Rene S Canoneo: Kearifan Seorang Headhunter

Bertemu dengan Rene Suhardono Canoneo, seorang partner pada perusahaan executive search terkenal Amrop Hever, kesan yang langsung tertangkap pada detik pertama adalah keakraban. Walaupun baru pertama kali bertatap muka, dia menyapa dengan kehangatan seorang teman dekat yang telah sekian lama tidak berjumpa.
“Mau minum apa, alpukat?” begitulah, ia bahkan langsung bisa melucu. Ini benar-benar di luar yang sempat terbayang, bahwa seorang headhunter adalah sosok yang serius, bahkan mungkin “misterius”. “Kita memang suka menelpon orang, mereka nggak pernah denger kita sehingga heran, you tahu saya dari mana?
Namun, itu hanya sebagian sangat kecil dari fakta seorang headhunter. Istilah “headhunter” sendiri bisa memunculkan konotasi yang beragam di benak orang yang mendengarnya. “Yang muncul di kepala bisa recruitment agency, dan recruitment agency sendiri banyak yang menyebut diri headhunter, sementara kandidat juga menyebut kita headhunter sehingga esensi yang sesungguhnya jadi kabur,” kata dia.
Belum lagi citra lain yang negatif sebagai “pembajak”. “Bisa orang beranggapan begitu, tapi mereka harus tahu, konsep loyalitas sekarang sudah bergeser tidak lagi pada perusahaan tapi lebih ke profesi. Dan, saya selalu bilang, lha wong yang dibajak juga seneng. Bagaimana dengan perusahaan yang ditinggal? Salahnya sendiri tidak melakukan upaya untuk menjaga orang-orang terbaiknya.”
***
Tidak dibutuhkan basa-basi sedikit pun untuk nyambung dalam obrolan dengan pria kelahiran Jakarta, 18 Juli 1972 ini. Begitu blak-blakan, bahkan kadang terasa menyentil apa yang sudah dianggap kelaziman dan mapan, namun semua yang dikatakannya begitu benar, dan begitu mudah untuk diterima. Ia tidak menekankan apa yang ingin disampaikannya dengan suara yang keras dan meledak-ledak, namun sebaliknya, ketika ia merasa kalimatnya mengandung pesan yang hendak ditonjolkan, ia justru melirihkan suaranya sampai nyaris ke titik ekstrim dan membuat pendengarnya terkesima. Selera humornya dan pengalamannya yang luas membuat obrolan selama hampir dua jam tidak terasa lama.
Dia menceritakan, bagaimana orangtuanya mendidiknya untuk berdisiplin dan bertanggung jawab sejak umurnya masih belia. Sejak SMA ia sudah bekerja di perpustakaan sebuah pusat kebudayaan asing di Jakarta. Pada 1994, bersamaan dengan kuliah diploma di Perbanas, Rene bekerja di Lippo Bank dari jabatan Administrative Assistant hingga Correspondent Banking Officer. Pada 1996, ia pindah ke PT Profesindo Reksa Indonesia (PRI) sebagai awalnya Researcher hingga jabatan terakhir Senior Executive Search ketika keluar pada 2000.
Pada masa itu pula, ia mengambil program ekstensi di Fakultas Ekonomi UI dan lulus dengan predikat cum laude pada 1999. Dari 2000 hingga 2004, ia bergabung dengan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dengan posisi terakhir Assistant Vice President dan Chairman’s Expert Unit. Dari lembaga milik pemerintah tersebut, kemudian ia bergabung dengan Amrop Hever yang tak lain adalah tradenamet dari PT PRI yang pernah ditinggalkannya.
“Kita lebih suka menggunakan istilah executive search. Yang membedakan kita adalah metodologinya. Kami menggunakan direct approach, Irecruitment agency lebih menggunakan periklanan,” jelas Rene. Ketika diminta untuk memberi gambaran mengenai perusahaannya dalam peta bisnis executive search di Jakarta, dengan jujur ia mengatakan, “Kami yang paling banyak perwakilan di seluruh dunia, tapi dalam hal besaran, dari revenue, ada beberapa nama yang lebih besar dari kita.”
