Jalur Memutar Karir Seorang Otodidak

“Dari dulu kepengennya cepet jadi direktur,” jawab Tony H Silalahi lugas ketika ditanya apa obsesinya ke depan. Duabelas tahun memang bukan waktu yang pendek untuk sebuah penantian. Dalam rentang waktu itulah, Tony menjalani karirnya di PT Astra Internasional. Tahun lalu, ia diangkat sebagai Kepala Divisi Strategic Sourcing Partnership tanpa melepas kursi Team Leader Astra Management Development Institute (AMDI) yang telah didudukinya sejak 1997. “Tinggal menunggu, kapan dioperasionalkan,” ujar dia.
Bisa dijelaskan mengenai AMDI?
AMDI adalah institusi yang didirikan Astra untuk pengembangan manajemen di Astra. Kegiatannya mencakup tiga hal; pertama, management development atau kalau di luaran disebut training; kedua, management improvement atau konsultasi internal di bidang manajemen; ketiga, strategic studies atau  knowledge management. Dalam praktik sehari-harinya, AMDI memberikan training dan konsultasi kepada anak-anak perusahaan yang membutuhkan, misalnya ada yang ingin meningkatkan kinerja sales supervisor-nya, kita bantu dengan usulan-usulan perbaikan dan training. Atau, kalau ada pimpinan perusahaan cabang yang merasa tidak efektif waktu menggerakkan organisasinya, mungkin working atittude-nya nggak bener, di dalamnya nggak harmonis, kita membantu membenahi kulturnya, atau kita memberi konsultasi di bidang, katakanlan, peningkatan, bagaimana menggerakkan seluruh karyawan untuk senantiasa melakukan improvement. Itu bisa atas permintaan, atau kalau kita lihat dari data-data kita, perusahaan itu lemah di bidang tertentu, kita bisa proaktif mendatangi untuk mengenali need-nya.
Sejak kapan itu, Astra merasa perlu menjawab kebutuhan pengembangan karyawan dengan mendirikan AMDI?
Saya lupa persisnya, yang jelas dulu ada Astra Education and Training Center. Berubah menjadi AMDI sejak 1994. Dulu pendekatannya lebih kepada melihat orang sekarang butuh training apa, lalu dilakukan dalam rangka untuk mencapai economic of scale. Jadi, lebih melihat efisiensi pelaksanannya dan current need saja. Diubah jadi AMDI untuk melihat future need, kebutuhan akan datang kayak apa. Selain itu, dulu pendekatannya fungsi per fungsi, sekarang leadership-nya, dalam rangka create leader, bukan sekedar kemampuan fungsional. Dulu hanya melihat isu-isu lokal, sekarang isu-isu global juga, karena sekarang tak bisa dihindari bahwa bisnis kita bagian dari bisnis global walaupun kita bermain di lokal. Dulu in class training, orang diajarin, sudah itu terserah. Sekarang lebih ke action learning, harus bisa menerapkan apa yang dipelajari di kelas. Itu perubahannya yang mendasar, jadi bukan sekedar berubah nama.
Dengan adanya AMDI, karyawan Astra tak perlu lagi dikirim ke luar untuk pengembangan?
Kita nggak akan mungkin mengisi seluruh kebutuhan pengembangan orang hanya melalui AMDI. Karena kebutuhan pengembangan itu kan banyak sekali. Mau seberapa besar lembaga manajemen dibangun dalam organisasi, dan itu mahal. Lalu, mau seberapa ahli kita mengembangkan sendiri training untuk karyawan kita, nggak akan mungkin fokus kalau mau jago dalam semua hal. Dengan pertimbangan itu, nggak semua ada di AMDI, hanya bidang manajemen, yang lebih teknis dan spesifik bidang industrinya, kita serahkan ke yang lebih ahli. Bidang manajemennya sendiri, itu pun, kita nggak akan mungkin dalam segala segi ilmu manajemen akan jago, karena kita bukan orang yang intens menggeluti hari demi hari.
