FX Sri Martono: Mimpi Tukang Insinyur Si Anak Kampung (Bagian 2)

FX sri martono 3

MENAPAKI perjalanan hidup dan karir, bagi Sri Martono, yang kini menjabat sebagai Vice President, Chief Corporate Human Capital Development PT Astra International, Tbk., tak ubahnya seperti menata pola-pola dalam puzzle besar. Setengah kisah karirnya seperti tertuang dalam artikel Mimpi Tukang Insinyur Si Anak Kampung,”  dan berikut ini adalah sebagian penggalan kisah lainnya.

Awal tahun 1980, setelah resmi diterima oleh perusahaan baru, PT Astra International, Sri boyongan bersama keluarganya dari Solo menuju Ibu Kota Jakarta. Dalam serpihan kisah ini, Sri merenung kembali karena ia teringat akan apa yang sudah dilakoninya, mulai dari studi hingga proses pematangan skill-nya, dimulai dari menuntut ilmu di ATMI, bekerja di MIDC, memperdalam ilmu di Leuven Belgia, menjadi dosen di almamater, dan kini yang tengah dihadapi, menjadi salah satu bagian dari perusahaan raksasa otomotif di tanah air, Astra.

Yang menarik dari perjalanan karir Sri, seolah kejadian di ATMI terulang lagi. Tercatat Sri pernah mengundurkan diri dari Astra setelah 11 tahun, untuk menjadi ekspatriat di luar negeri. Sri melanglang buana melalui PT Surveyor Indonesia ke berbagai belahan dunia, mulai dari Inggris, Australia, Singapura, Jepang dan Hong Kong. Exposure international ini pun, menjadi portofolio berharganya. Sehingga ketika ia balik lagi ke Astra, terhitung 1 November 1995, Sri menjadi pribadi yang lebih luas cakrawala berpikir, pengetahuan dan tentu saja relasi internasional. Beragam pengalaman di negeri orang inilah, yang menjadi jalan baginya untuk bersentuhan dengan managing people.

Di berbagai kesempatan, Sri mengemukakan pandangan pribadi maupun sisi perusahaan bahwa karyawan adalah modal berharga yang dapat ditumbuhkembangkan, tidak boleh didiamkan, apalagi disia-siakan. Sri yakin bahwa melalui pengembangan SDM yang baik, akan diperoleh pula kinerja yang baik. Peran HRD pun tak hanya mengurus soal administrasi saja, merekrut, mengurus kontrak kerja, atau hanya sekadar ngurusin klaim asuransi. Lebih jauh, fungsi HRD tak lain adalah mengembangkan talenta setiap karyawan. Dan strategi ini harus bisa dibingkai dalam perencanaan manajemen SDM, sejak karyawan direkrut, dikembangkan kemampuannya, ditingkatkan performanya, serta kontribusi dan komitmen karyawan bisa terjawab dalam rupa kinerja yang selaras dengan strategi bisnis perusahaan sampai karyawan memasuki masa pensiun.

Keseriusan, persistensi dan konsistensi Sri dalam mengelola HRD rupanya mendapat perhatian khusus dari para petinggi Astra. November 2004, Sri diganjar dengan posisi baru, kala ia ditarik ke kantor pusat PT Astra International Tbk untuk menjadi Chief Corporate HR and Management Development(CHRMD). Mei 2005, Astra kembali berganti nahkoda. Michael D. Ruslim diangkat menjadi Presdir menggantikan Budi Setiadharma. Di sinilah Michael mendengung-dengungkan slogan bahwa “people is important,” dan dengan semangat inilah, Sri dipromosikan menjadi Vice President, Chief Corporate HR and Management Development.


Sungguh bagi Sri, ini adalah kejutan sekaligus lompatan besar. Tak pelak, cakupan kerjanya bertambah luas, naik derajat dari sebelumnya hanya sebatas grup ke level korporasi. Kemudian, sesuai dengan peran dan tanggungjawabnya itu, ia diangkat menjadi Vice President, Chief Corporate Organization and Human Capital Development (COHCD).

