Irawan Rei : Obsesi Besar dan Obsesi Kecil

Jika suatu kali Anda berkesempatan berbincang dengan Irwan Rei tentang manajemen sumber daya manusia (SDM), jangan terkaget-kaget kalau dia banyak menyebut kata ‘nilai tambah’. Jangan takut; dengan istilah itu, dia sama sekali tidak sedang membahas teori ekonomi Marxisme. Tapi, Irwan memang konsultan sekaligus praktisi SDM yang percaya bahwa salah satu peran utama dan terpenting dari divisi SDM (HRD) adalah memberikan nilai tambah kepada organisasi di dalam mencapai tujuannya.

Dengan blak-blakan Irwan bahkan sering mengatakan, “Kalau HRD tidak mampu memberi nilai tambah (bagi perusahaan), bubarkan saja.”

Kalangan HR di Jakarta barangkali tak akan ragu mengatakan bahwa pria kelahiran Manado, 1965 yang Agustus 2006 lalu mendirikan MTI (Multi Talent Indonesia) ini termasuk salah satu konsultan SDM paling popular saat ini. Dan, itu juga berarti, ia salah satu konsultan yang paling sibuk. Salah satu yang paling mahal pulakah? Irwan pastilah terlalu enggan untuk menjawab pertanyaan yang “sensitif” semacam itu.

Tapi, barangkali jejak rekam kiprahnya di dunia HR selama ini bisa memberi gambaran yang cukup gamblang. Sebelum memimpin MTI, Irwan pernah bekerja di dua perusahaan konsultan SDM terbesar di dunia, yakni Hewitt Associates dan Towers Perrin. Pada yang pertama disebut, ia menjabat sebagai direktur kantor cabangnya di Jakarta dan Business Team Leader di bagian People Value Management untuk kantor Asia-Tenggara.

Sedangkan di Towers Perrin, Irwan adalah senior consultant di bagian Business Performance Measurement & Executive Compensation untuk kantor Singapura dan Kuala Lumpur. Padahal, basis pendidikan awal Irwan sangat jauh dari bidang SDM. “Saya lulusan S-1 Teknik Perminyakan ITB tahun 1989,” ungkap ayah satu anak dan istri dari Audrey I Rei itu.

Sebelum malang melintang di bidang SDM, tentu saja Irwan sempat mengecap pengalaman bekerja di tempat yang sesuai dengan pendidikannya itu. Bahkan, ia kemudian mengambil program S-2 Perminyakan di University of Southern California, sebelum menjadi engineer perusahaan minyak Conoco selama tiga tahun. Lalu, bagaimana ceritanya bisa mentasIri kubangan minyak yang basah itu dan melompat ke dunia yang sama sekali berbeda?

“Sejak di ITB kebetulan saya sudah senang berorganisasi. Dan, kalau ditelusuri, persoalan manajemen itu kan ujung-ujungnya masalah manusia juga,” ujar pemegang gelar master bidang Business Administration (MBA) dari Monash Mt. Eliza Business School, Monash University, Australia itu. Irwan tak pernah merasa bahwa dengan capaiannya sekarang di bidang SDM maka ilmu perminyakan yang ditekuninya dulu serta merta menjadi sia-sia. “Secara umum, semua ilmu itu kan proses berpikirnya tetap bisa dipakai di mana saja,” kata dia.

***

Jiwa profesional yang selalu mencari tantangan, ditambah dengan segenggam idealisme membuat Irwan Rei tak mau terlena dengan posisinya yang mapan di perusahaan-perusahaan global yang memberinya tidak hanya gengsi. Tapi, juga gaji tetap yang tinggi dan kesempatan-kesempatan untuk menghadiri berbagai pertemuan baik regional maupun global. Ada yang lebih besar dari itu semua, dan keyakinan itu mendorong Irwan mendirikan perusahaan konsultan SDM sendiri. “Kalau punya perusahaan sendiri itu kebebasan untuk eksplor peluang-peluang sangat besar, di samping bisa menciptakan budaya kerja sendiri. ”

Di MTI, yang disebutnya masih anak bawang, Irwan duduk sebagai managing director. Dengan segudang pengalaman yang dipanggulnya, Irwan tak gentar untuk memosisikan “anak bawang”-nya itu dalam kancah persaingan global. “Konsultasi itu kan bisnis kepercayaan, kalau orang sudah percaya sama saya, di mana pun saya berada, bendera apapun yang saya kibarkan, orang akan mencari,” ujar dia seraya menambahkan bahwa MTI memfokuskan bidang konsultasinya pada strategi dan sistem pengembangan SDM.

Irwan sendiri memiliki pengalaman ekstensif di berbagai bidang SDM, dengan spesialisasi pada bagian Business Performance Management, termasuk di dalamnya pembuatan sistem Performance Management System berbasis Balanced Scorecard dan Value Based Management, serta hubungannya dengan sistem Kompensasi dan Insentif (Short and Long-Term Incentives). Selain itu, ia juga berpengalaman dalam pengembangan Strategi dan Struktur Organisasi SDM, Competency Modelling, Career Development Model, Survei Opini Karyawan dan Executive Compensation.

Menurut Irwan, masalah yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan dalam urusan SDM pada umumnya sama, baik lokal maupun multinasional. Yakni, isu-isu seputar produktivitas, motivasi, bagaimana mendapatkan orang yang terbaik dan mengelola kinerja karyawan. “Hanya saja secara statistik, perusahaan-perusahaan multinasional rata-rata sudah memiliki sistem SDM yang lebih baik,” ia menunjuk perbedaan antara perusahaan lokal dan multinasional.

Dengan MTI Irwan berharap bisa berperan lebih banyak untuk membantu perusahaan-perusahaan lokal memecahkan masalah SDM mereka. Secara makro, Irwan melihat, meningkatkan kualitas SDM dalam sebuah organisasi merupakan langkah awal untuk mempertinggi mutu bangsa ini. “Kalau Indonesia ini kita lihat sebagai sebuah korporasi, maka yang perlu dilakukan sekarang meningkatkan kapabilitasnya untuk bisa bersaing dengan negara lain.”

Taruhlah itu tadi obsesi besar Irwan Rei. Obsesi “kecil”-nya? “Saya ingin memiliki <I>foundation</I> yang dapat memberikan beasiswa pendidikan bagi anak-anak berbakat namun kurang mampu,” sahut penggemar jogging dan meditasi itu.