Ivan Taufiza: Percaya pada Kekuatan Individu

Pada 1998, berat badan Ivan Taufiza turun 8 kg dalam sebulan. Waktu itu, dia baru saja mem-PHK salah seorang karyawannya di kantor cabang Medan. Tanpa sepengetahuannya, sebulan sebelumnya suami karyawan tersebut meninggal. Padahal, yang bersangkutan sedang hamil. Karyawan itu pun nekad mencoba bunuh diri, dan gagal. “Saya langsung terbang ke Medan,” kenang dia. Dengan uang pribadinya, Ivan membiayai konseling dan pemulihan bekas anak buahnya itu sampai dia bangkit lagi dan mendapatkan pekerjaan baru yang bagus. “Itu pelajaran berharga bagi saya. Kalau saja pada masa itu ada outplacement program…sebelum di-PHK karyawan dibekali dulu supaya siap, bukan hanya dikasih pesangon, selesai. Itu pelajaran paling mahal buat saya.”
Kenyang digembleng pengalaman dari berbagai perusahaan dengan budaya yang berbeda-beda, dalam usianya yang masih relatif sangat muda, Ivan kini telah menjadi seorang pemimpin HR yang “powerful”. “Saya bukan hanya terlibat diskusi dengan CEO atau managing director (MD), tapi bahkan ikut approve transaksi bisnis,” ujar pria yang kini menduduki kursi Head of Human Resources PT APL Indonesia itu. “Jika perusahaan mau invest di sebuah area, saya dan MD yang dateng,” tambah dia. Oleh karenanya, jangan tanya lagi padanya soal peran strategis HR. Ketika banyak pemimpin HR dewasa ini masih terjebak dalam paradigma lama, dan tertatih-tatih mensejajari langkah top management sebagai business partner, Ivan justru sudah bisa berkata, “Bagi kami, HR sebagai mitra strategis itu malah sudah agak lewat.”
Lahir di Jakarta, 27 April 1971, ayah dari dua orang putra (masing-masing 8 dan 6 tahun) ini menamatkan studi S1-nya di Perbanas. Dengan latar belakang keilmuan di bidang finance, Ivan mengawali karirnya sebagai treasury di Sahid Gajah Perkasa, sebuah corparate banking. “Dari hasil program-program pengembangan yang saya ikuti, saya diidentifikasi, katanya bisa berkembang lebih cepat di IT atau HR. Setelah saya ngomong sama atasan, saya disarankan untuk coba dulu di HR. Ya sudah, akhirnya terkutuk di sini (bidang HR -red) sampai sekarang.” Tentu saja, ketika menggunakan kata “terkutuk”, Ivan sama sekali tidak sedang menggambarkan bahwa ia terpaksa menjalani karir di bidang HR. Itu hanya bagian dari gayanya yang humoris, menggebu-nggebu, penuh semangat dan jiwa muda. Kenyataannya, Ivan bahkan mengaku sama sekali “tidak sempat” mengalami masa ketika profesi HR dianggap tidak seksi.
“Bos saya waktu itu sudah advance berpikirnya. HR dilihat secara strategis sehingga perusahaan benar-benar invest untuk mengirim saya training ke AS, Australia, sehingga bekal saya cukup untuk mulai kerja,” ungkap dia. Kendati faktor dukungan dan komitmen dari atasan penting dalam menciptakan sebuah departemen HR yang powerful, namun Ivan percaya bahwa kuncinya tetap terletak di tangan orang HR sendiri. “Bicara power, itu artinya bicara output, bukan aktivitas. Isu besarnya sampai hari ini, orang HR masih bicara aktivitas…sibuk apa enggak, keren apa enggak, heboh apa enggak banyak praktisi HR yang mind set-nya belum bener. Ibaratnya, jangan cuma jadi PKB alias pegawai kacung bule, cuma ngejalanin, jadi suruhan…sampai kapan pun nggak akan powerful.”
Lebih jauh Ivan mengingatkan, sebagaimana profesi lain pada umumnya, HR punya disiplin ilmu, pakem-pakem dan metode-metode. Oleh karenanya, daripada menunggu atau meminta komitmen dari atasan, akan jauh lebih baik jika orang HR balik bertanya pada diri sendiri, sudahkah paham pakem-pakem tersebut? “Ambil contoh proses yang paling awal, yakni rekrutmen, yang bener itu yang gimana? Referensi yang terbaru apa? Orang HR harus mau membaca, mengikuti perkembangan disiplin ilmunya. Cari benchmark-nya, cari best practice-nya.” Dengan semua itu, Ivan bukannya menutup mata bahwa dari sisi bargaining, memang masih banyak orang HR yang belum memiliki kapabilitas yang memadai untuk meyakinkan CEO mereka, sebelum mensejajarkan diri dan melangkah bersama-sama sebagai mitra bisnis. Tapi, ia mengajak orang HR untuk jujur dan instrospeksi bahwa problem besarnya lebih pada perilaku dan mind set orang HR sendiri yang malas.
Ivan tak bosan untuk mengulang dan menekankan pentingnya membaca buku bagi orang HR, untuk mengikuti perkembangan terbaru. “Nggak perlulah baca semua buku, tapi minimal kuasailah satu core competency dari area ini, jangan enggak sama sekali. Sering teman-teman di HR nggak punya itu, sehingga begitu ditaruh di wilayah yang kompleks sedikit, hilang dia di situ.” Dengan kata lain, seorang pemimpin HR harus sudah langsung tahu apa yang akan dilakukannya sejak hari pertama dia bekerja di sebuah organisasi. Atau, dalam istilah Ivan, “argonya harus langsung jalan”, dan itulah yang dia tunjukkan ketika bergabung dengan APL setahun lalu. Dia melakukan banyak gebrakan yang sebelumnya tidak dikenal dalam industri shipping dan logistik baik secara umum maupun di APL sendiri khususnya. Misalnya, dia memperkenalkan sistem pengembangan karir secara zig zag atau lintas-fungsi.
