General Manager HCM PT Astra Agro Lestari Tbk. Awan Karnajaya

Kalau Anda pernah mendengar bahwa orang-orang yang bekerja dalam perusahaan grup Astra bisa ditempatkan di mana saja sesuai kebutuhan, maka Awan Karnajaya adalah salah satu pengejawantahan dari itu. Dari menjabat sebagai General Manager IT, kini dia menjabat General Manager Human Capital Management di PT Astra Agro Lestari Tbk. Namun, jangan pernah bertanya, bagaimana awal mulanya dia sebagai profesional bidang teknologi tertarik dengan masalah-masalah HR. Kata “tertarik” tidak tepat baginya. Menurut Awan, mengelola HR merupakan kompetensi yang mestinya dimiliki oleh profesional dan pemimpin di bagian apapun dalam perusahaan.
“Saya tidak bisa bilang saya tertarik atau apa dengan HR. Ini memang sudah harus built in dari awal,” kata dia ketika ditemui di kantornya di Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur. Awan berbicara tentang pengalamannya bergelut dengan teknologi yang sering gagal dalam implementasinya karena tidak memperhatikan faktor manusia di belakangnya. Ia berbicara dalam kalimat-kalimat panjang, penuh ilustrasi dan perumpaaan sehingga kadang-kadang terasa melebar begitu jauh. Namun, dengan semua itu, segalanya menjadi jelas, betapa Awan begitu concern dengan bidang yang kini digelutinya, yang menuntut tidak hanya kreativitas otak tapi juga ketulusan hati.
Lahir di Jakarta, 6 Juni 1964, berpendidikan Teknik Listrik Universitas Trisakti dan Teknik Komputer Case Western Univesity, Ohio, ini mengawali kariernya sebagai engineer proyek-proyek IT pada sejumlah perusahaan di AS (1987 – 1989). Kepiawaiannya di bidang teknologi semakin terasah selama ia menjadi konsultan senior bidang IT untuk sejumlah perusahaan di Tanah Air pada 1989 – 1994 sebelum akhirnya bergabung dengan salah satu anak perusahaan grup Astra, PT United Tractors sebagai Senior Manager IT pada 1994. Ketika kemudian dipindahtugaskan ke PT Astra Agro Lestari pada 2002, awalnya ia juga menangani IT sebelum kemudian menduduki jabatannya yang sekarang.
“Saya selalu menempatkan karyawan perusahaan sebagai customer, sehingga berpikir bukan berdasarkan kebutuhan sendiri melainkan kebutuhan unit bisnis yang bersangkutan, dan saya kita itulah yang harus dimiliki oleh orang HR,” ujar dia. Dan, kini, ketika semua orang bicara tentang HR sebagai business partner, menurut Awan, pertama kali orang HR harus memahami perusahaan mau bergerak ke mana, apa strateginya.

“Tugas orang HR melakukan organization alignment ditandas dia. Bagi Awan, HR adalah fondasi, sehingga kalau diminta memilih antara orang dan proses, dia memastikan oranglah yang nomor satu. “People-nya dulu, sehingga kalau ada proses yang tidak benar, bisa diperbaiki sama orangnya. Dengan kata lain, konsepnya bukan hanya lampu merah berhenti atau hijau berjalan, tapi di perempatan jalan harus hati-hati, sehingga kalau lampunya mati, orang sudah ter-develop untuk berhati-hati.”
***
Sebagai pemimpin HR di perusahaan yang bergerak dalam industri perkebunan khususnya kelapa sawit, tantangan utama yang harus dihadapi Awan antara lain membangun kompetensi karyawan yang secara mendasar memang berbeda dengan kompetensi yang dituntut industri lain. “Taruhlah, ketika kita ngomong ekspansi, maka itu artinya kita tak hanya bicara soal ekspansi lahan, tapi perbedaan permasalahan dengan masyarakat yang harus dihadapi di tiap-tiap daerah. Berbeda dengan dunia manufaktur lain yang mungkin tidak terlalu langsung berkaitan dengan hubungan dengan masyarakat, di sini justru itu yang utama, kompetensi lainnya boleh dibilang umum saja,” papar Awan.
Tantangan lain berkaitan dengan best practice. Digambarkan, untuk industri manufaktur lain, contohnya ada di mana-mana, tapi untuk perkebunan apalagi sawit, sulit untuk mencari benchmark-nya. Namun, kalau itu bisa dibilang suatu  weakness, maka Awan menegaskan, justru dari situlah inovasi bisa lahir. Dengan tuntutan-tuntutan semacam itu, pihaknya mengutamakan orang-orang yang memiliki motivasi diri yang tinggi dalam proses rekrutmen karyawan. Diakui, kriteria tersebut cukup susah ditemukan di pasar tenaga kerja, namun, perusahaan siap untuk men-develop sendiri.
Kecuali soal integritas, keterampilan apapun bisa dikembangkan, kelemahan bisa diubah menjadi kesempatan,” kata dia. Diakui, dalam industri agribisnis banyak ditemui orang-orang yang memiliki keunikan, seperti seniman, yang membutuhkan penangangan khusus. Tapi, Awan menegaskan, apa yang disebut khusus itu bukan lantas berarti menganggap orang-orang yang unik itu sebagai “aneh”, yang terpisah sama sekali dari kumpulannya. “Kita cukup mengkombinasikan yang unik-unik itu, mungkin kita taruh di tempat yang membuat mereka tertantang.”
Dalam konteks tersebut, Awan merasakan bahwa mengelola HR itu sendiri juga mengandung unsur “seni”. Oleh karenanya, ia menganggap jika pergeseran yang terjadi dewasa ini, di mana pimpinan HR bisa dijabat oleh profesional dari bidang apa saja, merupakan suatu yang wajar. “Dulu pimpinan HR itu ya harus orang HR. Ya, itu betul, nggak ada salahnya. Tapi, tuntutan bisnis, persaingan dan dinamikanya terlalu fluktuatif, ditambah peraturan pemerintah yang cepat berubah, menghendaki fleksibilitas di mana HR tidak mutlak harus dipimpin orang HR juga. Yang penting orang yang punya visi dan business sense, dan mampu melihat bisnis dari kacamata yang lintas batas.”
Secara umum, sebagai pemimpin HR yang sebelumnya banyak bergelut di IT, tantangan yang juga dirasakan oleh Awan adalah kecenderungan orang untuk enggan berubah. “Teknologi selalu menuntut orang untuk berubah, tapi orang sebenarnya kan tidak suka dengan perubahan, jadi selalu ada misalignmen. Di sinilah pentingnya pemahaman semua pihak terhadap business process. Orang IT harus ngerti HR dan orang HR juga harus melihat persoalannya lebih dekat sehingga tercipta keselarasan antara organization capital, human capitaL dan information capital.”
***
Bicara dengan lulusan Systems Architecture & Digital Telecomm dari Cleveland Institute of Technology, Ohio, AS ini tidak seperti berhadapan dengan “orang teknik” yang umumnya kaku. Sebaliknya, di balik ketegasan-ketegasan pemikirannya yang serba rasional, tersimpan sisi-sisi emosional yang serba positif dalam melihat segala sesuatu. “Saya selalu menempatkan unit bisnis sebagai partner dan berpikir berdasarkan kebutuhan unit-unit bisnis. Dan, sebagai partner, maknanya lebih dari sekedar pertemanan melainkan mem-back-up, dan tidak ingin terjadi hal buruk pada partnernya sehingga mau berkorban, selalu siap dengan, ada yang bisa saya bantu? Nggak nunggu.”
Dengan kata lain, menurut Awan, HR bukanlah help desk melainkan service desk. Oleh karenanya, bagi Awan kepuasan seorang pemimpin HR bukan hanya ketika melihat karyawan yang direkrutnya berkembang. Melainkan, bagaimana mampu mengawal karyawan tersebut hingga sukses dalam berkontribusi terhadap perusahaan. “Kita sudah rekrut orang, kita beri training, lalu harus kita ikuti perkembangannya. Ibarat bayi yang kita lahirkan, jangan kita biarkan belajar jalan sendiri, kita perlu dukung, nah tindak lanjutnya ini yang susah…sekian ratus atau ribu orang, mampu nggak kita?”