Iwan Setiawan: Orang HR Harus Maju Satu Langkah Lagi

“Kecelakaan!” sahut Iwan Setiawan cepat diiringi tawa lebar ketika ditanya mengenai awal ketertarikannya dengan dunia HR. Dengan jujur, ia mengakui bahwa sebagaimana anak-anak muda lazimnya, dulu yang diincarnya adalah jenis profesi yang “basah” dan “bergengsi” seperti marketing. Maka, ketika akhirnya secara tak terduga justru ditempatkan di divisi HR, ia merasa dihukum.
“Saya protes, nggak bisa terima, saya sampai bilang salah saya apa. Tapi, karena sudah ikatan dinas akhirnya saya terima dengan tekad dalam hati, saya nggak mau lama-lama (di HRD), nanti saya harus pindah, kalau nggak karir saya bisa hancur!”
Iwan mengenang semua itu sambil tertawa, dan semua itu kini memang tinggal cerita yang lucu. Setelah waktu berlalu, baru ia bisa melihat itu sebagai cermin dan berkata, “Ternyata, itu awal kecintaan saya pada fungsi HR, mulai dari <I>training</I>, ternyata menarik, waktu jadi instruktur, berdiri di depan orang, mengajar, itu menarik.” Jika mau diperpanjang, lagi-lagi Iwan akan bilang “ternyata” –bahwa, ternyata sejak itu ia tak pernah pindah ke area lain.
“Dari training saya pindah ke system development, sampai 2001 jabatan terakhir saya Kepala Urusan Organization Development.” Begitulah Iwan berkisah, menapak tilas masa awal menjejakkan kaki di dunia kerja, selepas lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti pada 1994 dan mengikuti Management Development Program di BCA.
Sekarang, terhitung 6 tahun setelah melangkahkan kaki meninggalkan bank besar tersebut, Iwan adalah Business Support Director PT Mega Central Finance, sebuah anak perusahaan baru Grup Para yang antara lain juga memiliki Bank Mega. Perusahaan ini bergerak dalam jasa pembiayaan sepeda motor. “Saya masih baru di sini, karena perusahaan ini juga baru beroperasi September tahun ini,” ujar dia ketika ditemui di kantornya di Wisma 76, Slipi, Jakarta. Boleh dibilang, jabatan Iwan sekarang ini unik, karena membawahi HR dan IT sekaligus.
Perusahaan baru, jabatan baru. Tak ada yang lebih menarik selain bicara tentang tantangan, dan apa yang pertama kali harus dilakukan. Dengan sigap, Iwan bangkit dari duduknya, mengambil spidol dan mulai membuat corat-coret di papan tulis. “Saya punya rencana jangka panjang. Kita sedang mengembangkan semua. Saya ibaratkan piramid, maka tahap pertama, sebagai pondasinya adalah building infrastructure. Di sini kita mesti kembangin yang ada, organisasi kita bangun, ciptakan visi-misi dan budaya perusahaan, masukin orang-orang, bikin aturan main proses ini tidak akan berhenti tapi critical di tahun pertama dan kedua.”
Dalam waktu kira-kira 10 menit, gambar piramida itu telah mewakili apa yang ada di kepala Iwan, tahap-tahap berikut yang akan dilaluinya setelah meletakkan pondasi organisasi tadi. Dijelaskan, tahap kedua adalah development. “Di sini, orang yang sudah ada kita kembangin, sistem diperbaiki.” Tahap ketiga, excellent. “Pada tahap ini, target saya masuk employer of choice, salah satu parameternya orang happy bekerja di sini, dan IT kita dipandang buat di-bench mark di tempat lain.” Fase berikutnya business partner. “Ini terjadi pada tahun kelima, dan HR bukan lagi business support. Pada tahap ini HR sudah in-line dan saya bilang ke organisasi, kita partner.”
Mengaku hobi sharing dan sempat mengajar di almamaternya, serta ditambah pengalaman bekerja di perusahaan konsultan terkemuka Hay Group, tidak heran jika segala yang keluar dari penuturannya terdengar clear, penuh visi, konseptual dan tak jarang inspiratif. Ketika menyinggung soal business partner tadi misalnya, Iwan tampak agak terusik dengan kenyataan betapa di luar sana, idiom itu telah menjadi begitu riuh dan nyaris terjatuh ke dalam jargon.
“Menjadi business partner itu proses yang waktu saya jadi konsultan saya bilang…kalau untuk mendesain itu mudah, tapi implemetasinya yang jadi masalah, artinya untuk sampai tahap ini, butuh waktu, bukan proses membalikan telapak tangan.” Iwan melihat, arus informasi yang begitu kuat telah membuat perusahan dengan sangat mudah mem-bench mark, atau datang ke konsultan, untuk mendapatkan apa yang disebut sebagai best practice.
Lahir di Jakarta, 3 Juli 1971, ayah dari dua orang anak ini telah merasakan perjalanan yang cukup berwarna di dunia HR. Dari industri perbankan (BCA) ia sempat mampir ke Duta Pertiwi, sebuah perusahaan properti dengan jabatan terakhir Manajer HR. Ia juga pernah merasakan duduk di divisi HR perusahaan asuransi, yakni Allianz, dari training manager hingga General Manager (GM) Compensation&Benefit. Kepindahannya ke Hay Group pada 2004 dianggapnya sebagai pendidikan yang paling berharga. Dan, sebelum akhirnya menduduki posisinya yang sekarang, Iwan sempat mampir di Indomobil Finance sebagai GM HR dan General Affairs.
“Pada akhirnya, muara bagi seorang konsultan lagi-lagi harus jadi praktisi,” ujar dia. Taruhlah, itu hanya dalih, yang jelas Iwan memang harus menghadapi tuntutan yang terus berkembang, tidak hanya dari sisi aspirasi karir pribadinya tapi juga kebutuhan untuk lebih punya banyak waktu buat keluarga.
“Yang paling menarik bagi seorang praktisi HR itu bagaimana menyeimbangkan antara hati dan pikiran. Pimpinan HR yang terlalu mengandalkan hati, akan menjadi lemah. Namun, kalau terlalu mengandalkan logika, jadinya terlalu banyak bicara sistem, yang mungkin belum tentu cocok dengan orang-orang. Dengan kata lain, orang HR harus bisa berada di tengah, antara tuntutan karyawan dan kebutuhan perusahaan.”
Di samping itu, Iwan menekankan pentingnya orang HR untuk memahami bisnis. Dalam istilahnya, orang HR harus bisa maju satu langkah lagi dari sebelumnya. “Orang boleh menyebutnya apa saja, HR atau HC, yang jelas harus maju satu langkah. Membayar gaji tepat waktu, saat ini nggak cukup, harus tahu kebutuhan bisnis apa.”
Saat ini, sebagai orang nomor satu dalam urusan HR di perusahaan tempatnya bekerja, Iwan mengelola 300-an karyawan. Dalam bisnis pembiayaan, Iwan memerlukan orang-orang yang memiliki kekuatan di lapangan. “Kita nggak lihat edukasinya harus tinggi, tapi lebih pada sisi perilakunya, pertama harus jujur karena di lapangan mereka berhadapan dengan orang-orang, dan kedua harus taktis.”