FX Sri Martono: Mimpi Tukang Insinyur Si Anak Kampung

fx Sri Martono 2

PERJALANAN hidup F.X. Sri Martono memang panjang dan berwarna untuk diceritakan. Saking berlikunya kisah anak pertama pasangan Johanes Soetardjo Prawiro Soepadmo dan Margaretha Siti Roch Kepareng inilah yang akhirnya menginspirasi sebuah buku setebal 400 lebih halaman berjudul “Unlocking the Hidden Talent.” Buku ini memang buku biografi-nya F.X. Sri Martono yang kini menjabat sebagai Vice President, Chief Corporate Human Capital Development PT Astra International, Tbk. Dan inilah beberapa kisah menarik Sri Martono itu.

Warna kehidupan Sri Martono kecil hingga remaja, memang tak bisa dibilang ‘terang benderang’ atau menyenangkan. Gambaran betapa getir lakon tersebut, Sri muda digembleng di Yogyakarta sudah dengan tanpa kehadiran sang ayahanda yang meninggal dalam usia relatif muda. Beruntung, profesi bapaknya sebagai guru sekaligus penilik sekolah, memudahkan Sri mendapat koneksi pendidikan yang bagus. Sri mengenal dunia pendidikan pertama kali ketika ia terdaftar sebagai siswa di SR (Sekolah Rakyat) Latihan Bruderan, Kidul Loji, yang terletak persis di belakang Kantor Pos Besar dan Bank Indonesia, dua loji atau gedung gede ala arsitektur kolonial yang menjadi ikon kota Yogyakarta.

Tamat SR, Sri yang waktu itu berumur 11 tahun melanjutkan pendidikan di Seminari Petrus Canisius, Mertoyudan, Magelang, sebuah sekolah wahana pendidikan bagi para calon pastor. Namun memang jalan kehidupan itu tidak ada yang tahu pasti. Kelas 4, Sri membuat keputusan penting, yakni keluar dari seminari, dan lantas menuruti kehendaknya yang ternyata lebih gandrung dengan ilmu pasti. Itu artinya ia harus belajar di sekolah umum, dan SMA swasta bernama Kolese Johanes de Britto yang berada di Jalan Solo 161, Yogyakarta menjadi pilihannya. Ia yakin dengan sekolah di de Brito, bisa menjadi jembatan dalam mewujudkan mimpinya untuk jadi ‘tukang insinyur’.

Tak heran, Sri menyimpan gelora semangat untuk bisa masuk ke Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) selepas ia mengantongi ijasah kelulusan dari SMA. Meski sudah mendaftar di kampus idamannya, Sri rupanya harus ‘berpijak pada bumi’ karena faktor klasik, biaya. Ia pun lantas mengiyakan usulan dari orang-orang terdekatnya untuk masuk ke Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Kolese Mikael, Surakarta.

Selain lebih murah dari sisi biaya tentunya, Sri juga berpikir realistis bahwa ia harus segera lulus dan bekerja agar bisa meringankan beban dari pundak ibunya. Ia pun akhirnya menjadi mahasiswa ATMI, terhitung mulai Januari 1970. Awal pembentukan bagi karakter Sri dimulai, karena di sekolah ini, Sri dan kawan-kawan seangkatan menjalani proses belajar mengajar yang disiplinnya super ketat, tegas, keras dan mandiri.

Ia harus terbiasa untuk sepanjang hari di depan workbench, melakukan kerja bangku atau berdiri di depan mesin perkakas manakala menjalankan tugas permesinan. Jujur Sri pun sempat mengeluh. “Apakah kami ini mahasiswa atau kuli?” tanyanya dalam hati. Toh, tekad dan kemauan yang kuatlah yang mendorong Sri menamatkan proses belajarnya.

Tak puas hanya mengantongi ijasah diploma ahli teknik mesin, Sri disarankan ke Bandung untuk mengasah ilmunya. Dengan membawa surat referensi dari dosennya di ATMI, Sri punya dua pilihan: bergabung ke Lab Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) atau ke Metal Industries Development Center (MIDC) Indonesia. Dengan pertimbangan bisa belajar sambil bekerja dan mendapat uang, maka MIDC mantab dipilih Sri. MIDC sendiri setelah kemudian diterjemahkan sebagai Balai Besar Logam Mesin, adalah lembaga pemerintah di bawah Departemen Perindustrian yang bertugas melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan di bidang industri logam dan mesin.

