Peddy Adhyaksa: Manajer asal Indonesia di Jantung Eropa

Masuk bursa kerja di negeri orang, memulai dari nol dan bersaing tanpa koneksi, saat ini dia mengaku satu-satunya orang Indonesia dan bahkan Asia yang bisa duduk sejajar dengan para manajer Eropa dan Amerika Serikat (AS) di perusahaan multinasional di Jerman. Peddy Adhyaksa, 40 tahun, barangkali memang terlahir sebagai sumber daya manusia jenis unggul, ditambah sejumlah keberuntungan yang terus menyertai. Ketika krisis moneter menghantam Indonesia beberapa tahun silam, dia yang bekerja di perusahaan multinasional AS Lucent Technologies (LT) di Jakarta tak kalis kena dampaknya.

“Bagusnya, saat itu LT memberikan kesempatan untuk karyawannya mencari pekerjaan dan posisi di seluruh cabang LT di dunia dengan support dari perusahaan,” kenang Business Controlling Manager untuk Customer Service Europe pada Sony Ericsson Mobile Communications Internasional di Munich itu.

Support yang dimaksud antara lain fasilitas intranet yang memungkinkan Peddy untuk mencari lowongan kerja di dalam perusahaan di seluruh dunia, sampai ke soal tetek-bengek pengurusan visa, izin tinggal dan kerja di negara tujuan dan biaya relokasi. “Saat itu saya mendapat tawaran posisi bagus di LT regional Europe-Middle-East-Africa (EMEA) di Hilversum, Belanda dan istri saya yang kebetulan juga bekerja di LT sebagai insinyur telekomunikasi mendapat tawaran kerja di LT Frankfurt, Jerman,” tutur suami dari Ade Hanurati itu. Singkat cerita, Peddy dan istri memilih hijrah ke Jerman dibandingkan Belanda, dengan pertimbangan, perekonomian Jerman saat itu jauh lebih kuat dan menjadi motor perekonomian Uni Eropa, dan lapangan pekerjaan yang lebih luas.

Lalu, Peddy pun mengenang lagi, “Waktu itu saya rela memulai mencari pekerjaan baru dengan keyakinan akan mendapatkan sesuatu di Jerman. Dan, gayung bersambut. Tak berapa lama mencari pekerjaan, lulusan Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntasi UGM tahun 1990 itu mendapat tawaran di tiga perusahaan multinational besar sekaligus. Salah satunya Panasonic Marketing Europe –yang merupakan kantor regional Eropa Barat- di Frankfurt, yang kemudian dia pilih sebagai tempat menimba pengalaman pertama di Eropa. “Tugas pertama saya sebagai senior internal auditor untuk regional Eropa Barat,” ujar peraih MBA dari Cleveland State, Ohio, AS pada 1996 itu. Ia meniti karir di posisi itu selama tiga tahun, sejak Maret 2002 hingga Desember 2005.

Naluri sebagai seorang profesional yang selalu merindukan tantangan baru mendorong Peddy untuk loncat tinggi-tinggi ketika Sony Ericsson (SE) yang ada di Munich menawarinya “tanggung jawab dan kesempatan yang lebih menarik”. “Tugas saya di SE mengelola masalah keuangan, risiko dan aktif dalam kegiatan operasional bisnis di divisi customer service yang membawahi 10 negara di Eropa Barat,” ujar Peddy seraya menjelaskan, Divisi Customer Service antara lain bertanggung jawab atas after sales service dan garansi. Peddy mengkoordinasikan beberapa karyawan di negara kawasan Eropa Barat. Kendati tidak semuanya langsung di bawah lininya, namun ia punya andil dalam penilaian karyawan.

Pengalaman berinteraksi dengan karyawan dari berbagai negara itu membuat Peddy berani mengatakan bahwa secara mendasar mutu SDM Indonesia “jelas tidak kalah”. Namun, “Yang menurut saya kurang adalah pengalaman dalam persaingan international yang ketat dan fair serta penggunaan dan penguasaan teknologi”. Peddy yang pernah berkarir di Bank Niaga antara 1991 hingga 1998 itu juga menyayangkan minimnya perusahaan di Indonesia yang memiliki kawah candradimuka untuk melatih SDM-nya. “Setahu saya, perusahaan yang bisa menyuplai kebutuhan top manager di Indonesia bisa dihitung dengan jari. Di Asia, negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan saya pikir bisa disejajarkan dari segi pengalaman bisnisnya dengan rekannya di Eropa,” ujar pria yang selama tiga tahun di LT Indonesia menjabat sebagai finance manager itu.