Ada 8 orang yang mengawaki Amrop Hever, termasuk Founding Partner Pri Notowidigdo, Managing Partner Irham Dilmy dan Rene sendiri sebagai Partner bidang Client Service Delivery. Lalu, apa kesibukan sehari-hari seorang headhunter seperti Rene?
“Minum kopi, ngobrol…banyak risetnya, harus membina network. Untuk memudahkan pekerjaan, masing-masing dari kita dikelompokkan per industri. Saya fokus di energi, telekomunikasi dan financial services, kalau ada pertemuan di sana saya datang, harus tahu ada informasi apa, ada new regulation apa. Kita tidak mengandalkan data base.”
Menurut Rene, perubahan di dunia bisnis demikian cepatnya sehingga tidak banyak gunanya juga untuk memonitor orang per orang. “Kita bukan badan intelijen, kita lebih selektif, kalau ada kebutuhan baru secara detail mendiskusikan dan melakukan riset.”
Dengan kata lain, seorang executive search bekerja berdasarkan pesanan dari perusahaan yang sedang mencari orang untuk posisi-posisi senior level. “Selanjutnya ya kayak biro jodoh, kita pertemukan kandidat yang kita ajukan dengan perusahaan yang menjadi klien kita, cocok apa nggak.”
Sebagai pihak ketiga, peran Rene adalah memastikan bahwa kandidat yang dia ajukan tidak bermasalah, misalnya masuk daftar hitam Bank Indonesia, pernah diperkarakan di pengadilan, pernah dipailitkan, punya isu dengan karyawan yang membuatnya dikejar-kejar, dan menunggak pajak. “Secara profesional tidak hanya dibuktikan oleh saya, tapi juga orang yang pernah bekerja dengan dia baik sebagai atasan maupun bawahan.”
***
Sampai di sini, kalau ada orang yang mengira bahwa berteman baik dengan seorang headhunter bisa membantu memuluskan jalan karir, mungkin akan mulai berpikir lain. “Yang bisa memuluskan karir seseorang ya dirinya sendiri,” tegas pembawa acara perbincangan tentang karir di radio Hard Rock FM sejak Januari 2007 itu.
Rene juga menambahkan, memahami esensi networking juga akan membantu orang yang ingin karirnya menanjak sesuai rencana. “Prinsipnya, bukan siapa yang kita kenal, tapi siapa yang kenal kita. Kami-kami ini cuma orang biasa, yang membaca majalah, maka minimal kalau ingin kami mengenal Anda maka usahakan diri Anda masuk majalah. Tapi, intinya bukan itu. Agar dikenal orang, kita bisa menanam budi baik, tanpa pamrih. Kalau kita tahu Anda orang hebat tapi yang kita lihat dalam berbagai kesempatan cuma nepuk dada, minat kami pun turun.”
Mendengar kalimat-kalimat yang mengalir dari bapak 3 orang anak ini kadang memang terasa adem, menenteramkan. Kadang terdengar terlalu arif untuk usianya yang relatif masih tergolong muda. Apa yang didapatkannya sekarang memang hasil dari proses pembelajaran yang dialaminya dari berbagai perjumpaan dengan orang yang berbeda-beda sepanjang 13 tahun perjalanan karirnya.
“Berinteraksi dengan orang baru nggak selalu menyenangkan hasilnya, tapi prosesnya selalu menyenangkan. Orang punya interest sendiri-sendiri dan umumnya sangat sulit mendengar. Maka sama kandidat, saya kadang nggak ngomong apa-apa, lihat-lihatan aja. Saya lihat terus, ada yang sangat tidak nyaman, ada yang sangat nyaman, dan itu sudah merupakan proses pembelajaran,” tutur penggemar traveling dan berburu makanan enak yang memiliki usaha restoran di kawasan Ancol itu, mengakhiri perbincangan pagi itu.