Irvandi Ferizal: Mulai dari Mentari sampai Most Talented Global HR

irvandi ferizal

irvandi ferizal

Di antara kelabunya langit dan derasnya hujan di bulan Januari, Irvandi Ferizal, HR Director Kraft Foods Indonesia menyempatkan diri menerima PortalHR di ruang kerjanya di Jalan Warung Buncit Jakarta Selatan. Bersama turunnya derai-derai hujan di luar, kami berbincang hangat dengan Irvandi mengenai sepak terjangnya di dunia HR.

Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran tahun 1991 ini mengawali karirnya sebagai Training & Development di PT. Kalbe Farma. Dia mengaku ketertarikannya terhadap dunia organisasi telah bermula jauh sebelum itu, yaitu sejak dia menyusun sebuah majalah sekolah berjudul Mentari.

Majalah yang disusunnya ketika masih di bangku sekolah menengah pertama itulah yang kemudian membuatnya tertarik pada tata kelola sesuatu sehingga mengarahkannya untuk aktif berorganisasi di sekolah.

“Kadang saya masih suka mikir, ‘kok bisa ya?’” ujar pria kelahiran Padang, 20 Februari 1968 itu.

Aktivitasnya berorganisasi kemudian dilanjutkannya ketika kuliah, dan tidak berhenti di sana, hingga dia masuk ke perusahaan pun seperti itu. “Bawaannya tidak bisa diam,” aku pria yang kini juga menjabat ketua harian Perhimpunan Manajemen SDM (PMSM) Indonesia itu.

Dibayar 5000 perak

Sampai saat ini, sudah 23 tahun Irvandi berkarir di dunia HR. “Kalau ditambah project, magang, mungkin sudah 24 tahun. Dulu saya ikut banyak project. Dibayarnya mulai 5000 perak,” tambah Irvandi sambil mengenang.

“Kerjakanlah apa yang kamu sukai” merupakan pegangan Irvandi untuk tetap bertahan di dunia HR. Sempat beberapa kali ditawari pekerjaan lain, namun Irvandi merasa tidak cocok meskipun ingin sekali mencoba.

“Saya tipikal orang yang selalu meninggalkan legacy,” ujarnya. Ketika pindah perusahaan, dia selalu berusaha untuk meninggalkan sesuatu, yang bermanfaat tentu saja, pada perusahaannya. “Kalau saya meninggalkan perusahaan dengan meninggalkan sesuatu rasanya bangga,” tambahnya.

Selain itu tidak kalah penting harus professional. “Profesional itu artinya mengerjakan sesuatu dengan knowledge dan skill tapi juga harus memiliki etika,” ujar Irvandi seraya memberi nasihat.

“You can contribute, you can make value, you’ll be proud”

Dalam berorganisasi di sekolah, di kampus, maupun dalam bekerja di perusahaan, selalu ada kebanggaan ketika kita mampu membuat sesuatu bagi organisasi atau komunitas kita. “You can contribute, you can make value, you’ll be proud,” ujar Irvandi tentang tips dalam berorganisasi.

Dia memberi contoh ketika masih di Kalbe. “Kita membuat training system mulai dari 0 sampai akhirnya sistemnya bisa baik. Jadi ketika saya keluar, ada yang saya tinggalkan.”

Lain di Kalbe, lain lagi di TNT Indonesia. “Legacy yang saya tinggalkan lebih banyak,” aku Irvandi. Berawal dari membuat sejumlah sertifikasi yang bahkan tidak berhubungan dengan HR, sampai akhirnya membawa TNT Indonesia menjadi pemenang Employee Choice Award selama dua tahun berturut-turut dari HAY Consultant dan SWA Magazine. Bahkan sampai satu minggu sebelum resign, Irvandi dan teamnya masih mendapatkan penghargaan.

Ketika di Nokia Siemens Network sebagai Head of Human Resource, Irvandi mulai bergerak di bidang CSR. Menurutnya, CSR bukan hanya sekadar program filantrofi, tetapi kegiatan ini juga bisa membuat karyawan terlibat dalam program tersebut. “Setelah itu, baru deh saya di sini (Mondelez atau Kraft Foods Indonesia, red),” ujar Irvandi mengisahkan perjalanan karirnya.

Most Talented Global HR Leader

Irvandi belum lama ini mendapatkan penghargaan dari CHRO Asia sebagai salah satu dari 50 Most Talented Global HR Leaders in Asia. Apa sih rahasianya? “Kamu kerja baik aja. Always do your best. Kalau memang kamu kerja baik, engga usah dipikirin, uang itu pasti akan datang. Bisa dari mana aja. Ikhlas aja,” ujar Irvandi mengenai kunci keberhasilannya dalam berkarir.

Menurut Irvandi, masalah dalam kehidupan pekerjaan itu adalah hal biasa. Yang penting adalah bagaimana menjaga semangat agar tidak turun. “Masalah itu biasa. Bisnis ada kalanya turun, tinggal gimana kita jaga semangat kita tetap naik, tidak kehilangan semangat.”

Salah satu hal yang kerap dihadapi di dunia HR menurutnya paling-paling adalah seringkali adanya ketidakpastian dan ketidak jelasan dalam perundang-undangan di Indonesia. Penafsiran undang-undang semenjak reformasi berbeda-beda, ditambah lagi otonomi setiap daerahnya juga berbeda-beda. “Coba kamu bayangkan, kamu punya perusahaan di cabang-cabang seluruh Indonesia tapi budaya tiap cabangnya berbeda-beda, gimana tuh?”

Belum ada standar kompetensi HR

Ketika ditanya tantangan dunia HR saat ini, beliau menjawab bahwa salah satu tantangan di depan mata adalah Indonesia belum memiliki standar kompetensi nasional HR. Apalagi ditambah bahwa sebentar lagi kita akan menghadapi era perdagangan terbuka AFTA 2015.

“Kami di PMSM mencoba merumuskan standar kompetensi nasional HR Indonesia, supaya kita punya standar pas AFTA nanti. Jadi ketika orang luar mau masuk ke kita juga ada standarnya. Kalau tidak memenuhi kompetensi, ya engga bisa,” tegas Irvandi.

Di dalam dunia  bisnis Irvandi mengakui sering terjadi adanya pelanggaran etika. Sehingga hal ini pun membutuhkan HR yang juga harus menggunakan hati nuraninya. “Sederhananya aja, orang HR harus bisa menempatkan diri secara professional, harus juga sesuai dengan UU. Misalnya bayar gaji karyawan harus sesuai, kita pecat orang terus engga dikasih pesangon, engga boleh itu. Yang sederhana aja, misalnya waktu rekrutmen. Kamu mau engga kalo sewaktu-waktu kamu ngelamar kerja, eh ternyata berkasnya besok-besoknya jadi bungkus gorengan? Itu kan etika. File itu kan harusnya dibakar, dihancurkan,” ujar Irvandi memberi contoh.

Irvandi juga menyesalkan angka pengangguran yang masih tinggi di tanah air, yaitu 10%. Di sisi lain perusahaan sulit mencari orang. Karena itulah menurutnya program magang di perusahaan merupakan salah satu solusi terhadap masalah gap talent tersebut. “Makanya program-program magang itu bagus, saya termasuk salah seorang yang aktif mendukung dan membantu program seperti ini,” ujar Irvandi mengakhiri perbincangan sore itu. (*/@aindahf)

 

Tags: ,