Maria Theodora Kurniawati: Menjadi Praktisi SDM yang Inspiratif

Nama Maria Theodora Kurniawati tidak asing lagi di dunia Sumber Daya Manusia (SDM). Perempuan kelahiran Tegal, 49 tahun silam ini telah berkecimpung di bidang SDM selama 25 tahun. Maria yang saat ini menjabat sebagai Kepala Departemen SDM (Head of Human Resource) PT Bank Danamon Indonesia, Tbk adalah satu dari 10 tokoh Human Resources paling inspiratif tahun 2009 versi majalah Human Capital (HC) dan ia satu-satunya perempuan yang saat itu terseleksi oleh Majalah HC, Panelis dan lembaga riset iPro.
Meskipun Maria tidak pernah mengecap pendidikan SDM secara formal, keteguhannya untuk belajar dari orang lain dan pengalamannya membuat ia mampu menjalani kariernya di dunia SDM. Maria memutuskan untuk terjun sebagai praktisi SDM karena ia memang menyukainya.
“Saya merasa profesi SDM adalah panggilan hati saya dan saya diciptakan untuk profesi ini,” tutur Maria, yang ia tuangkan dalam buku rekam jejaknya, Future.
Pengalaman Maria bisa dikatakan menarik. Ia mengawali kariernya sebagai sekretaris di sebuah konsultan bernama PHB di Jakarta. Lulusan LPK Tarakanita dan Sastra Perancis Universitas Indonesia ini kemudian melanjutkan langkahnya sebagai seorang billing administrator di USI/IMB, yang tugasnya bergelut dengan rutinitas mengurus tagihan perusahaan. Ia terus memupuk keyakinan bahwa dirinya masih bisa berkembang dan selalu siap jika ada kesempatan untuk bergabung di perusahaan lain.
Tahun 1982-1983, Maria mengasah kematangan dan kecepatannya mengambil peluang dengan mengikuti Pertukaran Pemuda ke Australia. Saat itu ia masih aktif sebagai mahasiswa Tarakanita dan UI. Begitu mendapat informasi mengenai Pertukaran Pemuda, Maria tergiur dan langsung mendaftar. Ia dinyatakan lulus seleksi mewakili DKI Jakarta dan memutuskan untuk cuti kuliah. Ketika menjadi peserta pertukaran pelajar, banyak hal terjadi yang mengarah kepada proses pendewasaan diri yang ia sebut an eye opener.
Sekembalinya dari Australia, Maria tidak pernah menolak pekerjaan dan kesempatan yang menghampirinya, selama menurutnya hal itu halal dan baik. Ia melupakan semua ego dan euforia luar negeri yang bisa membuat orang lupa bahwa pijakan di Indonesia tidak bisa disamakan dengan kondisi luar negeri seperti Australia.
“Saya bekerja bukan untuk mencari gengsi. Apa yang ada di depan mata, itulah yang saya kerjakan. Saya bisa kembali naik angkutan umum di Jakarta seperti sebelum pergi ke luar negeri. Tidak ada kekhawatiran tentang perubahan gaya hidup,” ungkapnya.
Titik balik Maria mengenal fondasi SDM dialaminya ketika mendapatkan kesempatan bekerja di sebuah perusahaan lokal di bidang peralatan komunikasi pada 1986, PT Radio Frequency Communication (RFC). Awalnya ia bekerja sebagai staf administrasi. Namun, pada suatu waktu Kepala kantor RFC pensiun dan posisi tersebut lowong. Posisi ini tidak boleh lama kosong hingga akhirnya Maria ditawari untuk menggantikannya. Maria resmi menjadi Kepala Kantor RFC pada 1 September 1987, di usianya ke 26.
