduduk diberi lahan cukup luas hingga dua hektar, diberi pupuk dan bibit, kemudian hasilnya dijual ke perusahaan. Penduduk hanya menyumbangkan tenaga. Ibaratnya perusahaan memberikan utang yang kemudian dibayar dengan hasil panen.

“Kalau orangnya bagus, bener, dan merawat kebunnya dengan baik, maka dia happy dan kita pun happy,” kata dia. Tapi, selalu ada kasus, mereka yang tidak merawat kebunnya dengan baik tetap memaksa menjual buah rusak ke perusahaan. Celakanya, perusahaan tidak dapat menolak begitu saja karena risiko demo dan sejenisnya. “Nah, kalau ngomong bisnis murni, udah deh lu gue bayar aja jadi karyawan,” lanjut dia. Namun, Santosa juga menyadari, menjalankan pola asuh merupakan pilihan tepat di bisnis perkebunan. Maka perusahaan pun menjalankan pola itu dengan sepenuh hati.

Tentu saja, plasma hanya satu bagian kecil dari praktik CSR PT AAL. “Kalau di situ ada petani cokelat, kita juga berikan pinjaman tanpa bunga. Pokoknya hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan masyarakat, misalnya pendirian sekolah. Di remote area kan nggak ada sekolah, kita bangunin itu, semua dananya dari kita,” ujarnya. Infrastruktur, seperti jalan raya, juga dibangun. Harap maklum, hampir separo dari kebun PT AAL berserak di Kalimatan dan Sulawesi, yang semula tanpa penghuni. Agar bisa membuka lahan, perusahaan harus membangun infrastruktur termasuk rumah tinggal dan fasilitas pendukungnya.

“Di setiap lahan yang kita buka, kita seperti membangun satu kampung sendiri. Tiap tahun kita membangun hampir 100 ribu rumah. Itu setara dengan satu Pamulang, Tangerang,” katanya pria lulusan MIPA Fisika Universitas Gadjah Mada tersebut. Ia mengungkapkan, pihaknya telah membangun total 9 ribu km jalan raya, yang terbentang dari Aceh hingga Mamuju. “Daendels aja kan cuma membangun jalan di Pulau Jawa,” seloroh dia.

PT AAL kini memiliki total lahan seluas 220 ribu hektar. Hampir empat kali lipat luas Singapura yang seluas 60 ribu hektar. Untuk lahan seluas itu, AAL memiliki 20 ribu petani plasma, 30 ribu karyawan tidak tetap dan 18 ribu pegawai permanen. Produksi CPO perusahaan sudah menembus angka 900 ribu ton/tahun produk CPO (minyak sawit mentah). Sebagai gambaran untuk membandingkan, produk CPO nasional saat ini sebesar 16 juta ton, sedangkan produksi dunia per tahun total sekitar 32-36 juta ton. “Kita yang terbesar di Indonesia dan mungkin di dunia. Untuk ke depan, Indonesia pasti terbesar karena Malaysia lahannya sudah habis, di sini masih luas sekali.”

Lahir di Mojokerto, bapak dari dua orang putera ini memulai kariernya di Grup Astra pada 1989, sesaat setelah lulus kuliah S1 di UGM. Sebelum menduduki jabatan yang sekarang, Santosa kenyang malang-melintang di berbagai anak perusahaan Astra, dan melompat dari satu bidang ke bidang lain. Dari spesialis IT di Astra Graphia, Consulting Business Process di Digital Astra Nusantara, Business Development Manager di Astratel, Direktur Sales&Marketing Asuransi Astra, dan kembali lagi ke Astra Graphia sebagai Direktur Keuangan.

Gaya bicaranya yang lugas dan blak-blakan menampilkan karakter pendobrak kenyamanan. Tak heran bila dalam hal kepemimpinan, ia mempraktikkan jurus-jurus dobrakan. Ia spesialis merusak zona aman agar karyawan dan perusahaan bisa meningkatkan performa di atas rata-rata. Misalnya, tatkala menjabat sebagai Direktur Asuransi Astra, ia membentuk pasukan khusus Mitra Garda Oto untuk memberi efek lecutan kepada seluruh tim dan manajemen Garda Oto. Meski sebagai penguasa pasar asuransi, ia yakin bahwa Asuransi Astra masih bisa dipacu lebih kencang.

