Grace Sabarus dan Seruan Anti-Bullying

Tidak banyak orang seperti Grace Sabarus, menaruh kepedulian pada sesuatu yang belum banyak diperhatikan bahkan disadari orang. Ketika para konsultan HR berlomba-lomba membangun bisnis yang bergerak di bidang pelatihan dan perbaikan sistem, Grace secara sukarela menyediakan waktu dan tenaganya untuk menjadi tempat “curhat” para korban bullying kekerasan psikologis di perusahaan.
“Banyak orang menyamakan bullying dengan kepemimpinan yang buruk, padahal keduanya berbeda. Bullying bukan bad leadership,” ujar Grace membuka percakapan dengan PortalHR.com pada suatu akhir pekan di sebuah pusat keramaian di Jakarta Utara.
Awal “perkenalan” Grace dengan masalah bullying tergolong unik. “Dulu, saya korban bullying, cuma waktu itu saya tidak tahu kalau itu ada namanya,” kenang dia. Bahkan, sampai ketika Grace menjadi seorang konsultan freelance dan mendapati “pasien” dengan indikasi korban bullying, sampai beberapa waktu dia masih belum bisa merumuskan, kecuali hanya meraba-raba korelasinya.
“Jadi, awalnya saya ini konselor yang spesifik menangani perempuan. Mereka yang datang umumnya membawa masalah rumah tangga dan kepercayaan diri yang rendah, Namun, di antara itu ada kasus-kasus di mana seseorang diperlakukan tak semestinya oleh atasan maupun rekan kerja di kantor. Cuma, saya nggak tahu namanya, itu apa? Yang saya tahu, saya (pernah) ngalamin apa yang mereka alami. Jadi, ketika dia cerita, lho itu yang saya alami dulu.”
Grace mengalami bullying ketika bekerja di sebuah perusahaan susu; ia satu dari tiga target bullying yang dilakukan bosnya. “Jadi, para bully itu memilih target yang tidak melawan. Mereka punya insting bahwa seseorang bisa jadi target.” Grace memberi contoh: seorang karyawan yang dibentak bosnya dengan kalimat seperti, “Pekerjaan kayak gitu aja nggak bisa, balik aja ke kampus!” dan, dia diam saja tanpa mampu atau berani membantah, maka yang bersangkutan akan menjadi sasaran empuk bullying.
Kurang-lebih, hal seperti itulah yang dialami Grace. Hingga ia tak tahan dan baru dua bulan bekerja ia mengundurkan diri. “Saya keluar, saya pikir semua sudah selesai. Ternyata dua teman saya tadi lalu menelepon dan jadi pasien saya,” kenang lulusan Politeknik Niaga Universitas Sumatera Utara pada 1989 yang pernah bekerja di departemen HR sejumlah perusahaan (Mattel, Gillette, NEC) dan belakangan menjadi HR Consultant di Daya Dimensi Indonesia, sebelum akhirnya memilih freelance sebagai Emotional Healing Counselor itu.
Selain berkonsultasi, dua rekan kerjanya yang dulu sama-sama menjadi korban bullying itu juga meminta bantuan Grace untuk menjadi saksi. “Mereka akan memasukkan tuntutan ke pengadilan. Tapi, masih bingung juga tuntutannya apa? Kalau pelecehan, kok rasanya enggak juga. Kalau memakai pasal mempermalukan di depan umum, pada dasaranya bullying tidak mengandung unsur itu juga.”
Grace pun mulai pontang-panting ke sana ke mari, dari berkonsultasi dengan pengacara sampai searching di internet. Dari mesin pencari di dunia maya itulah, Grace memperoleh pemahaman bahwa apa yang pernah dialaminya, dan kini menjadi perhatiannya untuk membantu dua rekannya itu bernama bullying.
***
Apakah ini tadinya budaya yang dibawa dari negara Barat Keterbukaan di sana sudah tinggi, selama nggak ada kontak fisik, perkataan sekasar apapun boleh. Jadi, di sana keterbukaan dimanfaatkan orang tertentu untuk mem-bully orang lain. Tadinya saya pikir begitu, kupikir kemungkinan ini datang dari ekspatriat. Tapi, kita ini kan bangsa bekas jajahan. Orang Thailand tidak begini, bahkan laki-laki pun lembut. Jadi, saya mulai berpikir lagi, ini ada kaitannya dengan sejarah suatu bangsa. Pahitnya penjajahan diturunkan pada kita dari para pendahulu kita. Ketika ada perilaku ekspatriat yang masuk ke kita dan berhasil, dan akarnya kita punya, maka kita meniru.
***
Sarcastic joke, mengkritik di depan orang lain, menginterupsi dengan kasar, menatap dengan “mupeng”, memanggil dengan berteriak bukan dalam situasi mendesak, menuduh orang melakukan kesalahan yang tidak dilakukannya, melotot dan menunjukkan antagonisme secara jelas, merendahkan pendapat orang lain, mendiamkan orang lain untuk memutuskan hubungan, menunjukkan mood yang tak terkontrol, tidak mengakui kualitas kerja yang baik meskipun ada bukti, menggosipkan orang lain.
Itulah antara lain sederetan sikap dan perilaku yang tergolong bullying. “Riset di AS, 44% karyawan mengaku pernah mengalami abuse dari supervisor atau bos mereka, dan 64% bilang sebaiknya karyawan yang di-bully bisa menuntut, baik terhadap si bos maupun perusahaan, ke pengadilan dan perusahaan harus mengganti biaya pemulihan atas kerusakan jiwa si korban,” papar perempuan kelahiran 16 Agustus 1967 tersebut berapi-api.
