Pambudi Sunarsihanto, Guru Kepemimpinan Bankers’ University

Pambudi Citibank

Pambudi Citibank

Seorang perempuan muda yang mengaku sekretaris Pambudi menghampiri tim PortalHR di ruang tunggu tepat jam 4 sore, Selasa (4/2) lalu. Kepada kami ia berkata bahwa Bapak (Pambudi) masih belum selesai meeting dan kami diminta menunggu sebentar. Sepuluh menit kemudian, ia datang lagi dan membimbing kami ke sebuah ruangan tepat di bagian pojok Gedung Plaza Bapindo Sudirman.

Senyuman lebar Pambudi Sunarsihanto menyambut kami. Ada sedikit keyakinan bahwa sosok Country Human Resource Officer (CHRO) Citibank Indonesia tersebut akan cukup terbuka untuk bercerita dan menularkan banyak inspirasi kepada kami.

“Saya punya cita-cita bahwa setiap tiga tahun, saya harus mencoba hal baru. Dalam tiga tahun tersebut, saya sudah harus ganti pekerjaan, baik itu di negara yang sama maupun luar negeri.”

Itulah ungkapan Pambudi ketika ditanya mengenai perjalanan karirnya hingga ia menjabat sebagai pimpinan Human Resource di Citibank Indonesia saat ini. Di antara banyak aspek dalam hidupnya, ia memberikan porsi yang istimewa pada proses belajar (learning). Ia berprinsip bahwa learning curve yang ia miliki harus berfluktuasi, membentuk sebuah anak tangga yang merangkak ke atas.

“Kalau kita kerja pada satu bidang terus-menerus, kita pasti belajar, tapi kurvanya akan membentuk garis lurus, karena kita mempelajari hal yang sama. Akan berbeda ketika kita memulai hal baru,” ungkap ayah tiga anak tersebut.

Naik turun tower

Petualangan karir Pambudi, dimulai dengan statusnya sebagai karyawan Alcatel, bukan sebagai manajer melainkan teknisi yang tugasnya lebih banyak di lapangan, termasuk naik turun tower atau gedung untuk memperbaiki base stations. Kala itu, ia baru saja menyelesaikan strata duanya di Perancis. Setelah itu ia berganti-ganti pekerjaan antara lain sebagai pimpinan HRD di Nokia Beijing, Executive Vice President (HRD) Telkomsel Indonesia, Senior Consultant di Mazars Consulting Asia Singapura, dan beberapa posisi lainnya. Beragam jenis pekerjaan tersebut menurut Pambudi dihubungkan oleh satu benang merah yang merupakan passionnya dalam bekerja, yakni dealing with people.

Kini, ia kembali mengasah kemampuannya mengelola manusia pada sebuah bank multinasional asal Amerika, Citibank Indonesia. Dunia perbankan baru pertama kali ini ia jajaki, jadi selain berbagi ilmu, ia juga belajar banyak dari situ. Satu hal yang menarik dari bank ini adalah image-nya sebagai “University for Bankers” karena keberhasilannya mencetak leader yang hebat. Cukup beruntung bahwa tim portalHR berkesempatan mengintip mata kuliah dari “universitas” tersebut melalui sosok Direktur Human Resource Citibank, yang bisa dikatakan sebagai “guru”-nya, secara langsung.

“Leadership penting dalam menjalankan sebuah bisnis. Seorang pemimpin adalah penunjuk jalan, jadi harus bisa melihat jalan mana yang harus dilalui oleh perusahaan agar tetap hidup dan bertumbuh,” ungkap penggila baca ini.

Ia mencontohkan bahwa perusahaan sebesar Kodak saja bisa tinggal nama karena pimpinannya tidak mampu melihat tren masa depan sehingga gagal beradaptasi dan akhirnya punah. Tentunya Citibank tidak ingin mengalami kejadian serupa. Itulah mengapa, mengembangkan karyawan untuk memiliki jiwa kepemimpinan adalah sesuatu hal yang prinsipil.

3 Pokok Kepemimpinan ala Citibank

Ada tiga pokok poin yang bersinergi membentuk pola kepemimpinan ala Citibank. Yang pertama adalah lead youself. Memimpin diri sendiri, mengembangkan diri dan memiliki attitude teladan sebagai seorang pemimpin. Kedua, lead your team. Memimpin tim berarti memotivasi anak buah sehingga mereka mampu meraih tujuan yang diinginkan, memberikan mereka motivasi untuk terus menghasilkan karya. Poin yang terakhir adalah lead your business, artinya pemimpin yang memang cerdas dalam menjalankan bisnis, memupuk laba dan mengembangkan usaha.