Sebagai seorang pendaki gunung, Maria memiliki karakter pantang menyerah dan tidak mudah puas. Setelah menjabat sebagai Kepala Kantor RFC yang notabene perusahaan lokal, Maria memutuskan untuk bekerja di perusahaan multinasional. Dengan mudahnya, ia mendapatkan kesempatan baru, bekerja sebagai sekretaris ekspatriat dari Amerika bernama Carl Bone. Namun, hanya setahun lamanya Maria bekerja, Carl Bone harus kembali ke negaranya.
Beruntung, pada saat Maria bekerja untuk Carl Bone, ia sudah terbiasa membantu departemen SDM di Banker Trust sehingga ia pun dilirik untuk jadi officer SDM setelah kepulangan Carl Bone. Pekerjaannya mengurus segala macam rumah tangga kantor atau general affairs. Meskipun pekerjaan ini mirip dengan yang ia lokani saat menjadi Kepala Kantor RFC, diakuinya, inilah pekerjaan yang mendekatkannya dengan dunia SDM. “Di sini saya belajar tentang kompensasi dan benefits (komben) dari teman yang membawahi bidang tersebut,” tuturnya.
Di tempat ini pula Maria merasakan pengalaman PHK pertamanya,. Banker Trust yang kala itu mengalami perampingan karyawan, membuat seorang kawan Maria hampir saja kehilangan pekerjaan. Saat itu kawan Maria yang baru saja mempersiapkan pernikahan mendapat kabar buruk bahwa ia terkena perampingan. Namun, Maria yang tidak tega melihat kesulitan kawannya itu, rela bertukar posisi. Walhasil, Marialah yang terkena PHK.
Rezeki memang tak kemana. PHK itu memberikan berkah lain baginya. Maria mendapatkan rumah pertamanya di usia muda. Perusahaan menganggap lunas pinjaman rumah (housing loan)-nya. Kini, rumah itu semakin besar karena suaminya, Nelson, membeli rumah tepat di sebelahnya saat menikah dengan Maria. “Dua rumah tipe 49 masing-masing di atas tanah seluas 120 meter persegi di daerah Kranji, Bekasi Barat,” urai Maria.
Setelah mengalami PHK di Banker Trust, Maria beberapa kali bekerja di bidang SDM. Di Johnson & Johnson ia bekerja sebagai staf SDM. Di sini ia mendapat kesempatan untuk mengikuti program senior management di Manila selama dua bulan. Ketika ia pergi, anak keduanya, Citra, baru berusia satu tahun, namun ia tetap memutuskan untuk pergi karena itulah kesempatan emas untuk memperbaiki karier dan ekonomi keluarga.
Langkahnya berlanjut ketika Maria ditawari bergabung dengan Standard Chartered sebagai Human Resources Relationship Manager untuk divisi personal banking, yang ketika itu dipimpin seorang ekspatriat. Maria mengakui, sebagai praktisi SDM tidaklah mudah memiliki kemampuan dan dapat menjadi mitra dari pelaku bisnis. Untuk itulah, diperlukan keberanian dan ketangguhan serta kepribadian yang tidak mudah menyerah. Selama lima tahun ia mengasah kompetensi tersebut. Akhirnya, ia mendapat promosi dan diangkat menjadi Kepala Departemen SDM pada 2003.
Setelah mencapai posisi di Departemen SDM Standart Chartered, Maria mulai mencari tantangan baru. Dan, tantangan itu diberikan oleh PT Bank Danamon Indonesia, Tbk dengan jumlah karyawan mencapai 42 ribu orang termasuk karyawan anak perusahaan. Inilah yang membuat Maria pada akhirnya menerima tawaran tersebut dan bergabung dengan Danamon pada 2006, sebagai Kepala Departemen SDM.
Di samping kelebihannya, Maria merasa dinamikanya yang cepat merupakan suatu kelemahan. Ia terlalu cepat bergerak hingga tidak memerhatikan masa lalu. Namun, Maria mengaku sangat bersyukur sudah sampai pada tahap ini dan mampu melewati masa-masa sulit dengan baik tanpa ada kata menyesal. â–  (Nani Maria Dewi)