Menurut Grace, sudah saatnya perusahaan-perusahaan di Indonesia menyadari bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk mengindentifikasi setiap karyawannya, apakah dia seorang bully atau bukan. “Karena itu merusak. Makanya, aku sudah bertekad mau ambil bagian untuk sebuah gerakan anti-bully. Mungkin aku nggak bisa mengurusi masalah hukumnya, nggak ngerti. Tapi, aku mau penyembuhan jiwanya.”
Grace menyadari benar, bahwa niat baiknya itu bukanlah sesuatu yang mudah diwujudkan. Oleh karenanya, ia mengharapkan kepedulian berbagai kalangan terkait, terutama tentu saja pihak HRD. “(Kepedulian) itu nggak terlihat di HRD, karena di sini HRD hanya melihat sistem melulu. HRD harus bisa melihat sampai ke dalam, dan mengambil peran dalam anti-bully dengan melakukan asistensi.”
Tak lupa, Grace juga mengetuk kepedulian para konsultan SDM untuk mau terlibat. “Ini memang sangat berat, harus ahlinya banget. Program-program asistensi karyawan booming di Amerika, salah satunya menangani korban bullying, selain masalah-masalah narkoba…ini peluang bisnis baru.”
Grace yakin, dengan adanya kemauan dari pihak-pihak yang terkait dengan manajemen SDM untuk mulai lebih “melihat sampai ke dalam”, akar masalah seorang karyawan yang dinilai tidak perform bisa tersentuh. “Mungkin ada sesuatu yang menghambat dalam jiwanya, entah dari mana, makanya perlu konseling dan pelatihan yang masuk ke jiwanya. Konsultan SDM dan juga HRD mesti masuk ke sana.”
***
Sebagai karyawan yang pernah menelan pahitnya bullying, Grace punya banyak cerita untuk meyakinkan semua pihak bahwa kini saatnya membuka mata bahwa bully ada di sekitar kita, dan diperlukan kepedulian, juga keberanian, untuk melawan dan menghentikannya. Seorang bully bisa siapa saja, begitu pun korbannya.
“Biasanya, seorang bos atau atasan yang bully dulunya diperlakukan sama, misalnya oleh orangtua dalam keluarga, atau pasangan hidup. Bully biasanya juga orang yang nggak percaya diri, jadi berprinsip daripada ditekan orang lebih baik menekan duluan,” jelas Grace seraya menambahkan, bahwa seorang bully umumnya punya kedudukan di perusahaan sehingga bisa melihat peluang untuk menyalahgunakan kekuasaan kepada orang lain.
Bagaimana dengan sasaran para bully itu? Jangan salah, kata Grace. Mereka bukan hanya karyawan baru yang notabene masih culun melainkan orang-orang dengan posisi manajer senior yang capable dan perform pun bisa menjadi korban bullying. Umumnya bully memaanfaatkan lembar penilaian kinerja karyawan, dan korbannya akan mengalami kemunduran motivasi, baik dalam bekerja maupun kehidupan.
Seorang korban bullying dibuat tak berdaya, bahkan untuk menjelaskan apapun menjadi tidak mampu. “Ada rasa ciut yang luar biasa, dan salah satu akibat yang paling gampang dinamai adalah depresi. Efek lain dari depresi, orang jadi kehilangan percaya diri.”
Grace lagi-lagi mengungkapkan pengalamannya sendiri ketika ia mengalami masa yang sulit itu. “Misalnya untuk menyusun proposal saja, orang yang punya bos bully nggak akan pernah yakin bisa bagus. Percaya diri runtuh seruntuh-runtuhnya. Ngerjain presentasi bisa lama sekali, menghabiskan waktu dan energi. Yang paling parah, korban bullying bisa mengalami perubahan personaliti.”
Grace menggambarkan: ketika yang lain pergi makan siang, seorang korban bullying akan berlari ke toilet untuk menangis, atau ke mobilnya lalu berputar-putar tanpa tujuan untuk melepaskan beban. Dalam hal ini, Grace punya tips. Untuk korban bullying yang terpaksa masih harus berhadapan setiap hari dengan si bully, pertama kali harus berusaha menstabilkan diri: fokus, dan komit untuk bekerja sebagus mungkin.
“Tahan emosi; ambil otoritas penuh, aku nggak mau efek perkataan kasar itu menusuk hatiku; kontrol pikiran; konsumsi kata-kata positif misalnya tak perlu takut kalau benar, itu menghibur; alihkan perhatian dari kata-kata bos yang terus terngiang-ngiang misalnya dengan mendengarkan lagu-lagu; temukan kekuatan suka cita, carilah apa yang membuat kita gembira, kalau itu suara anak kita di telpon, lakukan; dan, jangan buru-buru resign, anggap itu tantangan, kalau tak diperlakukan seperti itu, aku tak akan pernah tahu bahwa aku punya karakter yang bisa dibentuk.”
Sedangkan, untuk korban bullying yang sudah lepas dari si bully, Grace menyarankan untuk banyak membaca buku-buku motivasional. “Itu akan membantu kamu menemukan keyakinan bahwa kamu tidak seperti kebohongan yang dikatakan bos-bully-mu. Lengkapi itu dengan berdoa, dan belajar memaafkan.”