Inkawan D. Jusi

Inkawan atau Iwan, arsitek lulusan FakultasTeknik Universitas Indonesia ini memulai karirnya dengan sempat bekerja sebentar di konsultan arsitektur. “Gaji saya dulu waktu jadi arsitek Rp 250 ribu, tapi sudah paling gede dibanding teman-teman saya yang lain, rasanya bangga banget,” Inkawan tertawa.

Salah satu proyek yang dikerjakan Inkawan adalah pembangunan pusat perbelanjaan Tanah Abang yang kemudian memberikan pengalaman berkesan di mana Inkawan muda kemudian menetapkan tekad yang berbeda dari idealisme sebelumnya. Sebagai arsitek, saya tentunya menerapkan ilmu arsitektur yang saya ketahui. Saya mendesain bangunan dengan konsep pengunjung menjadi fokus utama. Lucunya, setelah berbusa-busa senior saya memaparkan konsep dan memperlihatkan desain kepada klien yang punya modal, klien kami hanya bertanya, berapa banyak toko yang bisa diisi oleh tenant. Sekian, jawab kami. Si klien lalu menghitung-hitung dan menyatakan, kurang banyak. Kami diminta mengurangi space-space yang terbuang, termasuk tempat parker untuk dijadikan toko,” Inkawan terbahak. Namun sejak saat itu Inkawan terinspirasi untuk suatu hari bisa berada di posisi sang klien.

Someday, I have to be like him. Saya mau punya usaha dan bargaining power sebesar itu,” katanya. Pada saat bersamaan, Inkawan mendapat tawaran dari orangtuanya untuk meneruskan sekolah ke luar negeri. “Saya lalu ke Illinois untuk mendapatkan gelar MBA,” sambungnya. Berbisniskah Inkawan, sepulangnya dari negeri Paman Sam? Inkawan tertawa, “Tidak, saya bekerja di Citibank kurang lebih selama 4 tahun. Mulai dari cabang, layanan prima hingga ke operasi. Di situ saya belajar banyak tentang perbankan,” sahutnya.

Tahun 1995 Inkawan hijrah ke Bank Universal yang saat itu tengah mengembangkan retail banking-nya. “Di bank Universal ilmu arsitektur saya juga terpakai karena saya menangani network development atau pengembangan cabang dan beberapa titik pelayanan nasabah,” katanya. Dalam koordinasinya, cabang Bank Universal yang saat itu baru berganti logo berkembang 100% dalam waktu relatif sangat singkat. Ini belum termasuk proyek renovasi cabang lama untuk disesuaikan dengan konsep pelayanan baru saat itu. Awal tahun 2003 Inkawan pun beralih industri, dari perbankan ke perusahaan multinasional penyedia jasa portal elektronik. Tidak sulit berubah haluan begitu, Inkawan? “Pada dasarnya saya suka IT. Bahkan saat mengambil MBA saya mendalami computer.

Yang agak sulit bagi saya saat itu adalah saya benar-benar harus mengubah paradigma saya, dari sisi klien ke sisi vendor karena saat itu saya berada di perusahaan penyedia jasa. Jadi sempat tuh ngerasain dikomplain dan dimarahin customer,” Inkawan tersenyum. Sempat satu tahun lebih berada di posisi tertinggi perusahaan tersebut, Inkawan pun hijrah ke Bank Mandiri. “Saat itu ada perubahan struktur kepemilikan yang juga merubah struktur kepemimpinan,” jelasnya.

Di Bank Mandiri, Inkawan bertanggung jawab untuk pengembangan layanan perbankan elektronik bank terbesar di Indonesia itu. “Bank Mandiri sadar bahwa kebutuhan nasabah saat ini bukan hanya bertransaksi di cabang, tetapi juga transaksi yang mudah dan cepat dari mana saja yang bisa dicakup oleh layanan elektronik seperti ATM, internet banking, sms banking, kartu debit. Itu sebabnya kami terus mengembangkan feature-feature layanan ini agar banyak manfaatnya, bukan hanya untuk mengecek saldo atau menarik dana saja, melainkan juga buat transfer dana ke mana saja, membayar apa saja dan bahkan bertransaksi di outlet,” paparnya mirip dengan pesan kampanye layanan elektronik banking yang belum lama diluncurkan Bank Mandiri ini. Bagaimana dengan obsesi bisnisnya? Inkawan tertawa kecil, “Alhamdulillah istri saya yang mewujudkannya. Saya hanya menjadi advisor financial-nya,” ujar suami dari seorang pengusaha garmen yang cukup sukses ini. Apakah bisnis ini salah satu rencana Inkawan ke depan? “Saya belum berpikir begitu, ya. Prinsip saya menjalani apa yang saya kerjakan saat ini,” Inkawan menjawab. Apakah tidak khawatir jika nanti penghasilan istri lebih besar? Inkawan tersenyum. “Takut bagaimana maksudnya? Kebetulan saya tidak percaya pada dualisme kepemimpinan.

Dalam hal ini kami sudah sepakat sejak awal bahwa kepala keluarga adalah saya, jadi saya tetap hal sebagai decision maker dalam keluarga. Walau pada prakteknya seringkali saya juga serahkan keputusan pada istri saya, tetapi rule yang telah disepakati tetap berjalan. Tapi saya bersyukur selama ini saya berhasil mendapatkan kepercayan itu dari istri dan anak-anak saya.” Apakah prinsip itu juga Inkawan terapkan dalam tim kerja? “Sistem kerja dalam organisasi bagaimanapun memang merujuk pada pimpinan untuk suatu keputusan penting. Tapi saya pribadi lebih suka memberikan delegasi penuh pada anak buah saya dan menciptakan atmosfer yang akrab dengan tim kerja.

Sebagai atasan, saya tipe yang moderat. Tapi, tentu saja, untuk menerapkan itu harus ada proses pembentukan kepercayaan, free in this world,” jelas pria yang menyukai olahraga bersepeda, koleksi mobil model, berkomputer, dan membaca buku di waktu senggang ini. Bagaimana dengan prinsip hidup Inkawan sendiri ? Prinsip saya, bersenang-senang dahulu, bersenang-senang kemudian,” Inkawan terbahak. “Maksudnya nikmati saja hidup ini. Syukuri apa yang kita miliki karena itu adalah anugerah bagi kita,” demikian ungkap pria yang mengaku sejak pulang haji menjadi sangat dekat dengan Tuhan. Well, Inkawan, finally we have to tell you that you don’t even look stupid..