Muhammad Ramadhan: HR Harus Memperluas Perspektifnya

Belum genap seminggu menduduki jabatan barunya sebagai Human Resources Manager PT DSM Kaltim Melamine, Muhammad Ramadhan sudah kedatangan tamu. “Saya senang, langsung ada karyawan yang curhat,” kata dia. Ditemui di kantornya pada pekan pertamanya bekerja di tempat baru, Ramadhan tampak segar, ceria dan penuh semangat dengan kemeja putih yang cerah. Senyumnya mengembang dan ia kemudian banyak bercerita tentang apa yang akan dilakukannya sebagai pimpinan HR baru di sebuah perusahaan multinasional.
“Sebagai orang baru di HR, saya harus memastikan sembilan puluh hari pertama berjalan mulus. Pertama, tentu, memahami kebutuhan organisasinya apa,” ujar dia. Setelah mengetahui kebutuhan perusahaan, lanjut Ramadhan, tugas HR adalah mendesain program-program yang ujung-ujungnya akan keluar sebagai strategi HR. “Lebih konkretnya HP planning,” jelas dia. Untuk urusan ini, Ramadhan sudah berpengalaman dari dua perusahaan tempat kerja dia sebelumnya. Yakni perusahaan konsultan HR asal Inggris, SHL dan perusahaan Jerman, Hengkel.
Namun, Ramadhan sadar benar bahwa sebuah strategi HR tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus memperhatikan kondisi perusahaannya. “Oke nih saya bawa pengalaman dan knowledge dari perusahaan sebelumnya, tapi saya nggak bisa menerapkannya begitu saja di perusahaan yang sekarang. Belum tentu cocok. Apa yang berjalan baik di perusahaan sebelumnya, tidak menjamin berhasil juga di perusahaan yang baru,” papar dia. Menurut Ramadhan, seorang pimpinan HR harus memahami dulu strategi bisnis, arahan, prioritas dan target perusahaan sebelum menentukan aksinya.
“Ada perusahaan yang sedang mulai, ada yang re-alignment, ada yang melakukan pembenahan, ada juga yang mau melanjutkan bisnisnya yang sudah sukses. Masing-masing memerlukan prioritas strategi yang berbeda-beda tuntutannya,” terang dia. Sebagai orang baru, Ramadhan tak memungkiri akan adanya kemungkinan kesalahpahaman atau bahkan mungkin penolakan dari karyawan yang sudah lebih dulu bekerja. “Bahkan ekspektasi juga selalu ada. Kita me-manage ekspektasi dan mispersepsi itu. Intinya bagaimana membangun trust lewat komunikasi yang baik,” tandas dia.
***
Tutur katanya yang lembut, dan pembawaannya yang serba tenang tidak menutupi sosoknya sebagai profesional HR yang berpengalaman di bidangnya. Tak heran jika DSM Kaltim Melamine secara khusus meng-hire-nya untuk sebuah misi yang juga khusus. “Saya diminta membenahi remunaration management yang ada kaitannya dengan basis kompetensi,” ungkap dia.
DSM adalah perusahaan kimia dasar asal Belanda yang masuk ke Indonesia pada awal dekade 90-an dengan menggandeng BUMN Pupuk Kaltim. “Mereka investor, majority share, tapi secara operasional mengikuti Pupuk Kaltim, termasuk sistem HR-nya. Nah, sekarang mulai dirasakan adanya kebutuhan organisasi yang berubah, ingin lebih berorientasi pada performance based dan sistem lama tidak begitu akomodatif terhadap tujuan ini. Saya diminta bergabung untuk menjalankan fungsi itu,” jelas Ramadhan.
Lahir di Bandung, 20 November 1970, lulusan S-1 dari Fakultas Ekonomi Jurusan Managemen Universitas Parahyangan ini awalnya tak pernah terpikir akan menekuni karier di dunia HR. “Bahkan waktu penjurusan khusus di semester akhir, saya memilih marketing. Jurusan HR ada, tapi waktu itu nggak kepikiran masuk ke sana,” kenang dia. Diakui, bidang HR memang tidak populer di kalangan mahasiswa Ekonomi. Namun, Ramadhan melihat, sekarang mulai ada perubahan tren dimana revolusi HR dari personal admin hingga menjadi Human Capital Management seperti sekarang, telah menaikkan pamor HR di masyarakat.
“HR kini memberikan satu daya tarik tersendiri karena melibatkan perspektif yang berbeda, pemikiran strategis, bukan cuma urusan payroll tapi sudah lebih kompleks, sehingga sebagian orang melihat HR sesuatu yang menarik,” kata dia. Sekarang, Ramadhan bahkan bisa berkata, HR merupakan bidang yang unik dan menarik karena berhubungan dengan orang. “Kita selalu menganggap orang sebagai aset utama, tapi hanya akan menjadi value utama pula kalau ditempatkan secara tepat,” ujar dia.
Memastikan bahwa orang yang bekerja di perusahaan adalah aset yang tepat, itulah yang menimbulkan “curiosity” dan “enjoyment” bagi Ramadhan. “Kita bisa bisa melakukan sesuatu di sana, menerapkan konsep, mengimplementasikan metodologi tertentu, itulah kepuasan seorang HR,” tambah dia.
***
Ketika bekerja di Hengkel, Ramadhan sempat dikirim untuk sebuah program mini MBA di CIBS, Shanghai. Sebelumnya, dia sendiri telah mengantongi gelar MM dari STIE Ipwija, Jakarta. Di Hengkel, dia belajar banyak mengenai bagaimana meraih kepercayaan dari top management. “Selain nggak gampang, tidak semua perusahaan memberi kesempatan pada orang HR untuk terlibat. Kita sendiri yang harus membangun trust itu. Sungguh mengesankan ketika kita jadi bagian dari manajemen yang memberikan kontribusi pada organisasi, dan bukan hanya orang marketing atau finance yang memang lebih dekat dengan CEO dan lebih banyak dilibatkan,” tutur dia.
Barangkali akan terdengar sedikit klise kalau dikatakan bahwa kuncinya adalah sikap proaktif. Tapi, bagi Ramadhan, memang benar bahwa orang HR tidak bisa hanya menunggu kalau ingin diperhitungkan. “Kita yang harus datang, <I>hai guys, saya punya sesuatu yang bisa bantu Anda, tapi involve saya dalam meeting</I>….kira-kira begitulah. Sekali lagi untuk mendapatkan kepercayaan agar kita dilibatkan itu yang nggak gampang,” tandas dia. Ramadhan merasa beruntung bahwa dia pernah memperdalam ilmu HR-nya ketika menjadi konsultan di SHL, sebuah perusahaan yang memperkenalkan pendekatan psikometrik assessment. Pengalaman ini memberinya kekuatan pada sisi konsep.
Kendati demikian, ketika terjun langsung sebagai praktisi di lapangan, Ramadhan sadar bahwa konsep perlu mengikuti prinsip fleksibilitas. “Sebagus, semahal dan secanggih apapun sebuah konsep, kalau diterapkan di tempat yang salah, atau tempat yang sebenarnya tak membutuhkannya, ya nggak akan berguna. Oleh karenanya, tuntutan untuk orang HR sekarang bukan hanya harus mampu di bidang HR-nya irtu sendiri, melainkan harus paham aspek-aspek organisasi yang luas. Bagaimanapun perusahaan itu kan orientasi ke profit, jadi HR juga harus mengarah ke sana, mengenal customer, mengerti produk dan pasar,” kata Ramadhan. “Intinya, HR harus memperluas perspektifnya, jangan hanya terkungkung di HR-nya saja,” pungkas dia.