Peddy banyak belajar dari tenaga kerja di Jerman dan umumnya Eropa yang sangat disiplin dan spesialis dalam bidangnya. Selain itu, mereka lebih berani dalam mengemukakan ide dan pendapat. Namun demikian, peraturan kepegawaian yang sangat berpihak pada karyawan dan proteksi serikat pekerja yang kuat, membuat Jerman kurang begitu diminati oleh investor asing dan juga menghambat perkembangan industri kecil. Proteksi itu pada akhirnya mempengaruhi mentalitas karyawan, misalnya menjadi kurang fleksibel, cepat puas dengan posisi tertentu dan kurang semangat dalam kompetisi. Hal itu juga yang membedakan tenaga kerja Eropa dan Amerika –orang Amerika biasanya lebih siap berkompetisi dan semangat untuk maju lebih besar.

***

Hanya bisa melihat Indonesia dari jauh, Peddy merasa geregetan dengan korupsi yang telah menjadi budaya, yang pada gilirannya menghambat terciptanya iklim ekonomi yang sehat. ”Kita harus belajar banyak dari negara maju bagaimana menjalankan bisnis yang baik atau yang sedang ramai didengungkan di Indonesia, good governance. Kita harus belajar bagaimana mereka bersaing, melakukan efisiensi, apa yang diharapkan dari stakeholders, baik itu pemerintah, karyawan maupun partner bisnis dan sebagainya.” Oleh karenanya, Peddy sangat menganjurkan agar generasi muda Indonesia menggunakan kesempatan untuk berkarir di luar negeri sebagai salah satu cara belajar yang sangat bernilai dan bermanfaat; merasakan sendiri cost&benefit dari kebijakan yang mereka buat, selain bisa memperluas jejaring secara international.

Namun, Peddy juga menganjurkan mereka yang berkarir di luar negeri untuk tidak selamanya bertahan di negeri orang. Melainkan, suatu saat kembali dengan membawa pengalaman mereka. Atau, apabila mereka bertahan di luar negeri, seharusnya mampu menjadi agen-agen bisnis Indonesia di negara tersebut, sehingga membawa manfaat bagi bangsa sendiri. Dia memberi contoh bagaimana tenaga kerja warga India yang banyak bekerja di AS dan negara maju lainnya. Beberapa di antara mereka pulang ke India, membuka perusahaan atau bekerja kembali di India, dengan mendatangkan bisnis dan memberdayakan tenaga kerja orang India.

Beberapa manajer puncak perusahaan kelas dunia seperti Pepsi-Co, Vodafone, berasal dari India, di mana beberapa di antara mereka sebelumnya berkembang dan menyelesaikan perguruan tinggi pertama di negara asal. Mereka membawa nama bangsa dan menumbuhkan kepercayaan bagi negara maju. ”Kita lihat juga orang Cina perantauan yang cenderung kembali ke negara mereka dan membangun negara mereka,” tambah dia. Bagi Peddy sendiri, kembali ke Indonesia merupakan impian sejak dia berangkat ke Jerman. “Hanya menunggu saat yang tepat untuk kembali,” kata wakil Indonesia dalam Australia Youth Exchange Program pada 1989 yang menggemari golf, traveling dan membaca itu.

Terlahir sebagai Peddy Utama Adhyaksa di Tegal, 24 Februari 1966, lelaki berdarah Kebumen dan Minang itu kini ayah dari dua orang anak. Masing-masing Arvio Adhyaksa (7) dan Rezan Adhyaksa (3). Kepada keduanya, Peddy sejak dini menanamkan disiplin, tanggung jawab dan respek terhadap orang lain. Ketiga hal itu, menurut dia, modal dasar dalam pengembangan diri dan interaksi sosial –yang akan sangat penting bagi keberhasilan seseorang. Dan, lingkungan tempat Peddy kini tinggal sangat mendukung untuk menanamkan hal tersebut. “Di sini kita harus mengerjakan hampir segala sesuatu sendiri. Jerman negara yang multi-ras, sehingga kita terbiasa dengan keberagaman budaya dan cara berpikir,” kata lelaki yang menyimpan obsesi menggunakan “know how” pasar Eropa untuk membantu atau membuka usaha sendiri, khususnya bagi produk yang dihasilkan oleh Bangsa Indonesia.