Yang kita pilih untuk kita kembangkan sendiri itu yang kita anggap di luaran orang tidak bisa menyediakannya sebaik kita menyediakan. Misalnya, bidang HR, kita kembangkan sendiri training HR karena kita punya pengalaman panjang men-develop sistem ke-HR-an di Astra, kita sulit mencari di luar. Atau, bidang lain yang sifatnya sangat dipengaruhi oleh kultur organisasi, itu kita kembangkan sendiri, misalnya leadership. Di luar itu, yang kita anggap generik dan di luar ada, ya sudah, orang-orang kita ambil di luar saja, ngapain kita capek-capek dan mahal-mahal mendesain sesuatu yang lebih efektif dan efisien kalau ambil di luar.
Setelah diberi pelatihan dan dikembangkan, apa tindak lanjutnya?
Kita mau sebanyak mungkin training ada dampak, selalu kita usahakan follow up, kita sebut post activity. Orang mengerjakan proyek implementasi dari apa yang dia pelajari, dalam bentuk improvement di tempat kerja. Evaluasinya dari situ, berdampak apa tidak. Misalnya, training untuk calon-calon gen manager, tiga mgu belajar di kelas, mengkaji studi kasus dari berbagai bisnis di seluruh dunia, lalu ujian tertulis, setelah itu tiga bulan mengerjakan proyek di perusahannya sebagai bukti bahwa dia bisa mengimplementasikan ilmu yang dia pelajari. Proyek itu harus yang bersifat bisnis, cross function, harus bisa menghasilkan dampak signifikan bagi perusahaan, bisa diukur, merupakan proyek original yang belum pernah ada. Dia develop proyek itu, diakhir dia bikin laporan, dan hasilnya harus bisa diaktualisasi ke rupiah, show di depan panel. Nilai ujian kelas dan nilai proyek jadi sarat kelulusan dia di training itu.
Lahir di Tarutung, Sumatera Utara, 5 Mei 1963, Tony menyelesaikan studi S-1 di jurusan Teknik Sipil ITB. Begitu lulus pada 1988, ia baru menyadari bahwa pilihannya tidak didasarkan atas minat, melainkan ikut-ikutan. “Sejak kecil saya seneng bisnis. Tapi, ayah saya kontraktor, jadi yang namanya bisnis itu ya (jadi) kontraktor. Dulu saya memang kuper. Belakangan saya baru tahu, oh dunia saya bukan ini,” kenang dia. Hasrat yang kuat untuk menekuni dunia bisnis, mendorongnya melamar untuk jadi management trainee. “Tapi, karena waktu kuliah nggak minat sehingga nilai pas-pasan, nggak bisa tembus,” kenang dia.
Tony pun cari jalan lain: melamar kerja “yang ada bau bisnisnya.” Demikianlah, akhirnya Tony masuk ke United Tractor (anak perusahaan Astra) sebagai staf di Technical Consulting Departement. “Itu di bawah divisi marketing, saya memberi advice bagi customer untuk memilih alat-alat berat, jadi ilmu tekniknya kepakai tapi juga bisa bergaul dengan orang-orang marketing dan sales.” Tony bertahan di perusahaan tersebut selama tiga setengah tahun (1998-1993).
Kesempatan untuk belajar bisnis, khususnya marketing, datang lagi ketika Tony memutuskan untuk pindah ke sebuah perusahan pembiayaan lagi-lagi untuk alat-alat berat. Hanya saja, karena perusahaan tersebut sedang mati suri, Tony hanya bertahan selama setahun. Ketika sedang mencari-cari pekerjaan lagi, Astra sedang membuka lowongan, dan lewat jaringan yang masih ia punyai, ia dipanggil untuk mengisi posisi yang lowong tersebut, yakni AMDI. Saat itulah Tony baru tahu bahwa ketika masih di United Tractor ia sudah diperhatikan dan dipertimbangkan oleh atasan sebagai <I>talent</I> yang bagus.
Apa pertimbangan menerima tawaran masuk AMDI?