Bekal ilmu Sri dari ATMI menjadi makin matang di MIDC. Mentor sekaligus yang menjadi atasannya adalah Hendrik Van Brussel, ahli teknik asal Belgia dikenal sebagai sosok yang memberikan bimbingan dan arahan yang sarat dengan manfaat. Salah satu poinnya, Sri mahir dan fasih berbahasa Inggris.

Yang cukup membanggakan Sri, di awal tahun pertama, 1973, ia menerima gaji bulanan yang lumayan besar, Rp 5.000. Sebuah angka yang besar karena ini artinya separoh atau sepertiga dari yang jumlah diterima oleh kawan-kawannya alumni ATMI yang bekerja di perusahaan-perusahaan asing di Jakarta. Pengalaman, wawasan, dan pengetahuannya di bidang teknik, utamanya dalam hal die design dan die making yang meningkat pesat, seolah menjadi bonus non-cash bagi Sri yang nilainya bahkan tak terkirakan. Apalagi ia juga terpilih sebagai wakil perusahaan untuk sebuah program beasiswa ABOS (Algemeen Bestuur voor Ontwikkelings Samenwerking), yakni pelatihan teknik di Belgia, selama 8 bulan.

Tak pelak, Sri pun mendapat eksposur internasional, yang kelak sangat berguna bagi karirnya. Sri membuat keputusan penting tak lama sekembalinya dari Belgia, yakni menikahi gadis pujaannya, Sumaryati dan memboyongnya ke Bandung. Pasangan berbahagia tersebut terasa makin lengkap, dengan hadirnya anak lelaki pertama bernama Edo.

Namun demikian, sungguh rejeki orang tidak pernah ada yang tahu. Kariernya di MIDC yang makin cemerlang di MIDC, ternyata suatu waktu justru mengembalikan Sri kepada almamaternya. Ya, karena permasalahn di internal manajemen, membuat Sri mundur dari MIDC dan memutuskan untuk balik lagi ke ATMI pada 1977, yang ternyata di kampusnya sendiri ini, Sri mendapat apresiasi gaji dua kali lipat. Sri pun didapuk sebagai Kepala Biro Teknik, selain juga menjadi staf pengajar. Sri datang pada saat yang tepat, karena ATMI baru merintis sekolah berproduksi, di mana konsepnya selain sebagai tempat belajar, ATMI juga memproduksi alat-alat yang bisa dijual ke masyarakat luas.

Sri pun dengan pertimbangan pengalaman kerjanya, ditugasi menanganani pesanan dari pelanggan, mendiskusikannya dengan biro konstruksi, lalu merencanakan dan mengendalikan proses produksi (production planning and inventory control, PPIC), serta memberikan perkiraan penetapan harga produk sampai pada pengiriman hingga tiba ke alamat pemesan. Alhasil, Sri adalah dosen yang super sibuk. Sampai-sampai, anak keduanya, Yolanda, lahir tanpa ditungguin sang bapak yang waktu itu harus mengajar di kelas.

Di tengah kesibukannya menjadi dosen, suatu hari Sri kedatangan tamu dari Jakarta. Ternyata tamunya itu adalah Hartono, teman satu angkatan sewaktu di ATMI. Setelah melepas kangen dengan obrolan ngalor-ngidul, ujug-ujug Hartono ini menawarkan pekerjaan di Astra. Hingga suatu hari, datanglah sepucuk surat mengikuti tes dan interview di Motor Vehicle Division (MVD), PT Astra International Inc.

Sungguh aneh tapi nyata, Sri nyatanya ditugasi oleh pimpinan ATMI, Romo Cassut untuk mengikuti pelatihan Manajemen Pengawasan di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (LPPM) di Manteng Raya, Jakarta Pusat. Di tengah pelatihan itulah, Sri mendatangi kantor Astra untuk keperluan tes dan interview. Tak sampai dua minggu, Sri dinyatakan lulus dan diterima menjadi karyawan Astra per 5 Januari 1980. Ia pun pamitan ke teman sejawatnya maupun atasan di ATMI, dan dimulailah babak barunya di Astra. Per Aspera ad Astra. (*/Sumber:  Buku “Unlocking the Hidden Talent”)

 

Tags: ,