Maria Theodora Kurniawati: “Human Capital Memanggil Saya Kembali”

Maria Theodora Kurniawati_Wajah HR-PortalHR

IBARAT sudah kenyang makan asam garam di dunia Human Resources (HR), begitulah keseharian dari seorang Maria Theodora Kurniawati. Bagaimana tidak, lebih dari 25 tahun Maria mengabdikan ilmu dan passion-nya untuk mengurus dan memajukan Sumber Daya Manusia (SDM) di dalam organisasi tempatnya bekerja.

Tak heran jika keputusannya untuk pensiun dari profesi HR yang telah ia canangkan, harus dicabut kembali. Ya, selepas meninggalkan posisinya sebagai Head Of Human Resources Bank Danamon, mulai dari 2006-2011, Maria memang ingin ‘istirahat’ dan mencurahkan perhatiannya kepada keluarga. Namun kini sudah berubah.

Sejak January 2012, Maria menerima pinangan dari PT Trakindo Utama yang memberikan kepercayaan untuk mengisi jabatan sebagai Chief Administration. Lantas, apa alasannya kembali ke dunia HR. Kepada PortalHR ia pun bercerita.

Maria menuturkan bahwa rencananya untuk pensiun, awalnya memang sudah bulat. “Namun begitu setelah kurang lebih tiga bulan mendedikasikan diri untuk keluarga, ada sebuah perusahaan yang mengundang saya untuk bergabung. Bagi saya perusahaan ini lain dari yang lain karena sejak didirikan memiliki misi yang indah terutama bagi praktisi Human Capital seperti saya,” kenangnya.

Diakui Maria, misi perusahaan yang kini ia bergabung di dalamnya yang membuatnya tertarik di antaranya adalah menciptakan lapangan kerja yang berkualitas bagi banyak orang, dan selama 40 tahun tetap pada komitmen yang sama dan ternyata mampu tumbuh dan meraih keuntungan. ”Kini perusahaan tersebut tidak hanya mempercayakan masalah-masalah HR, namun juga portfolio yang lain yaitu procurement, communication, safety dan CSR,” jelas Maria tentang wilayah kerjanya sekarang.

Menjawab apa motivasi terbesarnya untuk kembali dan berkarir di jalur HR, Maria mengungkapkan bahwa motivasi yang utama adalah agar ia menjadi orang yang bermanfaat dan dapat berkontribusi memajukan sumber daya manusia khususnya di Indonesia dan bagi perusahaan nasional. “Saya sendiri merasa bahwa HR adalah sebuah profesi yang tepat untuk saya, dan saya merasa terpanggil untuk memberikan yang terbaik walaupun tidak mudah,” paparnya.

Mengenai sumbangsih pemikiran atau gagasan tentang implementasi HR di tempatnya bekerja saat ini, Maria pun sudah bersiap diri. “Pertama-tama tugas saya adalah memperkuat team HR dan selanjutnya membuat Stategy Human Resources yang diselaraskan dengan tujuan perusahaan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Di samping itu saya meneliti hasil Employee Opinion Survey yang sudah dilaksanakan dan membuat program-program yang diharapkan antara lain di bidang leadership. Kedua hal tersebut saat ini dalam tahap penyelesaian,” imbuh Maria yang pernah menduduki posisi Head of Human Resources Standard Chartered Bank, 1996-2005.

Tantangan HR di perusahaan ini, lanjut Maria adalah bagaimana seluruh sumber daya manusia dapat dioptimalkan untuk mencapai sasaran kinerja jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Agar dapat optimal, maka training dan development dari staff menjadi perhatiannya, di samping hal-hal yang lain. Pekerjaan service untuk perusahaan ini, tambahnya, adalah salah satu yang sangat penting dan memerlukan skill tinggi karena produk utamanya adalah alat-alat berat buatan Caterpillar.

Yang membuat Maria betah dengan karir HR-nya, disebutkan di antaranya adalah karena setiap hari adalah hari baru baginya, karena tantangan yang hadir selalu berbeda. “Inilah yang membuat hari-hari saya sangat berwarna. Mengadapi karyawan satu dan lainnya sangat berbeda, karena latar belakang dan interest mereka juga berbeda, dengan demikian saya harus selalu belajar untuk mendengar, mengerti dan mencarikan jalan keluar untuk setiap masalah yang ada. Kadang-kadang masalah perkerjaan namun tidak jarang juga beralih ke masalah pribadi. Keragaman dan tidak monoton ini yang membuat saya menyukai profesi saya,” ujar Maria yang pernah menimba ilmu HR di perusahaan Johnson and Johnson Indonesia pada 1992-1995.

Mengenai penggunaan social media yang kini marak, termasuk oleh para karyawan di kantor, Maria memiliki pandangan tersendiri. “Dari sisi HR, saya melihat social media adalah sebagai kawan. Karena social media sudah menjadi kenyataan yang tidak bisa dipungkiri menjadi bagian dari kehidupan banyak orang pada masa kini. Perusahaan tidak bisa lagi menyikapi social media sebagai lawan, karena sudah pasti akan sangat merugikan jika demikian. Sebaliknya dengan adanya social media kita menjadi lebih mengetahui apa yang terjadi di balik dunia formal dan dengan mengetahui kita dapat mengambil sikap,” tukas penulis buku “Future: Menavigasi Profesi SDM Sebuah Rekam Jejak” ini. (*/@erkoes)

Tags: