Latief Harnoko: Suara HR Suara Tuhan

Akhir tahun lalu, PT Televisi Transformati Indonesia yang menaungi Trans TV dan Trans 7 membuat kejutan dengan membuka Trans Studio World di Makassar yang merupakan sebuah kawasan wisata terpadu seluas 12,7 hektare. Di dalamnya terdapat theme park indoor terbesar di dunia, dengan 20 wahana permainan tematik dilengkapi mal, restauran hotel dan marina. Taman hiburan raksasa tersebut diresmikan pada 9 September 2009. Dan, tiga bulan kemudian, tepatnya 16 Desember, Trans Corp kembali membuat kejutan dengan pesta ulangtahunnya yang ke-8, yang digelar besar-besaran di Plenary Hall Jakarta Convention Center dengan konsep sirkus. Acara tersebut disiarkan secara langsung dan ditonton jutaan orang. Untuk membuat hajatan kolosal, Trans memang jagonya. Bahkan untuk urusan rekrutmen karyawan pun, perusahaan yang berkantor di Jalan Tendean Jakarta Selatan ini juga menggelarnya secara massal. Itu terjadi pada 2007.
“Kebetulan waktu itu momennya pas, TV-7 baru saja bergabung dengan kita sehingga butuh banyak orang,” kenang Vice President Corporate Service Divison PT Televisi Transformasi Indonesia Latif Harnoko tentang hajatan yang diikuti 110 ribu orang lebih itu. Sebagai orang nomor satu yang bertanggung jawab atas managemen SDM di Trans, Noko demikian sapaan akrab ayah dua orang anak itu menolak jika rekrutmen massal yang digelar secara terbuka di Senayan kala itu merupakan bentuk show off force. “Tiap tahun kita kalau rekrutmen selalu besar-besaran, cuma waktu itu memang yang terbesar. Biasanya juga besar, 50 sampai 60 ribu orang,” kata dia. “Untuk mencari orang-orang terbaik, saya memang lebih yakin dengan jumlah yang besar, pilihannya jadi banyak,” tambah dia.
Menurut Noko, Trans telah dikenal sebagai “tempat anak muda bekerja”. “Di sini the best university untuk broadcast, once Anda masuk ke Trans, pindah ke tivi lain insya Allah punya added value yang lebih,” ujar dia seraya mengakui, tingkat turn over di Trans memang terbilang tinggi, yakni 200 hingga 250 orang per tahun. Penyebabnya, selain “kerja di TV kalau tak punya passion susah” seperti ditengarai Noko, juga tak lepas dari persaingan antarstasiun TV yang ketat dalam memperebutkan talent terbaik. Noko mengakui, pihaknya tak selalu bisa menahan orang-orang yang keluar untuk pindah ke stasiun TV lain.
“Usaha untuk mempertahankan karyawan tentu ada, tapi kalau ada yang resign karena ditawari di tempat lain lima kali gaji, ya apa kita akan naikin gajinya segitu? Nanti yang lain ikut naik juga. Bagi saya, yang penting kita buat sistemnya. Kami cukup bersaing untuk memberi nilai-nilai kompensasi kepada karyawan. Tiap minggu kita juga ada bonus bagi tim yang acaranya memiliki share yang bagus, dan masih ada lagi reward yang luar biasa di akhir tahun,” papar Noko.
Untuk “reward luas biasa akhir tahun” tadi, Noko memberi ilustrasi begini. Misalnya, target tahun ini 1 triliun, maka jika itu tercapai, karyawan minimal akan mendapatkan bonus satu kali gaji. Tapi, bukan itu yang dikejar karyawan. Melainkan, mereka akan berusaha mencapai pendapatan misalnya 1,2 triliun. Sebab, jika itu terjadi, maka 0,2 triliun sebagai kelebihan dari target perusahaan akan dibagi fifty-fifty untuk manajemen dan karyawan. “Sejak 2007 itu kita terapkan dan transparan sekali. Dengan begitu karyawan terpacu. Tentu juga kita imbangi dengan punishment. Bagi yang tidak bisa mengikuti otomatis akan tersingkir,” jelas dia.