Menurut dia, pasar asuransi kendaraan yang ada saat ini masih sangat luas. Bahkan, sekitar sepertiga dikuasai Asuransi Astra dengan produk Garda Oto-nya. Melalui program Mitra Garda Oto, ia mengundang orang-orang yang memiliki jiwa kewirausahaan untuk mengembangkan usaha dalam distribusi asuransi kendaraan, tanpa mengeluarkan dana sebagai modalnya. Seorang Mitra Garda Oto hanya perlu memiliki jaringan atau mampu mengembangkan komunitasnya. Santosa yakin, dengan memanfaatkan potensi pasar – mulai dari lingkup sekitarnya – secara maksimal, seorang mitra dapat sukses di industri ini. Misalnya seorang Mitra dapat menjual produk Garda Oto Xtra ke satu orang, – dimana satu orang itu kemudian bisa ikut menjual produk tersebut ke satu orang lain lagi, yang juga bisa melakukan hal sama, begitu seterusnya sehingga satu sama lain saling membangun untuk satu tujuan bersama.

Santosa mengaku sulit ketika merintis program ini. Ia sampai turun tangan sendiri untuk menyemangati pasukan barunya dengan yel-yel “Are you ready?” Ia juga membangun sistem yang efisien di situs GoMitra, yang membantu para mitra memonitor perkembangan usahanya. Kerja kerasnya kini berbuah. Penjualan polis dari pasukan ini jauh melampaui penjualan program kemitraan yang pernah dijalankan Garda Oto sebelumnya. Ia mengakui, dari sisi angka memang kecil jika dibanding dengan total penjualan asuansi Garda Oto. Namun hasilnya bisa memberi efek kejutan, bahwa dengan budget kecil bisa meningkatkan penjualan asuransi dengan nilai yang signifikan. “Tujuan saya memang menciptakan efek itu sehingga mereka yang terlena dengan zona aman akan terpacu kembali,” kata dia.

Di grup perusahaan yang dikenal kompetitif seperti Astra, karier Santosa boleh dibilang melesat cukup gemilang. Kalau dihitung sejak masuknya pada 1989, dalam waktu sekitar 12 tahun ia “telah” mencapai level direktur. Apa kiat suksesnya berpindah-pindah bidang-bidang yang berbeda? “Ya, adaptasi aja. Tapi, intinya adalah lihat fundamental bisnis, terus create something. Kadang-kadang diperlukan pilot project untuk menggerakkan perubahan di organisasi yang telah mapan. Jadi ketika memasang target, nggak sekedar ngomong.Leadeship by role model.”

Ketika ditempatkan di AAL, Santosa melihat secara operasional perusahaan sudah sempurna. Tantangan baginya adalah, ketika semua sudah ditanam, mau apa lagi? Santosa mentargetkan perluasan lahan. “Dalam 3-5 tahun ke depan, total lahan 500 ribu hektar.” Entah gebrakan seperti apa yang akan dilakukannya. Yang jelas, target perluasan lahan itu artinya juga mempersiapkan SDM. Dana? “Di Astra, uang bukan isu, terbukti dalam kondisi krisis kita nggak terpengaruh, jadi masalahnya kembali ke HRD, nyari orang-orang yang ngerti perkebunan.”

Santosa melihat, tak banyak lulusan baru yang tertarik untuk bekerja di perkebunan. Padahal, menurut dia, lapangan kerja di bidang yang satu ini terbuka sangat luas, dan mestinya bisa menjadi pilihan bagi pencari kerja. “Ini tantangan bagi HRD, kuncinya di situ, rahasia dagangnya bisnis perkebunan di situ. Nyari direktur keuangan gampang.Tapi, mencari orang-orang yang bisa membaui tanah, mengenali lahan subur, itu yang susah.”

Setelah mendapatkan orang-orang dengan kualifikasi yang diharapkan seperti itu, tak kalah sulit adalah mempertahankan mereka. “Mereka itu kayak seniman, nggak boleh kreativitas dibatasi, biarkan asik dengan dunianya. Jadi, ini lebih ke masalah bagaimana memahami karakter. Makanya, di Astra latar belakang pendidikan itu penting hanya sebagai nengetuk pintu, saat HRD melakukan rekrutmen, begitu masuk dan dikumpulin, nanti akan kelihatan arahnya ke mana, cocoknya di mana.”

Santosa menunjukkan, ia bisa cocok di mana saja.