Sejak itu, Sri mendapat kepercayaan penuh membantu Presdir untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas SDM di lingkup Astra secara keseluruhan, terutama melalui talent management dan leaders creation. Tidak berlebihan, dalam tugas kesehariannya, Sri banyak mengatur jajaran direktur melalui berbagai aturan dan ketentuan yang telah disepakti bersama.

Namun begitu, sungguh garis hidup adalah rahasia Ilahi. Kembali Sri menghadapi masa berduka untuk kedua kalinya. Pada 2005, ibundanya tutup usia. Sri pun harus tegar karena beban di pundaknya kian berat. Melalui momentum ulang tahun Astra ke-50, Sri dilibatkan sepenuhnya oleh Michael untuk melakukan penyegaran kembali Catur Dharma yang terbukti mengantar Astra untuk bisa eksis. Dengan me-rejuvenate Catur Dharma, diyakini keempat pilar komitmen akan kembali bisa mengawal Astra untuk 50 bahkan 100 tahun ke depan. Catur Dharma akan tetap menjadi corporate philosophy, hanya saja penjabaran dan implementasinya senaniasa disesuaikan dengan perubahan dan perkembangan zaman.

Pertengahan Januari 2010, menjadi kenangan tersendiri bagi Sri. Michael Dharmawan Ruslim, CEO sekaligus President Director PT Astra International Tbk, jatuh sakit dan harus menjalani perawatan di RS Medistra. Michael kritis, bahkan mengalami koma. Ia terserang demam berdarah akut. Tak kunjung membaik, Michael diterbangkan ke RS Mount Elizabeth, Singapura, dan takdir pun harus berbicara lain. Meski sempat membezuk ke Singapura, Sri tetap saja kaget mendengar kabar bahwa Michael telah tiada. Tiga tahun terakhir, Sri dan Michael terbilang dekat, baik untuk urusan pribadi apalagi kedinasan. Sri hampir selalu membantu dan mendampingin ke mana Michael pergi. Sri yang juga berkiprah di Secretary of the Remuneration and Nomination Commite, membuat ia layak disebut sebagai partnernya CEO.

Sebelum ditetapkan sebagai Chief COHCD, selama 3 tahun Sri menjabat sebagai VP CHRMD, sehingga kedudukan Sri di Astra International sangat unik dan vital. Sebagai partner CEO ia punya tugas dan tanggung jawab di tiga divisi sekaligus yang ada di lingkup COHCD, yaitu Organization Effectiveness Division, Human Capital Management Division, dan Astra Management Development Institute (AMDI). Sri pun juga bertugas mengkoordinasikan Astra Group Human Resources Comittee yang beranggotakan para HR Director dari grup dan anak-anak perusahaan dan Executive Management Comittee.

Kedekatan Sri dengan Michael juga makin kental ketika 2008, peran HR di Astra International mengalami perubahan besar, dari hanya sebagai strategic business partner kemudian ditingkatkan menjadi partner CEO dalam arti luas. Maka, sepeninggal Michael D. Ruslim, Sri pun disibukkan dengan langkah-langkah konsolidasi dan berbagai persiapan dalam masa transisi untuk mengisi tampuk puncak kepemimpinan di Astra International.

Ternyata, seperti telah diduga sebelumnya, seluruh rangkaian proses transisi berjalan mulus. Ini tak lain karena Astra International telah menerapkan Astra Management System (AMS) dan Astra Human Resources Management (AHRM) dengan sangat efektif dan komprehensif. Sistem tersebut merupakan perpaduan antara kepemimpinan (leadership), pengembangan sumber daya manusia (people development), dan manajemen prestasi (performance management) yang berlandaskan nilai-nilai dalam Catur Dharma Astra. Dari rangkaian proses tersebut, akhirnya didapat sebuah nama yang muncul, yakni Prijono Sugiharto sebagai pengganti yang tepat untuk menduduki dan meneruskan posisi President Director PT Astra International Tbk. (*/@erkoes. Sumber:  Buku “Unlocking the Hidden Talent”)

Tags: ,