“Di sini saya mencatat, ada tiga alasan karyawan keluar. Yakni, nggak ada karir, pekerjaan monoton dan hubungan yang buruk dengan supervisor. Umumnya organisasi yang sudah tua, kasarannya kalau bos gue nggak mati gue nggak bisa jadi bos, tapi itu kan cara berpikir kuno, melihat karir secara vertikal. Padahal, bisa horizontal atau zig zag, pindah dari satu unit fungsi ke fungsi yang lain. Ini saya berlakukan, rata-rata dua transfer per bulan, dan ini berhasil mengurangi tingkat turn over. Sekarang, nggak ada lagi alasan nggak ada perubahan karir.” Selain itu, Ivan juga mengungkapkan, sebelum dirinya bergabung, tidak ada karyawan APL Indonesia yang ditempatkan di luar negeri. Padahal, APL ada di 200 negera. “Sekarang sudah ada dua orang yang kerja di APL luar negeri.”
Di APL Indonesia yang berkantor pusat di bilangan Tanah Abang, Jakarta Pusat Ivan membawahi 5 staf HR. Jumlah itu meng-cover 450 karyawan yang tersebar di 7 cabang APL di seluruh Indonesia, yakni Jakarta, Medan, Palembang, Lampung, Bandung, Semarang, Surabaya dan Bali. “Saya sendiri report-nya ke MD di sini dan ke HR director untuk Asia dan Timur Tengah yang membawahi 30 negara,” terang Ivan. Sebelum di APL, Ivan telah berpindah-pindah dari berbagai perusahaan yang bergerak dalam industri yang berbeda-beda, dari bank (Putra Surya Perkasa), IT (SUN Microsystem), oil&gas (ConocoPhillips) hingga asuransi jiawa (MLC Life Insurance). Sebelum pindah ke APL, Ivan sempat kembali ke bank, yakni Standar Chartered. Beda perusahaan berarti beda budaya sehingga Ivan juga menerapkan pendekatan yang berbeda-beda dalam menangani pengelolaan karyawan. Namun, sejak di Conoco, dia menerapkan pendekatan strenght based.
“Tipikal pekerja di Indonesia, juga orang-orang HR-nya itu sibuk nutupin kelemahan, jadi nggak tahu kekuatannya, dan kalau pun tahu, nggak ngerti cara menggunakan kekuatan itu secara terus-menerus. Saya hanya fokus pada kekuatan. Setiap individu itu unik. Berangkat dari situ, kalau sudah tahu kekuatan dan bagaimana memanfaatkannya, kompotensinya akan ikut dengan sendirinya. Di sini lagi-lagi saya agak berbeda pendapat dengan teman-teman lain. Dan, kalau kita mau jujur, perusahaan-perusahaan besar yang sukses melegenda seperti Sony…mereka nggak pakai kompetensi, tapi mengindentifikasi strenght tiap individu. Kompetensi dipakai sebagai bahasa universal untuk memudahkan organisasi men-develop orang. Tapi, setelah itu, individu dikembangin sesuai kekuatan unik masing-masing.”
Ivan mengakui, pendekatan tersebut tidak selalu berhasil. “Di beberapa organisasi bisa langsung fit, tapi di tempat lain terjadi bentrokan. Di APL langsung fit karena momentumnya tepat, karyawan dengan masa kerja yang panjang-panjang itu rindu sesuatu yang baru, jadi pendekatan saya cocok. Jadi, tergantung budaya perusahaan masing-masing. Dalam konteks APL sendiri, sesuai dengan jenis industrinya yang menekankan pada pelayanan, Ivan mencari orang-orang dengan kekuatan pada interpersonal skills. “Ibaratnya kita ini jualan mercedes bukan toyota, rate kita 80 hingga 100 dolar lebih tinggi per kontainer dibanding perusahaan lain sejenis. Nah, gimana menjual barang yang sama dengan harga yang jauh lebih mahal, intinya di service. Jadi kita perlu orang-orang yang mental service-nya bagus dan performance driven. Harus dua-duanya dan itu agak sulit mencarinya di pasar industri ini.”
Di luar kesibukan formalnya di kantor, Ivan banyak berkiprah di LSM yang ditekuninya sejak lama. Dari Suara Ibu Peduli, Komnas Perempuan hingga Green Peace. Semangatnya yang menggelora terhadap upaya perbaikan generasi penerus bangsa ia salurkan dengan banyak menulis di media massa dan memberikan ceramah di kampus-kampus. Selain itu, ia juga cukup getol melakukan presentasi di berbagai partai politik untuk menyadarkan pentingnya pemahaman akan konsep-konsep mengelola SDM secara benar. Dan, di luar itu semua, selain gemar nongkrong di gerai-gerai kopi dan Plaza Indonesia dan makan sushi, Ivan masih sempat menekuni hobi fotografi. “Saya senang memotret peristiwa-peristiwa chaos.” Dan, menurut dia, mengelola HR itu sama dengan fotografi. “Yang terlihat belum tentu yang sebenarnya. Gimana kita mengambil angle, itu penting sebelum sampai pada kesimpulan orang ini perform atau tidak.”