Hora Tjitra: Anak Surabaya di Negeri China

horatjitraS

Salah satu pembicara dalam acara Seminar Internasional, From Local Manager to Global Leader yang diprakarsai oleh Fakultas Psikologi dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, pada 20 Juli 2011 mendatang, adalah Prof. Dr. Hora Tjitra. Hora adalah Associate Professor for Applied Psychology, Zhejiang University, China.

Saat ini Hora baru saja mendarat di Indonesia, dan beruntung beliau berkenan mengadakan sesi wawancara dengan wartawan PortalHR.com, Rudi Kuswanto. Selama di Indonesia, Hora mengaku sibuk dengan berbagai agenda kegiatan. “Sebelum mengisi acara di Jakarta nanti, saya akan mengisi seminar bersama teman-teman Kadin di Bali,” ujarnya.

Hora yang tercatat masih sebagai warga negara Indonesia, lahir dan besar hingga SMP di Surabaya, Jawa Timur, tepatnya pada 24 September 1969. Kemudian SMA hingga selesai di Bali. “Saya menyelesaikan kuliah keseluruhannya di Jerman, dan kemudian bekerja di sana sebagai consultant management di PricewaterhouseCoopers dan Change International,” tuturnya.

Kiprah internasional Hora, dimulai pada akhir tahun 2003 ketika ia mendapatkan tawaran sebagai guru besar psikologi terapan di Zhejiang University, China. Zhejiang University adalah universitas terbesar kedua di China, Ranking 3 di China, terletak di kota Hangzhou, 45 menit dari Shanghai dengan kereta cepat. Kota Hangzhou adalah salah satu kota pariwisata terindah di China. “Di samping tugas-tugas akademik di university, saya banyak membantu perusahaan-perusahaan multinational untuk tema-tema Culture, Leadership dan Transformasi,” ujar bapak dari satu putra ini.

Menjawab apa hobbynya, Hora menyebut terutama makan, nonton, membaca buku, serta penikmat komputer dan gadget. “Sebagai psikolog saya pernah memprogram sendiri software bisnis simulasi yang sekarang masih dipakai di Jerman untuk training, assessment dan penelitian,” tambah pria yang fasih berkomunikasi dalam empat bahasa (Indonesia, China, Ingris dan Jerman) di samping bahasa daerah Jawa dan Bali.

Berikut ini petikan wawancara portalHR.com dengan Prof Hora, seputar keterlibatannya dalam Seminar Internasional, From Local Manager to Global Leader, yang disajikan dalam bentuk tanya jawab.

Bisa diceritakan ihwal gagasan dari acara tersebut?

Acara event ini adalah kelanjutan dari proyek penelitian bersama yang dilakukan oleh Unika Atma Jaya dan Zhejiang University dengan dukungan dari Human Capital Leadership Institute, Singapura. Tujuan utamanya adalah memfasilitasi diskusi, sharing, dan membuka wawasan tentang perlunya kompetensi global untuk mengelola keragaman budaya dengan fokus: mengenali kompetensi global dan mengembangkan kompetensi global.

Zhejiang University telah mengadakan kerjasama penelitian dengan Unika Atma Jaya untuk tema-tema psikologi antar budaya sejak tahun 2005. Penelitian kita kali ini mengenai “Building Global Competence for Asian Leaders” adalah kelanjutan dari penelitian sebelumnya mengenai “Study Banding, Kompetensi Antar Budaya antara China dan Indonesia”.

Detil penelitian Anda tentang apa?

Saya sendiri membuat penelitian di bidang psikologi antar budaya dimulai dengan thesis S2 saya yang mendalami permasalahan mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Jerman. Ini boleh dibilang awal sejarah dari penelitian kita sekarang ini. Waktu itu thesis saya dibiayain oleh salah satu bank di Jerman, dan hasilnya dibuatkan sebagai panduan belajar untuk mahasiswa Indonesia yang akan ke Jerman, yang dibagi-bagikan di Kedutaan Jerman waktu itu. Kemudian thesis S3 saya dibiayai oleh VW dan juga mendalami kerjasama antar budaya dalam team. Kemudian Dr. Hana Panggabean (Director Program Paska Sarjana Unika Atma Jaya) melanjutkan dengan Thesis S3 beliau bertema “Kompetensi antar Budaya dari Orang-orang Indonesia”. Dan ini berlanjut hingga sekarang, baik dari segi penelitian ilmiah, maupun di konsultasi praktis untuk perusahaan-perusahaan yang go-global, termasuk misalnya Siemens, BASF, SAP, Dupont, etc.

Keterlibatan profesor dalam event ini seperti apa, mengingat bapak datang jauh-jauh dari China?

Penelitian-penelitian ilmiah saya terutama tercakup dalam kerjasama antar budaya China-Jerman/Eropa, Indonesia-Jerman/Eropa, dan juga China-Indonesia (Southeast Asia). Event kali ini adalah ide bersama dengan Dr. Hana Panggabean dan Dr. Juliana Murniati (Dekan Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya), didukung oleh pihak HCLI (Human Capital Leadership Institute), Singapore.

Tentang topik bapak, Cross-Cultural Leadership of Asian Leaders in the New Globalism, apa intinya yang ingin disampaikan?

Bahwa Asia akan semakin memegang peranan leadership dan bukan hanya follower dalam era new globalism ini. Kemudian kerjasama antar Asia yang akan semakin erat, dan adanya tantangan baru untuk bekerjasama antar Asia. Di sini kita melihat perlunya pemimpin-pemimpin Asia untuk dipersiapkan secara lebih systematic, bukan hanya dalam hal skills, tetapi terutama untuk menghadapi keragaman budaya.

Acara ini didukung oleh HCLI. Bisa diceritakan peran dan kiprah lembaga ini, utamanya di Indonesia?

HCLI adalah lembaga yang baru didirikan oleh pemerintah Singapore, untuk mendalami permasalahan-permasalahan, dan memberikan top-class solution untuk tema-tema human capital dan leadership di Asia. Indonesia sebagai negara terbesar di Asean dan mengingat eratnya hubungan kedua negara, tentunya negara yang penting untuk HCLI. HCLI juga melihat potential yang belum di”gosok” untuk para Indonesian leaders. Di satu pihak, sebagai negara terbesar di Asean, jumlah manager global dari Indonesia termasuk tidak banyak. Di lain pihak hasil penelitian awal kita menunjukkan potensi yang besar dari manager-manager Indonesia untuk bermain di pasar global. Dengan acara ini, kita ingin mengkomunikasikan hasil penelitian awal, dan membuat fondasi yang kuat untuk penelitian lanjutan kita yang akan berfokus terhadap Indonesia.

Menurut bapak sendiri SDM di Indonesia ini seberapa kompeten perannya di tengah-tengah globalisasi?

Menurut saya kita memiliki potential yang besar sekali dalam era new globalism. Besar dalam suatu lingkungan masyarakat yang majemuk, kita telah terbiasa dengan perbedaan budaya. Secara sadar ataupun tidak sadar, kita memiliki semacam sensitivity (rasa) untuk mendeteksi problem-problem budaya dari awal. Pertanyaannya mengapa dengan potensi yang besar ini kok tidak banyak pemimpin dari Indonesia yang muncul dalam kancah global? Dan ini yang ingin kita diskusikan dalam event 20 Juli nanti.

Baca: Segera Digelar Seminar Internasional, From Local Manager to Global Leader.