Mariko Yoshihara: Recruitment Agency itu Bisnis Idealis

Seandainya satu hari terdiri dari 48 jam, apa yang akan dilakukan oleh Mariko Yoshihara? “Yang pasti melakukan hal yang saya sukai, yakni hal yang berhubungan dengan rekrutmen,” jawab Managing Director PT JAC Indonesia itu dengan mantap.

Di tengah situasi dunia usaha di Tanah Air yang kurang mendukung, bertemu dengan sosok seperti Mariko mau tidak mau membuat kita seakan-akan dipaksa untuk semakin optimis dan menatap masa depan dengan senyum menggembang. Tutur-katanya lembut, namun menyimpan bara yang mampu memantik api semangat lawan bicaranya. Di tengah mobilitasnya yang tinggi dan kesibukannya yang luar biasa, Mariko menerima PortalHR di kantornya yang sederhana di Spinindo Building, Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat.

Sebagai orang nomor satu di kantor yang merupakan bagian dari perusahaan rekrutmen internasional itu, Mariko tampak duduk di antara para stafnya. Tidak punya ruangan khusus? “Saya sengaja, tiap tiga-empat bulan sekali duduk berpindah-pindah agar lebih dekat dengan karyawan dan mengetahui persoalan yang dihadapi tiap-tiap bagian,” jelas dia.

JAC Indonesia yang dipimpinnya berdiri pada Juli 2002.“Kami adalah perusahaan rekrutmen internasional yang mempunyai cabang di tujuh negara. Didirikan pertama kali di London 31 tahun yang lalu oleh pasangan Mr & Mrs Tazaki,” jelas Mariko.

Selain karena alasan geografis semacam itu, klaim sebagai agensi rekrutmen internasional secara objektif juga bisa dilihat dari kemampuan JAC dalam melakukan penempatan tenaga kerja profesional. “Yang umumnya terjadi adalah penempatan yang dilakukan misalnya Jabotabek, tapi kami bisa lintas negeri, di samping juga bisa menerima tenaga asing yang mau bekerja di Indonesia,” papar Mariko.

Dalam empat tahun perjalanannya hingga 2006 ini, JAC Indonesia sudah menempatkan 1.200 tenaga kerja profesional di lebih dari 800 perusahaan. Termasuk di dalamnya 130 tenaga asing, dalam berbagai bidang dari IT specialist, marketing staff hingga technical advisor. “Jadi, kita bisa menempatkan tenaga kerja bergaji dari mulai 200 hingga 8.000 dolar AS. Perusahaan rekrutmen lain mungkin membaginya berdasarkan level tertentu, misalnya outsource saja, rekrutmen saja atau executive search saja, tapi kami sudah melakukan ketiga-tiganya,” jelas Mariko lagi.

Sejauh ini, JAC Indonesia baru menggarap satu sisi, yakni perusahaan klien dan belum menyentuh sisi yang lain, yakni tenaga kerja itu sendiri. Artinya, Mariko bekerja berdasarkan permintaan dari perusahaan yang sedang mencari tenaga kerja, dan belum melayani tenaga kerja yang hendak mencari perusahaan tertentu. Tapi, bukan berarti hal itu belum terpikir. “Itu yang ingin kita capai,” tandas dia. Diungkapkan, saat ini JAC Indonesia sudah memiliki 70 orang staf. “Di recruitment agency lain biasanya sepuluh atau tidak lebih dari itu. Tapi, kita mencoba mengoperasikan agensi ini dalam jumlah besar agar bisa merespon kebutuhan baik klien dan para pencari kerja,” ungkap Mariko.

Mariko menyadari, untuk mencapai tujuan itu tidaklah mudah. Soal utamanya, masalah perekonomian negeri kita yang kurang mendukung. “Kalau negara kita memiliki daya saing yang lebih baik di Asia, meski sudah terkoreksi menduduki peringkat ke-50 dari 125 negera versi Forum Ekonomi Dunia (WEF), maka masalah-masalah rekrutmen sangatlah kecil. Tetangga kami, JAC Singapore dengan mudahnya melakukan penempatan sebanyak 100 tenaga profesional per bulan, dikarenakan pertumbuhan perekonomian Singapore yang membaik.”