Tiga hal yang menurut pria penggemar sulap ini selaras dengan semboyan Ki Hajar Dewantara. Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi contoh), ing madya mbangun karsa (di tengah mengembangkan anggota team), tut wuri handayani (di belakang melihat usaha berkembang).

Begitu santer kabar tentang kualitas lulusan ‘Universitas Citibank” ini terdengar, sehingga tidak mengherankan jika banyak perusahaan lain mengincar lulusan tersebut. Apa yang dapat dilakukan bank raksasa tersebut? Salah satunya adalah dengan memakai senjata Employee Value Preposition (EVP).

“Ketika karyawan ditanya mengenai alasan mereka bekerja di Citibank, kami berharap bahwa jawabannya bukan semata-mata uang. Karena itu berbahaya sekali. Jawaban yang kami harapkan adalah karena mereka bisa belajar dan berkembang di sini,” begitu kira-kira Pambudi menjelaskan makna EVP.

Mendengarkan cerita Pambudi, seperti layaknya kita mendengar petuah tentang kepemimpinan. Jika di antara kita awalnya berpikir bahwa ketua adalah sosok yang paling rekasa (menderita), mungkin pandangan Pambudi ini akan mengubah pemikiran kita.

Belajarlah Memimpin Dari Team Sepak Bola

Kita tentu tahu siapa pemimpin dalam pertandingan sepak bola. Bukan kapten team, melainkan pelatih dari tim tersebut. Apakah ia ikut capai bermain saat pertandingan berlangsung? Jawabannya adalah tidak. Pelatih justru duduk mengawasi pemainnya, mengunyah permen karet bahkan, dan sesekali mengganti pemainnya bila perlu. Begitulah memang seharusnya seorang pemimpin. Ia tahu kapan harus turun tangan, kapan harus menyemangati di belakang. Atau kita menyebutnya situasional leader. Mungkin pelatih memang hanya duduk ketika 90 menit pertandingan berlangsung, tetapi sehari atau bahkan berhari-hari sebelumnya, ia terus berpikir tentang strategi untuk memenangkan tim-nya.

Memimpin Bukan Menggurui, Tetapi Memberi Motivasi

Apakah pelatih sepak bola harus lebih jago dari pemainnya? Pada kenyataannya tidak demikian. Belum tentu pelatih Barcelona lebih piawai bermain sepak bola daripada Messi. Seorang pemain bola yang hebat, belum tentu bisa menjadi pelatih dan membawa tim kepada kesuksesan, contohnya saja Maradona. Tetapi bisa juga sebaliknya, pelatih yang awalnya bukan pemain hebat justru berhasil membuahkan prestasi untuk tim yang dilatih. Sebetulnya, ketika sebuah organisasi sudah memiliki anggota tim yang sesuai nilai yang dianut, maka tugas pemimpin selanjutnya adalah memotivasi mereka. Membuat anggota tim tersebut yakin akan kemampuannya dan optimal dalam memanfaatkannya.

Sama halnya dengan perusahaan, seorang pemimpin divisi tidak perlu lebih jago dari teknisi di divisi tersebut misalnya, tetapi ia tahu bagaimana mendorong karyawannnya untuk berbuat seoptimal mungkin untuk mengembangkan divisi tersebut.

“Memimpin adalah memotivasi. Tapi ada syaratnya, anggota teamnya harus “right people” artinya sesuai dengan nilai dan budaya yang dianut oleh organisasi,” ungkap pria yang hobi traveling ini.

Memotivasi orang lain juga menjadi alasan bagi anak ketiga dari empat bersaudara ini untuk menjajaki dunia Human Resource. Menurutnya, dalam piramida sebuah perusahaan di mana puncaknya adalah profit, dasarnya adalah happy employee yang kemudian mendorong terjadinya happy customers. Dan tugas HR sangat krusial di situ, mendorong agar karyawan termotivasi dan senang menjalankan tugas-tugasnya. Ditambahkan lagi olehnya bahwa membuat karyawan senang pun bukan perkara sederhana, terlebih jika itu menyangkut lebih dari 4000 jiwa di Citibank.

“Keinginan setiap orang berbeda-beda, tiap genarasi juga berbeda. Dengan begitu reward-nya juga tidak bisa disamakan”, jelas Pambudi, yang juga menegaskan bahwa reward adalah salah satu bentuk motivator. Untuk itu, system reward di Citibank dibuat customized atau berbeda-beda tiap orang.