Sebenarnya keinginan untuk bisnis masih ada, tapi mau kuliah MM atau MBA nggak punya duit. Ngejar beasiswa nggak ada yang tembus juga. Waktu ada penawaran di AMDI, saya menganggap di sinilah bisa belajar ilmu bisnis. Dari mana? Pertama, dari rotasi antara satu program ke program lain. Di sini juga ada perpustakaan, dari baca sendiri, akhirnya ilmunya bisa ngejar ilmunya orang-orang kuliah MBA. Beberapa kali ketemu Pak Rhenald (Kasali), ngobrol ya nyambung aja. Kedua, dari ngajar orang lain, memaksa kita persiapan dan belajar. Ketiga, belajar dari memberi konsultasi. Beberapa kali memfasilitasi perencanaan strategis perusahaan, menyusun strategi buat tahun depan…itu membuat saya belajar, serta belajar dari teman-teman AMDI.
Di sini banyak jago-jago, saya bisa belajar teori-teori sekolahan dari mereka. Jadi kayak learning organization, ada macam-macam di sini, kayak mini MBA, setiap orang yang masuk jadi belajar banyak. Secara keilmuan, walau tidak terstruktur seperti sekolahan formal, tapi pola pikir bisnisnya telah terbentuk. Sekarang saya manajer program untuk program general manager. Ditambah lagi, AMDI kan di bawah corporate HR karena saya salah satu anggota team leader, kalau diskusi sering ketemu teman-teman dari divisi HR, jadi terisi juga dari segi ilmu HR-nya meskipun lebih ke filosofinya, bukan teknisnya.
Jadi, sudah nggak ingin ngambil MM atau MBA lagi?
Kadang-kadang perlu gelarnya aja hehehe…Sampai dua-tiga tahun lalu masih ingin dan dapat grand tapi tidak penuh, jadi tetap mahal. Dan, kebetulan pas mau berangkat istri saya hamil, saya itung-itung lagi, nggak tega ninggalin setahun. Akhirnya saya putuskan nggak jadi berangkat. Eh, sebulan kemudian istri saya keguguran. Mungkin saya salah juga nggak nekad waktu itu, nggak tahulah.
Mengaku terlambat menikah, kini anak ke-2 dari 8 bersaudara itu adalah bapak dari dua orang putra. Disela wawancara, istrinya menelpon, mengabarkan sesuatu berkaitan dengan apa yang tengah ia kerjakan saat ini. “Saya sedang membangun rumah,” kata dia. Ilmu Teknik Sipil yang dipelajarinya di bangku kuliah, yang secara praktis belum pernah ia amalkan, kini coba ia terapkan. “Saya putuskan untuk kerjakan sendiri, jadi pemilik sekaligus kontraktor.”
Lalu, jabatan baru sebagai kepala divisi Strategic Sourcing Partnership itu?
Secara review saya dinilai ngerti bisnis, jadi saya dicemplungin di situ, untuk me-manage vendor-vendor untuk produk dan layanan tertentu yang dibutuhkan Astra dalam jumlah besar. Kalau ada kebutuhan, kita mulai menyeleksi produk dan vendor-nya, sedangkan pembeliannya dilakukan unit masing-masing. Kita hanya terlibat aspek stratejiknya, operasionalnya ya kita nggak urusin.
Apa harapan untuk karir ke depan?
Akhirnya kembali terserah Yang Di Atas. Tapi, saya punya cita-cita bisa invest untuk bisnis sendiri. Umur sudah segini, tapi liku-likunya begitu ya harus disyukuri. Kalau lihat orang lain yang lebih beruntung, kita nggak pernah puas. Tapi, kalau lihat ke yang lain, ke bawah, kita berskukur dikasih jalur, walau berputar, sebenarnya jauh lebih cukup dibanding kebanyakan orang. Mau lebih tinggi ya pengen, cuman ini aja, di hati kecil berpikir, kalau saya bisa punya posisi yang lebih powerfull, akan lebih bisa mempengaruhi dan berbuat kebaikan lebih besar, bisa karena power jabatan atau keuangan.
Dari AMDI, bisa jadi direktur?
Bisa, karena memungkinkan. Di Astra orang dinilai berdasarkan kinerja, bukan yang lain-lain.