Feisal Assegaf: Profit, Profit, Profit…Baru People

Persaingan termasuk kata yang paling banyak disebut dalam dunia bisnis dewasa ini. Dan dunia pertelevisian di Tanah Air merupakan salah satu bidang industri yang paling merasakan dampak dari kata itu. “Profit, profi, profit, people. Mau tidak mau, karena memang dituntut oleh persaingan yang sangat ketat,” demikian HR Relations Department Head PT Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) Feisal Assegaf menggambarkan situasi yang dihadapinya saat ini.
“Karyawan kita kasih training A, misalnya, tapi kalau tiba-tiba trennya turun dan berubah, ya harus mengikuti. Misalnya ketika reality show berubah menjadi realigi,” tambah Feisal mencontohkan. Menurut dia, tidak ada industri yang setiap hari harus selalu melihat rating agar perusahaan tetap mendapatkan iklan yang merupakan sumber pendapatan utama, kecuali industri televisi.
“Sebuah stasiun televisi beroperasi di industri yang sangat dinamis, karenanya kapasitas untuk bertahan hidup dan berkembang lebih baik merupakan salah satu karakteristik yang harus tetap dijaga oleh setiap karyawan,” papar dia.
Feisal melihat, karyawan merupakan salah satu aset paling vital untuk membangun, mengembangkan dan meningkatkan sebuah organisasi. Caranya dengan memberdayakan aset sumber daya manusia melalui model-model pengembangan yang memacu kreativitas dan inovasi. Ini berarti karyawan perlu diberi pelatihan yang sesuai dengan potensi dan bakat yang dimilikinya.
Memulai kariernya di bidang sales, pria kelahiran Bandung, 2 Mei ini mengakui, awalnya terjun ke profesi HR seperti orang yang tida tahu apa-apa. “Ketika masuk baru tahu, ternyata HR itu berat. Sebelumnya yang saya tahu HR itu ya urusan gaji, lembur, absen, tapi kemudian saya belajar bagaimana membuat suatu planning untuk SDM, bagaimana mengelola orang dan meng-handle yang bermasalah. Saya juga belajar tentang model strategi insentif yang baik, dan itu menarik.”
Oleh karenanya, ia merasa perlu menambah ilmunya di bidang HR dengan menempuh kuliah S-2 jurusan Human Resource Management di Universitas Mercubuana. “Ya, meskipun sudah tua tapi timbul motivasi, agar secara konseptual saya tau HR harus ngapain,” kenang ayah dari tiga orang anak yang tersebut.
Dari 1995 hingga 2009, Feisal malang-melintang di industri telekomunikasi, dari jabatan staf senior hinga head of employee relations departemen. Sebelum dan selama itu, Feisal juga pernah bekerja di lingkungan kementerian, tepatnya di bagian publik relations dan juga mengajar di sejumlah kampus. Ketika bergabung dengan TPI pada 1 April 2009, Feisal langsung menduduki jabatannya yang sekarang.
“Dari industri telekomunikasi ke televisi, memang saya merasakan adanya perbedaan karakter pada sumber daya manusianya,” ujar Feisal. “Ibaranya, di sini setahun belum cukup memahami karakter industri televisi yang dinamis dan kreatif, dengan pola kerja yang juga berbeda. Ketika persaingan makin tinggi, kita tiba-tiba harus bikin sesuatu yang baru, di situ tantangannya.”
Namun, dalam hemat Feisal, secara umum interes karyawan di industri apapun sama saja, yakni lingkungan kerja, hubungan atasan-bawahan dan remunerasi. “Di samping itu, kembali lagi bahwa fungsi HR kan melekat di semua manajer, kita ini fasilitas sistem saja, 95%-nya ada di manajer lini. Dan, di TPI peran leader itu jalan, buktinya secara posisi kita cukup bagus,” terang penggemar musik dan traveling yang produktif menulis itu.
Dari sales ke HR, Feisal tidak lantas merasa bahwa apa yang telah dipelajarinya dulu terbuang percuma. Sebaliknya, ia justru berpikir bahwa tak ada yang namanya percuma. Dalam hidup ini, ia menganut prinsip “learn, unlearn, relearn”. “Ada kalanya kita belajar hal baru, dan harus melupakan yang lama karena zamannya berbeda, perubahan sekarang ini seperti roller coaster. Yang udah usang ya sudah, nggak kepake lagi nggak apa-apa,” kata dia.
Satu hal yang mengesankan Feisal dari profesi sebagai HR adalah bahwa tidak ada rumus baku di dalamnya. “Menangi satu orang kadang lebih berat daripada 100 orang,” ujar dia. Jika masih ada obsesi yang berkaitan dengan karier, maka ke depan Feisal ingin bisa berbagi ilmu dengan menjadi konsultan.