Dalam satu bulan, agensi yang dipimpin Mariko melakukan 40 penempatan tenaga kerja. “Kita menyatakan diri kita tidak berhasil bila dalam tiga bulan masa percobaan kandidat resign karena merasa tidak cocok, atau perusahaan menyatakan performance dia tidak cocok. Dan, dari 40 penempatan, rata-rata 3-4 yang seperti itu, dilihat dari prosentase kan kecil,” kata Mariko.

Untuk memberikan kepuasan kepada klien, Mariko mengaku tidak menerapkan penalty system apapun baik kepada kandidat maupun perusahaan. “Kami bahkan menerapkan sistem refund. Kami mendapatkan komisi yang disebut dengan placement fee, berlaku dengan garansi tiga bulan. Kalau dalam 3 bulan mereka ada komplain terhadap kandidat kita, kita kembalikan uangnya, tak ada yang rugi,” ujar Mariko yang percaya sekali dengan sistem long term relation.

***

Berdedikasi, penuh tanggung jawab dan menghayati betul apa yang dikerjakan. Itulah kesan yang sulit dielakkan bagi siapa pun yang pernah bertemu dan ngobrol dengan perempuan berdarah Jepang kelahiran 24 November 1967 itu. Dan semua itu dia buktikan dalam praktik usahanya. “Mungkin kita recruitment agency yang cukup berani sampai mengembalikan uang perusahaan. Dengan metode ini kami dipaksa untuk belajar bersikap bertanggung jawab terhadap setiap tindakan kita,” kata dia.

Sebagai eksekutif yang berkecimpung di bidang rekrutmen, Mariko tentu banyak bertemu dengan berbagai karakter SDM, utamanya pada level menengah ke atas. Menurut dia, sebenarnya SDM Indonesia sudah cukup baik. Terutama, Mariko pertama kali melihat dari segi attitude, terutama keramahtamahan dan tutur bahasa. Dan kedua, dari segi pengetahuan secara soft skill maupun hard skill tapi, sayangnya terdapat dilema yang sudah menjadi rahasia umum, yang sampai kini masih dilihat Mariko sebagai kelemahan adalah rendahnya kompetensi yang berhubungan dengan leadership dan inisiatif.

“Belum lama saya ketemu GM Regional untuk Nokia, ia mengatakan bahwa vacancy itu sebenarnya banyak! Namun untuk memperoleh orang Indonesia yang memiliki leadership tinggi sangat sulit,” ungkap Mariko. Menurut dia, kebiasaan dalam keluarga, juga dalam pendidikan, ikut membentuk karakter SDM Indonesia yang seperti itu. “Kita terbiasa disuruh. Kalau disuruh kita bisa, tapi untuk memimpin atau mengambil inisiatif melakukan sesuatu yang baru, sulit sekali diharapkan dari SDM kita,” kata dia.

Menurut Mariko, tidak ada cara yang lebih efektif untuk membenahi hal itu kecuali memulainya dengan bertanya pada diri sendiri. “Saya ini mau berkarir sampai sejauh level apa? Sebab boleh dibilang tidak semua tenaga kerja di Indonesia menyatakan bahwa prioritas hidup saya itu bekerja, mungkin itu prioritas keempat atau kelima, itu sah saja, kalau semua orang ingin jadi CEO kan repot juga, nggak ada yang jadi admin. Susahnya, maunya admin tapi nggak mau risiko, maunya high return. Tapi, ada juga yang menyatakan ingin jadi CEO, ingin director level tapi maunya lima hari kerja dan pulang jam lima, ya nggak masuk akal.”