Seorang Pemimpin Bahagia Ketika yang Dipimpin lebih Sukses

Like father like son. Pameo klise ini cukup pas menggambarkan sosok seorang Pambudi. Ia besar dan bertumbuh tak jauh dari pengaruh orang tuanya. Pun jika sekarang Pambudi menjabat sebagai pimpinan Human Resource sebuah bank internasional, itu tidak terlepas dari peran sang ayah yang memberikannya banyak pelajaran tentang leadership.

“Dari dulu ayah saya berpesan, seorang pemimpin yang baik itu mengembangkan anak buahnya dan kalau anak buahnya lebih sukses dari kita, seharusnya kita bahagia.”

Begitulah cara sang ayah membesarkan anak-anaknya. Pambudi kecil yang waktu itu masih seusia anak TK sudah diajari baca tulis. Ketika anak-anak lain masih mengeja b-u bu d-i di, ia sudah rajin membaca koran. Dan dari situlah ia tahu bahwa Bumi Allah itu sangat luas. Mimpinya untuk menjamah negara lain, muncul saat itu juga.

Untuk mewujudkan mimpinya tersebut, dibutuhkan komitmen yang tidak main-main. Ia harus bekerja ekstra keras bahkan sejak ia masih kecil. Ketika teman-temannya bisa bermain-main sepulang dari sekolah, ia belajar atau ketika teman-temannya bercerita tentang acara televisi, ia hanya diam mendengarkan, karena memang bapaknya tidak membelikannya televisi.

“Waktu itu saya tidak punya banyak pilihan. Karena bapak guru SD gajinya masih kecil, tidak bisa menguliahkan saya. Jadi antara saya nyangkul di sawah atau kuliah dengan beasiswa ke luar negeri. Saya jelas ga kepengen nyangkul, ga enak,” ujar Pambudi. Dengan ketekunanannya tersebut akhirnya Pambudi berhasil menginjakkan kaki di Perancis untuk menempuh studi strata satunya.

Orang tua memang umumnya berharap bahwa anak-anaknya akan menjadi lebih sukses dari mereka sendiri. Begitupun dengan orang tua Pambudi, dari keempat anaknya, dua pertama adalah dokter spesialis, ketiga direktur dan yang keempat adalah notaris. Itulah mengapa sang ayah selalu mengingatkan agar saat memimpin, kita harus bersuka cita ketika anak buah lebih sukses dari pada kita sendiri.

Hal itulah yang saat ini menjadi tantangan bagi Pambudi dalam memimpin anak buahnya di Citibank. Ia ingin men-develop anak buahnya supaya minimal bisa selevel dengan dia. Beberapa anak buahnya memang telah duduk di posisi penting di sejumlah perusahaan internasional, dan ia mengaku bangga dengan hal itu.

“Ya kalau ga ada yang selevel dengan saya atau lebih baik, nanti sayanya sulit dipromosi dong, karena tidak ada yang gantiin,” seloroh sosok family-man tersebut.

Sebagai pimpinan dari ribuan karyawan, Pambudi ternyata masih memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga (work-life balance). Sambil menatap foto-foto  keluarganya yang terpajang rapi di meja kerjanya, ia bercerita, “Setiap Sabtu saya jalan-jalan dengan anak-anak saya keliling panti. Kami melakukan atraksi sulap untuk menghibur anak-anak tersebut”.

Di waktu senggang yang lain, ia juga melakukan traveling ke luar negeri bersama keluarganya. Baginya, investasi semacam itu lebih berguna daripada membeli barang-barang mewah atau rumah.

“Traveling itu selain membuat kita belajar hal baru, juga akan memupuk rasa syukur kita,” begitu diungkapkan oleh lulusan Computer Science Universite de Nantes, Perancis ini. Bisa dikatakan, ia adalah penganut pepatah yang mengatakan bumi ini ibarat buku, kalau kita hanya pernah berada di satu negara, berarti kita masih berada di halaman pertama. Di usianya yang ke-45 ia telah mengunjungi 45 negara. Prinsip yang ia miliki saat ini, ia terapkan juga kepada anak-anaknya. Ia selalu berpesan agar anaknya bisa menjadi orang yang lebih sukses dari orang tuanya, juga menjelajahi bumi agar bisa belajar hal baru. (*/@yunitew)

Tags: , ,