Herlina Permatasari: Bagaimana Menjadi Orang HR Sejati?

Seiring dengan semakin populernya profesi HR, para praktisi di bidang ini pun semakin leluasa untuk menemukan jalan karirnya. Namun, bagaimana cara menjadi orang HR yang sejati? Kali ini Corporate HRD Direktur SOHO Group, Herlina Permatasari, bicara. Herlina selalu menekankan kepada anak buahnya yang masih muda-muda, kalau mereka akan pindah ke Perusahaan lain, harus jelas dulu apa orientasinya. Mengejar gaji yang lebih tinggi, boleh saja, tetapi apabila tujuannya adalah menjadi seorang HR yang sejati, maka titik tolaknya adalah pada Pimpinan Perusahaan. Cari Perusahaan yang Pimpinannya peduli dengan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), karena dari situlah menjadi lebih luas kesempatan untuk perkembangan karir.

Belajar dari pengalamannya di tiga perusahaan, Herlina menyimpulkan bahwa komitmen dari Atasan merupakan faktor mutlak bagi keberlangsungan fungsi HR secara maksimal. Kalau dewasa ini orang HR di mana-mana selalu bicara tentang bagaimana menjadi mitra strategis bisnis bagi CEO, maka dalam hemat Herlina, hal itu sebenarnya sederhana saja. HR sebagai mitra strategis bisnis tergantung apakah Perusahaan menempatkannya sebagai business partner atau tidak.

Sore itu, di kantornya di Kawasan Industri Pulo Gadung, di sela kesibukannya Herlina memaparkan lebih jauh mengenai HR sebagai business partner. Setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam isu tersebut. Pertama, Kalau CEO menempatkan HR sebagai mitra strategis, maka Pimpinan HR sama tingginya dengan posisi Pimpinan lain dalam Perusahaan.Kedua, Perusahaan yang menempatkan HR sebagai strategic business partner memiliki mekanisme berkala bagi HR untuk menyampaikan dan mendiskusikan program-programnya dengan seluruh Komisaris dan Direksi lainnya. Ketiga, HR hanya bisa menjadi business partner jika mempunyai peta strategi yang akan dijalankan, berupa program-program yang berdampak pada bisnis Perusahaan.

Sebagai profesional HR yang berlatar belakang ilmu psikologi, Herlina tidak merasa bahwa latar belakang pendidikannya itu menghalanginya untuk mampu menjadi business partner bagi CEO di tempat dia bekerja. “Sebab inisiatif itu datang dari Pimpinan tertinggi, dalam hal ini Presiden Direktur atau Pemilik, kebetulan saya selalu bekerja di Perusahaan yang Pemiliknya concern sekali dengan people atau SDM.

***

Lahir di Solo, 1 Agustus 1973, Herlina menyesaikan studi S-1 bidang psikologinya di Universitas Maranatha, Bandung. Lulus pada 1997, dia tak pernah membayangkan akan menggeluti dunia industri. Namun, dari awal kariernya memang sudah langsung mendarat di wilayah HR. etelah dua tahun bekerja di perusahaan konsultan rekrutmen di Bandung, saya pindah ke Nutrifood. Empat tahun kemudian saya dibajak oleh headhunter untuk pindah ke Etika, itulah pertama kalinya saya masuk ke group bisnis Soho,kenang dia.

Karir Herlina tergolong cemerlang di group perusahaan farmasi terbesar ke-7 di Indonesia itu. Terbukti, baru dua tahun di Etika, dia dipindah ke bisnis unit Soho lainnya, yakni Parit Padang sebagai HRD Manager. Setahun kemudian, tepatnya pada 2006, dia sudah dipromosikan untuk mengisi jabatan Corporate HR Director di SOHO Group. “Dari dulu saya senang interaksi dengan orang. Menariknya di HR itu, kita ketemu sama seribu orang ya itu artinya mesti menghadapi seribu macam keunikan. Sekali pun anak kembar, pendekatannya kan harus berbeda.

Dia menambahkan, “Memimpin fungsi HR itu prinsipnya ya soal pendekatan, bagaimana masuk dengan tepat sehingga orang bisa berkontribusi dengan baik, termotivasi.itu kepuasannya sebagai orang HR, dan di perusahaan ini keleluasaan untuk berkreasi besar, ide-ide pengembangan, program talent buat karyawan, apa saja

***

Sumber daya manusia dalam industri farmasi dewasa ini, menurut Herlina, punya kesempatan luas untuk mengembangkan kompetensinya karena banyak perusahaan farmasi tumbuh, termasuk dari asing. Herlina juga melihat bahwa potensi SDM bidang farmasi di negeri ini cukup besar. Sekarang ini tidak sulit mencari tenaga handal di bidang farmasi karena lulusan farmasi sudah banyak, juga dari kedokteran dan lain-lain.

Herlina membuka berbagai pintu untuk sistem rekrutmennya, mulai dari kerja sama dengan universitas untuk menjaring lulusan-lulusan baru sampai mengembangkan sendiri dari dalam untuk kebutuhan-kebutuhan di level menengah ke atas. “Karena bajak-membajak juga lazim terjadi di industri farmasi maka kita prinsipnya mengutamakan kandidat dari dalam. Untuk tenaga yang langka kita menggunakan jasa headhunter.

Sebagai profesional yang punya pengalaman dibajak, Herlina mengaku tidak terlalu kuatir jika pembajakan menimpa anak buahnya. Saya tanamkan ke mereka untuk senantiasa bertanya pada diri sendiri, apa yang mereka cari. Kalau cuma gaji, ya terus-menerus akan ada yang menawari lebih tinggi. Prioritas seseorang untuk memutuskan pindah Perusahaan harus jelas dulu. Kami mengikuti salary survey, ikuti standar pasar, dan akan selalu ada perusahaan yang tidak mengikuti pasar, berapa pun gaji yang diminta calon karyawan akan diberikan kalau kualifikasinya sudah cocok.

Herlina menambahkan nilai lebih dari SOHO Group, Kalau mau pengembangan karir dan kenyamanan kerja, di sini tempatnya dan ada bukti, angka turn over kita dua tahun terakhir nyaris nol untuk level manajer.

Mengamati penjelasan-penjelasan yang diuraikan, Herlina tampaknya semakin menikmati profesinya, namun bukan berarti dia melupakan begitu saja obsesinya pada psikologi klinis anak-anak yang sejak awal merupakan motivasinya ketika masuk ke Fakultas Psikologi. “Izin praktik saya masih terus saya perpanjang, saya juga masih mengikuti perkembangan psikologi klinis, dan berdiskusi dengan teman-teman. Saat ini anak-anak saya yang menjadi eksperimen implementasi ilmu psikologi saya. Prinsipnya, Herlina ingin semuanya mengalir dulu, menjalani kesempatan yang tengah menghampirinya.