Selain menyoroti individu, Mariko juga tak lupa mengingatkan bahwa perusahaan juga memegang peran penting dalam proses membangun SDM yang berkualitas. “Perusahaan juga harus memberi kesempatan karyawannya untuk berkembang. Kalau sudah ada skill, kemampuan dan kompetensi, mestinya diberi kesempatan juga, kalau enggak ya nggak maju-maju,” kata dia.

JAC Indonesia sendiri merasa terpanggil untuk membantu perkembangan SDM yang tangguh di negeri tercinta ini. Mariko tak ingin menjadikan perusahaannya sebagai menara gading yang tak punya pijakan sosial dalam masyarakat. “Yang belakangan kami lakukan, kami melaksanakan JAC Forum kita sebutnya, kita coba sebulan sekali sebagai kontribusi kita ke masyarakat. Tujuannya untuk memberikan seminar/workshopdari praktisi senior dengan dana yang terjangkau. Diharapkan dengan Forum ini para profesional bisa meningkatkan kualitasnya. Forum ini juga dibuat untuk menjadi sarana temu para profesional,”

Sebagai orang yang mengaku hobi bekerja, Mariko tampaknya memang sangat menikmati pekerjaannya. Menurut dia, sungguh menarik sekali berkecimpung dalam urusan rekrutmen tenaga kerja. Meskipun ia punya catatan khusus terkait dengan itu. “Terus terang kita tak akan bisa untuk menjadi kaya raya di bidang ini, basicall lebih ke idealisme,” kata dia. Lalu, ia menuturkan pengalamannya untuk memperjelas pernyataan tersebut.

Kami sering melakukan penempatan untuk jabatan yang berhubungan dengan Manajer HR. Umumnya order terjadi dikarenakan oleh adanya masalah dengan serikat buruh atau masalah kristis lainnya, lalu Manajer HR-nya resign. Bila kita memiliki kemampuan mencarikan penggantinya, maka kita pun bisa membantu perusahaan itu untuk tetap eksis. Taruhlah perusahaan itu mempunyai 300 karyawan. Kalau tiap karyawan menanggung rata-rata 5 anggota keluarga, berarti Manajer HR pengganti yang kita tempatkan tadi berhasil menyelamatkan perusahaan dari kepailitan dan mencegah kemungkinan terjadinya ribuan pengangguran.

Berlatar belakang pendidikan sastra–tepatnya Sastra Jepang pada Universitas Indonesia, dan tidak tamat–pemilik nama panjang Mariko Asmara Yoshihara itu mengaku menekuni dunia HR karena faktor kesempatan. Sejak mahasiswa ia sudah sering diminta untuk menerjemahkan bahan-bahan yang berkaitan dengan isu tersebut, dan berhubungan dengan lingkaran itu. Keluhan yang sering ia dengar adalah soal lemahnya SDM. Maka ketika ada kesempatan yang melibatkan dia untuk terjun total di bidang itu, awalnya ia pun menolak karena merasa tidak mampu, tapi ia berhasil diyakinkan, dan dengan ketekunannya untuk belajar hal baru, ia pun kini menjadi, katakanlah, insan HR yang berhasil dan bisa menjadi panutan di Indonesia. “Boleh dibilang otodidak, saya tidak belajar formal mengenai manajemen SDM,” kata istri dari Noriaki Yoshihara itu.

Pembaca buku biografi tokoh-tokoh terkenal itu menjaga semangat kerjanya antara lain dengan menggeser paradigma kerja itu sendiri. “Kerja bukan selalu harus diartikan duduk di depan komputer, bikin laporan, melainkan duduk di Starbuck minum kopi, ngobrol dengan orang lain, itu juga kerja.” Ketika ditanya mengenai obsesi, dengan rendah hati namun mantap Mariko menjawab, “Obsesi saya kecil. Membesarkan perusahaan ini 5 kali lipat dalam kurun waktu 5 tahun.”