Sistem rekrutmen, serta reward dan punishment, merupakan beberapa hal dari sekian banyak elemen-elemen manajemen SDM yang diubah oleh Noko sejak ia bergabung di Trans Corp pada 2002. Pria yang lahir 42 tahun lalu ini sebenarnya memiliki latar belakang keilmuan di bidang teknologi informasi. Lulusan Universitas Gunadarma yang juga mengantongi gelar MBA dari AIM-Philipine ini meniti karier awalnya di lingkungan perbankan. Pengalaman HR pertamanya terasah ketika ia bekerja di UIB dan terlibat dalam program restrukturisasi organisasi bank tersebut pada 1998-2000. Kemudian, ia kembali ke Bank Universal, tempat ia menginjakkan kaki pertama kali di dunia kerja pada 1996, dan sempat ditinggalkannya karena pindah ke Bank Pelita. Selama dua tahun come back-nya di Universal (2000-2002) inilah, Noko benar-benar menekuni area HR, dengan jabatan terakhir General Manajer HR sebelum akhirnya pindah ke Trans.
“Sebagai orang IT, pertama kali pindah ke HR itu merasa aneh, saya melihatnya bagian ini kok seperti tak punya tujuan, dan itu menarik karena justru membuat saya jadi tertantang,” kenang dia. “Karena saya asalnya dari bisnis, maka lebih cepat beradaptasi,” tambah dia.
Ketika pertama kali datang ke Trans, Noko mengibaratkan dirinya seperti orang yang dikasih kertas putih. “Jadi saya bebas mau ngapain aja, cuma kan kertas putih ini nggak boleh dikotorin, mesti diberi gambar yang bener,” ujar dia. “Saya policy-nya praktis aja, apa adanya. Kalau di mana-mana dibilang HR harus jadi business partner, bagi saya itu artinya HR harus tahu kebutuhan bisnis di masing-masing unit, dan itu artinya saya nggak bisa duduk manis aja. Di sini tiada hari tanpa meeting dan HR selalu terlibat. Saya juga kerja minimal 13 jam, maksimal nggak pulang. Kalau orang HR pulang jam 5, gimana organisasi mau maju? Kalau mau jadi business partner ya harus in blood, ada di mana pun dan tahu apa yang terjadi. Ketika Anda dicari Anda sudah ada di rumah, gimana HR bisa memenuhi kebutuhan perusahaan?” tutur Noko.
Dalam konteks semacam itu, menurut Noko, menjadi orang HR tak bisa hanya berpikir dari sisi HR itu sendiri. “Orang HR itu mengetahui orang lain lebih penting ketimbang tahu mengenai dirinya sendiri. Misalnya, apa saya harus tahu alat-alat tes? Ya harus, tapi itu nggak usah diomongin. Itu udah in blood. Bagi saya yang penting taste. Di mana pun saya selalu bilang, HR said God said. Setidaknya itu cita-cita saya. Kalau nggak gitu gimana orang respek sama kita? Orang HR pengen dianggapnya kayak Mama Loren, apapun omongannya didengar, dan segala keinginannya diwujudin, itu business partner,” tegas dia.
Sudah barang tentu, Noko tak lupa untuk menyebut faktor komitmen dari manajemen atas keberhasilan langkah-langkahnya. “Tak ada organisasi yang sukses karena HR saja, tapi ini kerja tim, terutama komitmen manajemen dan sampai sekarang alhamdulillah (komitmen) itu besar. Jadi kalau ditanya apa (kesuksesan Trans Corp) ini semua peran HR, huallah hualam, karena blanded. Yang jelas, saat ini ada 11 TV nasional dan 50-an TV lokal. Bila Trans bisa survive di tengah persaingan yang sengit, Noko bisa memastikan itu karena kreativitas yang tinggi, cost yang rendah dan kerja yang efektif dan efisien, dan semua itu dikerjakan oleh orang. “Kalau HR salah milih orang, ya nggak yang kreatif dan efektif itu,” tandas dia.
Jumlah total karyawan Trans TV dan Trans 7 saat ini 3500 lebih. Dan untuk pengelolaannya, semua dilakukan sendiri oleh sebuah departemen HR yang memiliki 25 staf. Dari rekrutmen, assessment, training, semua in house. Sebab, Noko melihat, kebutuhan untuk industi televisi memang berbeda sehingga jika menggunakan jasa konsultan sering tidak ketemu antara yang ideal dengan tuntutan di lapangan. “Contoh sederhana saja, di broadcast itu banyak istilah aneh-aneh. Di sini director banyak sekali. Kalau maju jadi director, kerja di broadcast aja,” seloroh Noko.
Selain itu, semua juga kembali ke soal “taste” tadi, dan bukan sekedar “tes”. “Saya kalau interview orang, saya ajak ngobrol-ngobrol santai aja, kadang saya sodori alat musik dan kita main bareng, dari situ saja sudah akan kelihatan seseorang itu jago apa enggak. Dengan taste, saya juga bisa melihat, kalau ketemu orang di mall misalnya, apakah dia punya bakat yang bisa dikembangkan,” ujar Noko.